Sunday, December 21, 2025

2025

Khotbah Minggu XXIII Setelah Pentakosta - 16 November 2025

Khotbah Minggu 16 November 2025 – Minggu XXIII Setelah Pentakosta

 WASPADALAH, SAATNYA SUDAH DEKAT (Luk 21:5-19)

Bacaan lainnya menurut Leksionari: Yes. 65:17-25 atau Yes. 12 atau Mal. 4:1-2a Mzm. 98 2Tes 3:6-13; Luk. 21:5-19

 

 

Pengantar

Minggu ini kita diberikan nats yang menggambarkan Tuhan Yesus telah tiba di Jerusalem di akhir masa pelayanan-Nya. Setelah selesai melakukan percakapan dan perdebatan di dalam Bait Allah, Tuhan Yesus kemudian hendak meninggalkan tempat itu. Para murid yang umumnya berasal dari Galilea dan jarang berkunjung ke Jerusalem sangat mengagumi bangunan Bait Allah tersebut. Akan tetapi Tuhan Yesus mengatakan kepada mereka bahwa Bait Allah itu tidak lama lagi akan dirubuhkan. Ia juga memberikan nubuatan dan tanda-tanda akhir zaman yang sudah dekat. Kita kembali melihat nubuatan Tuhan Yesus selalu benar dan tepat. Dari apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus kita mendapatkan pelajaran sebagai berikut.

 

Pertama: nubuatan yang terjadi (ayat 5-6)

Bait Allah yang dimaksudkan dalam nats ini adalah tempat ibadah yang menjadi kebanggaan umat Yahudi. Bait Allah ini ada dalam suatu kompleks yang besar dengan luas sekitar 500 x 400 meter. Bait Allah ini pertama kali dibangun oleh Raja Salomo, kemudian diruntuhkan oleh pasukan Babilonia di abad ke-7 SM. Kompleks ini kemudian dibangun oleh Ezra setelah kembali dari pembuangan di abad ke-6 SM, namun dinodai oleh Seleucids di abad ke-2 SM dan tidak lama kemudian dilakukan proses pentahiran kembali oleh Makabe. Setelah itu Bait Allah ini diperluas oleh Herod selama 46 tahun. Banyak sekali benda-benda yang indah dan mahal ditempatkan di dalam bangunan maupun di luar sebagai pajangan, yang umumnya sebagai persembahan dari orang-orang kaya atau penguasa. Oleh karena itu bangunannya sangat indah dan penuh dengan nilai historis.

 

Para murid demikian kaget ketika Tuhan Yesus berkata bahwa Bait Allah itu akan diruntuhkan dan tidak ada satu batu pun yang akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain. Itu suatu nubuatan yang tidak diinginkan oleh mereka. Dengan pondasi yang begitu besar-besar dan kokoh (konon satu batu pondasi berukuran 20 x  5 x 4 meter) hal itu menjadi hal yang sulit dibayangkan. Keindahan Bait Allah yang dilapisi dengan marmer putih dan dihiasi dengan lempengan-lempengan emas memang sangat indah dan tidak percaya akan dirusak. Namun ternyata nubuatan ini terjadi, semuanya menjadi kenyataan ketika jenderal Titus dan pasukan Romawi di tahun 70 M mengepung dan membakar seluruh kota Jerusalem. Bait Allah itu ikut dihancurkan. Ini dapat dianggap sebagai hukuman kepada bangsa Israel karena menolak Tuhan Yesus. Ia telah melihat bagaimana para kaum Farisi dan orang Isreael selama dalam perjalanan menuju Jerusalem dan pertemuan serta percakapan di dalam Bait Allah mereka tidak menerima Dia dengan baik, meski dalam perdebatan Yesus selalu menang.

 

Ini merupakan suatu peringatan kepada kita. Ada beberapa aspek yang perlu kita lihat dan belajar dari peristiwa ini, yakni menghindari gereja-gereja kita membangun fasilitas fisik dengan penuh unsur kemewahan namun tidak ada manfaatnya bagi pertumbuhan rohani umat. Apa yang dihasilkan dari bangunan megah hanyalah kebanggaan yang kosong. Hal itu juga berkaitan dengan ketaatan gereja dalam mengikut Dia, yang tidak hanya melaksanakan ritual ibadah setiap minggu (koinonia) dan mempercantik bangunan, akan tetapi perlunya ketaatan dalam perintah Tuhan Yesus dalam kegiatan-kegiatan diakonia (berupa bakti pelayanan sosial) dan juga marturia (penginjilan dan penyebaran kabar baik) ke luar gedung gereja. Refleksi itu sangat mudah dilihat dari penggunaan anggaran masing-masing gereja, apakah pemakaian anggaran yang ada sudah cukup seimbang untuk ketiga kegiatan utama gereja tersebut. Bahaya yang tidak kelihatan ini dapat suatu saat menjadi bumerang bagi umat Kristen dan kemerosotan dalam misi dan keberadaannya di dunia.

 

Kedua: tanda- tanda akhir zaman (ayat 7-11)

Para murid langsung bertanya dengan dua pertanyaan: kapan itu akan terjadi? Apa tanda-tandanya? Tuhan Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan para murid melainkan memberikan beberapa tanda-tanda dalam nats ini (tanda-tanda akhir zaman atau hari Tuhan dalam Alkitab ada di beberapa kitab dan ayat), yakni akan muncul mesias palsu, terjadinya peperangan dan pemberontakan antara bangsa melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan, bencana alam berupa gempa bumi dahsyat, mewabahnya penyakit sampar dan kelaparan, dan tanda-tanda lainnya, serta yang terutama akan ada penangkapan dan penganiayaan terhadap para murid dan orang percaya dan dimasukkan oleh penguasa ke dalam penjara-penjara.

 

Di sini para murid melakukan kesalahan berpikir dengan menafsirkan bahwa keruntuhan Bait Allah berhubungan dengan akhir zaman dan berpikir bahwa kedua hal itu berhubungan secara langsung. Nubuatan berupa tanda-tanda akhir zaman tersebut tidak harus langsung ditafsirkan secara harafiah, meski dapat ditafsirkan bahwa hancurnya Bait Allah itu menjadi suatu lambang akan kedatangan-Nya kembali untuk menghakimi dunia. Apa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus yakni adanya hubungan antara penghukuman terhadap bangsa-bangsa melalui kehancuran sesuatu dan penghakimam pada akhir zaman. Soal waktunya, tidak harus bersamaan atau berurutan. Ada masa antara yang selalu bisa terjadi. Tuhan yang menetapkan segalanya.

 

Namun para murid mengira bahwa semua itu akan langsung terjadi ketika Yesus menggenapi kemesiasan-Nya. Padahal apa yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus bukan berarti bahwa kesudahan dunia ini sudah dekat, meski Bait Allah itu sendiri akan dihancurkan. Kesalahan ini tidak dapat dihindari sebab kecendrungan kita manusia hanya ingin memenuhi kepuasan sendiri akan sebuah informasi rinci dan justru tidak berminat pada nilai-nilai utama dan manfaat yang kita perlukan. Oleh karena itu Tuhan Yesus memberikan pandangan tentang apa yang mereka perlu lakukan dan memberikan peringatan agar mereka tidak mengikuti mesias palsu dan bersiap terhadap segala kemungkinan buruk yang akan terjadi di hari-hari mendatang. Ia senang memberi tanda-tanda dan manusia diberi hikmat untuk mencari dan mengetahui tanda-tanda yang diberikan (band. Ayat 29-30).

 

Ketiga: diperlengkapi dengan hikmat dan kata-kata (ayat 12-14)

Tuhan Yesus mengingatkan bahwa penderitaan yang para murid akan alami bisa datang dari pengkhianatan anggota keluarga dan teman-teman. Iman dan kesetiaan pada Yesus mungkin membuat keluarga atau teman memusuhi kita. Penggenapan penderitaan yang dinubuatkan Yesus memang terjadi sebagaimana Lukas mencatat banyak hal dalam kitab Kisah Para Rasul. Akan tetapi Yesus tidak membiarkan murid-murid-Nya tidak siap dengan hari-hari yang berat ke depan. Ia meyakinkan para murid bahwa Ia akan terus menyertai mereka, melindungi mereka dan membangun kebesaran kerajaan-Nya bersama dengan mereka. Oleh sebab itu pada akhir abad ke-2 bapak gereja Tertulian menuliskan, darah Yesus adalah benih, sebab para penentang membangun penyebaran kekristenan.

 

Dari catatan kuno yang ada disebutkan bahwa semua rasul mati syahid dengan melewati penganiayaan dan penyiksaan karena nama-Nya (kecuali Yohanes yang meninggal terasing di Patmos). Begitu pula orang percaya terus dikejar dan disiksa sebagaimana yang dilakukan oleh Paulus (Saulus) sebelum ia bertobat dipanggil Yesus. Tapi akhirnya Rasul Paulus menuliskan bagaimana ia bersukacita dengan penderitaan yang dialaminya karena itu membuat dia semakin mengenal Kristus dan Kristus membangun dan bekerja bagi gereja-Nya (Flp. 3:10; Kol. 1:24). Ia mengalami seperti apa yang dikatakan Yesus, menetapkan di dalam hatinya dan tidak memikirkan pembelaannya ketika berhadapan dengan musuhnya. Tuhan Yesus sendiri yang memberikan kata-kata hikmat, sehingga Rasul Paulus tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawannya.

 

Gereja mula-mula berkembang meskipun penuh dengan penderitaan. Penganiayaan dan penindasan fisik adalah jalan kesempatan bagi umat Tuhan untuk bersaksi untuk kebesaran Nama-Nya (Flp. 1:12). Kekristenan dalam setiap waktu harus bersiaga menghadapi kemungkinan seperti ini. Hal ini menjamin bahwa meskipun kita kadang merasa ditinggalkan, Roh Kudus akan beserta dengan kita. Ia akan menghibur, melindungi, dan memperlengkapi kita dengan Firman yang kita butuhkan. Segala penderitaan tetap ada dalam kuasa dan pengendalian-Nya. Jaminan ini memberi kita keberanian dan berpengharapan pada Kristus untuk berdiri teguh dalam situasi apapun yang akan kita hadapi. Dan Ia juga berjanji akan kembali dengan penuh kuasa dan kemuliaan untuk menyelamatkan kita. Apa yang Tuhan Yesus ingatkan dan janjikan kepada para murid juga sama dengan kepada kita untuk mengarahkan pandangan kita untuk kedatangan-Nya kembali.

 

Keempat: tetap  bertahan untuk memperoleh hidup (ayat 15-19)

Tuhan Yesus secara jujur mengatakan bahwa kita tidak akan terhindar dari penderitaan bahkan dapat berupa kematian. Kita harus mengingat bahwa banyak para murid yang mati martir. Hal yang ditekankan Yesus adalah kita tidak akan menderita secara rohani apalagi kita akan mendapatkan kemuliaan kekekalan bersama-Nya. Setiap orang percaya harus melakukan tugas dan panggilannya untuk bersaksi bagi Kristus. Kita diminta memperlihatkan iman kita bagi perluasan kerajaan-Nya, melalui ketekunan dalam berdoa, beribadah dan bersekutu untuk saling menguatkan, melakukan perbuatan baik bagi sesama, kesediaan bersaksi tentang jaminan keselamatan yang kita miliki, dan yang terutama kesediaan berkorban termasuk dalam penderitaan.

 

Kita tidak perlu kuatir akan apa yang akan menerpa dalam tugas panggilan itu. Allah akan memelihara dengan jaminan penuh penyertaan-Nya dan bahkan sehelai rambut pun tidak akan hilang dari kepala kita. Kasih Allah tidak akan terpisahkan dari anak-anak-Nya yang setia. Jaminan yang diberikan oleh Tuhan Yesus adalah jaminan rohani, bukan jaminan jasmani. Dalam arti, walapun berkorban nyawa, kita tidak perlu takut. Di dunia ini semua orang akan mati, akan tetapi mereka yang percaya dan taat akan diselamatkan bagi kehidupan yang kekal. Orang percaya yang setia berjalan dengan Kristus dapat kehilangan nyawanya, tetapi tidak akan pernah kehilangan jiwanya.

 

Inilah tugas gereja yang ditekankan dalam nats ini. Jangan terlalu terpukau dalam pembangunan fisik dan bangunan yang indah mengagumkan banyak orang, tetapi tidak siap untuk berkorban dan menderita bagi yang lain. Orientasi gereja harus selalu berpikir akan hari Tuhan dan kedatangan-Nya. Pertanyaannya bukan soal waktu itu sudah “dekat” atau masih “jauh”. Bait Allah yang digambarkan melalui nats ini adalah sebuah bukti, bahwa penolakan akan kebenaran yang Allah tunjukkan dapat menjadikan keruntuhan dan penghukuman. Gereja-gereja harus bercermin dan terus memberikan yang terbaik bagi pembangunan rohani jemaatnya dan kesiapan bersaksi melalui organisasinya, hamba-hambanya dan terutama seluruh jemaatnya.

 

Penutup

Bait Allah yang demikian megah itu tidak berkenan kepada Tuhan dan akhirnya dibakar dan diruntuhkan. Tidak ada kemegahan yang abadi di dunia ini. Sebagai murid Tuhan Yesus, kita sebaliknya diminta untuk memiliki hati yang selalu terarah kepada-Nya, bukan kekaguman pada keindahan fisik duniawi. Akhir zaman akan selalu tiba dan tidak perlu mempersoalkan jauh dan dekatnya. Hikmat kita untuk mengerti tanda-tanda. Kita dipanggil untuk bersaksi setia dan menjadi berkat bagi sesama, melalui kehidupan pribadi, keluarga dan gereja. Adalah tugas gereja untuk terus mengingatkan pesan Tuhan Yesus, siapa yang tetap bertahan, akan memperoleh hidup (yang kekal).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah (2) Minggu XXIII Setelah Pentakosta - 16 November 2025

Khotbah Minggu 16 November 2025 –

 

Minggu XXIII Setelah Pentakosta (Opsi 2)

 

 

 

BERDOA DAN BEKERJA (2Tes. 3:6-13)

 

 

 

            Firman Tuhan bagi kita pada Minggu XXIV setelah Pentakosta ini diambil dari 2Tes. 3:6-13, dengan judul perikop "Berdoa dan Bekerja”. Sasaran pesan nas ini ada tiga kelompok.

 

 

 

            Kelompok pertama, mereka yang berharap hari Tuhan akan datang segera, melihat dunia berakhir, sehingga tidak perlu (lagi) bekerja keras. Pandangan seperti ini tidak banyak lagi saat ini, hanya terjadi sesekali pada kelompok kecil ekstrim dengan motivasi yang salah.

 

 

 

            Kelompok kedua, mereka yang terlalu mengandalkan doa dalam segala persoalan. Kita percaya Allah ikut bekerja dalam segala hal, tetapi bukan berarti kita menyerahkan semua kepada Allah untuk menyelesaikan persoalan kita, dan kita hanya pasif. Betul, semua perlu dimulai dan didasari doa, dengan tujuan agar Allah berkenan menolong dan memimpin. Tapi jangan dilupakan, dalam doa juga kita perlu berjanji untuk melakukan yang terbaik. Pameo "doa adalah setengah pekerjaan" tidaklah pas, sebab peran Allah tidak layak dimatematisir. Itu hanya polesan dari pameo, "perencanaan yang baik telah menyelesaikan setengah dari pekerjaan." Itu yang betul.

 

 

 

            Dengan dasar doa yang baik dan hubungan yang kuat dengan Allah, peran kita tidak berarti dikecilkan. Upaya yang terbaik dan maksimal dari kita perlu dilakukan, dalam arti seolah-olah "tidak perlu mukjizat" dan Allah senang kita bisa menyelesaikannya dengan baik. Firman Tuhan mengatakan, "Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia" (Kol. 3:23). Do your best and let God do the rest!

 

 

 

            Terlebih bagi kita anak-anak Tuhan, yang dipanggil sebagai saksi dan teladan dalam kehidupan (ayat 7), tidak ada ruang untuk malas. Seorang Kristiani, dalam pekerjaan bila pimpinan meminta output 10, maka berikan 15. Tunjukkan kita mampu. Jangan pimpinan meminta 10 dan hasil yang kita berikan hanya 5, dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal apalagi menyalahkan. Kerja, kerja, kerja, itu hakekatnya, dan awalilah dengan doa. Ora et Labora.

 

 

 

            Nas ini cukup keras mengatakan, jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (ayat 10). Bila tidak menerima nasihat, jangan berkawan dengan mereka (ayat 6, 14-15). Jangan menjadi beban orang lain, yang semua mau gratisan (ayat 8, band. 1Tes. 5:14). Jangan juga sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna (ayat 11), seperti ngobrol omong kosong, debat tanpa data, bergossip, suka iseng, sibuk ikut campur yang bukan urusannya, dan lainnya. Hidup ini lebih baik diisi dengan melakukan hal lain yang menjadi berkat bagi sesama, seperti ayat penutup nas ini: Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik (ayat 13).

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Kabar dari Bukit, Minggu 9 November 2025

Kabar dari Bukit

 

 PENGHARAPAN MENGALAHKAN PENDERITAAN (Ayub 19:23-27a)

 

 ”Tetapi, aku tahu Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit membelaku di atas bumi (Ay. 19:25 TB2)

 

 

 

Tentunya kita tahu kisah Ayub. Ia hidup saleh dan jujur, takut akan Allah. Tetapi iblis ingin mencobainya, dengan anggapan manusia hanya hidup saleh jika diberkati, namun ketika ujian atau cobaan melanda, mereka akan mudah berpaling, lupa dan menyepelekan Allah.

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini sesuai leksionari gereja adalah Ay. 19:23-27a; nas ini tentang keteguhan iman Ayub. Pada pasal sebelumnya Ayub telah dikecam oleh istri dan sahabatnya, memintanya tidak perlu setia kepada Allahnya. Bahkan Bildad menuduhnya, berkat kelimpahan yang diterima Ayub palsu; ia  orang fasik, curang, yang terangnya telah padam, yang diusir ke dalam kegelapan, tidak mengenal Allah dan dienyahkan dari dunia (Ay. 8:5, 18, 21).

 

 

 

Ayub pun sempat goyang imannya dan putus asa, merasa Allah tidak adil terhadapnya (ay. 6), menganggap pasukan Allah telah melawannya (ay. 12). Tetapi ia tidak ingin hidupnya dikenang seperti itu. Ayub percaya kebenaran dan keadilan Allah, yang dicarinya pastilah datang dan kesaksian imannya abadi. “Ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam kitab, terpahat dengan besi pengukir dan timah pada gunung batu untuk selama-lamanya!” (ay. 23-24).

 

 

 

Inilah pesan pertama nas minggu ini, yakni hendaklah hidup kita diisi dan dikenang dengan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan. Janganlah kita meninggalkan dunia ini menjadi ingatan buruk, melainkan dapat mewariskan hal baik minimal kepada anak cucu dan bila ada kesempatan juga untuk orang lain.

 

 

 

Pesan kedua yakni Ayub percaya betul Allah tidak diam, Gusti ora sare. Pandangan manusia bisa salah, keliru, tapi Allah Mahatahu. Ia menegaskan imannya bahwa “Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit membelaku di atas bumi” (ay. 25). Ia tidak peduli dengan penderitaan yang menimpanya meski kematian datang dan tubuhnya menjadi debu. Ayub yakin percaya bahwa Allah akan memihaknya, sebagaimana judul perikop nas ini.

 

 

 

Yesus Kristus adalah Penebus kita. Penebus yang telah membayar lunas dengan diri-Nya tersalib menggantikan diri kita yang seharusnya menerima hukuman. Yesus telah memindahkan kita dari kutuk dosa (Gal. 3:13). Ia menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mat. 20:28), melepaskan kita dari belenggu dosa menjadi orang yang merdeka (Gal. 5:1; Rm. 6:18) dengan jaminan penuh (Yoh. 10:28). Bahkan Yesus mengangkat kita menjadi anak-anak-Nya (Gal. 3:26; 4:5).

 

 

 

Ayub dalam pesan ketiganya meneguhkan kerinduan imannya dengan berkata, “Juga sesudah kulit tubuhku rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah” (ay. 26). Kebaikan dan kemurahan Allah dengan kasih-Nya menebus kita orang berdosa bukan karena “kata orang”, melainkan atas dasar pengalaman rohani yang kuat dengan mengenal dan rajin bersekutu dengan-Nya. “Aku akan melihat Dia memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain” (ay. 27a; Why. 22:4).

 

 

 

Ayub telah mengalami ujian yang berat. Sepuluh anaknya semua mati, kekayaannya ludes dan bahkan tubuhnya penuh penyakit termasuk bisul busuk di seluruh kulit yang menjijikkan. Tetapi Ayub menjalani hidupnya dengan seruan, bukan dengan penjelasan, seperti kata Isaac Newton. Ia tetap setia dan lulus dari ujian dengan kekuatan imannya. Iman dan pengharapan pasti dapat mengalahkan penderitaan. Akhirnya terbukti, Tuhan memberi berlipat-berlipat berkat kepada-Nya, sebab Penebus kita adalah Allah yang Hidup dan penuh berlimpah kasih.

 

 

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah (3) Minggu XXIII Setelah Pentakosta - 16 November 2025

Khotbah Minggu 16 November 2025 –

 

Minggu XXIII Setelah Pentakosta (Opsi 3)

 

 

 

BERSYUKUR DAN BERTANGGUNGJAWAB (Yes. 12:1-6)

 

 

 

“Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku!” (Yes. 12:2)

 

 

 

 

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini diambil dari kitab Yes. 12, berisi enam ayat. Tema pokoknya: “Nyanyian syukur atas keselamatan”. Ini pujian bangsa Israel kepada Allah atas kesetiaan dan pemenuhan janji-Nya, meski kadang Allah murka dan menghukum. Dan kita juga saat ini bersyukur telah diselamatkan melalui Tuhan Yesus, penggenapan semua janji-Nya.

 

 

 

Alkitab menegaskan bahwa setiap manusia dipanggil untuk dua hal. Pertama, dalam Rm. 8, kita dipanggil untuk masuk ke dalam keselamatan dan kebenaran di dalam Kristus. Kedua, pada Kej 1:28, sejak awal bumi dibentuk, manusia dipanggil untuk menerima mandat budaya, mengelola bumi dan juga beranak cucu. Pada 1Kor. 12, dituliskan panggilan untuk berkarya sesuai talenta dan karunia rohani yang diberikan.

 

 

 

Mungkin kita belum melakukan panggilan itu secara optimal, atau kadang gagal, terlebih dengan godaan dunia dan iblis serta ego ingin ditinggikan. Kadang kita mengalami masa-masa sulit, seperti permasalahan keluarga, pekerjaan atau organisasi, atau bahkan sakit-penyakit atau dampak Covid terhadap pekerjaan dan lainnya. Masalah selalu ada, pergumulan datang, tetapi Allah setia dan penuh kasih.

 

 

 

Mari kita datang kepada Yesus Kristus. Prinsip berserah dan memohon bimbingan Tuhan sangat diperlukan, Kita adalah orang lemah dan berdosa yang tidak layak menerima hadiah. Tetapi atas anugerah-Nya kita diselamatkan sesuai dengan iman yang menyelamatkan (Ef. 2:8; Ibr. 11:1; Yak. 2:20).

 

 

 

“Bersyukurlah kepada TUHAN, panggillah nama-Nya” (ay. 3-4a; band. 1Tes. 5:18), itulah prinsip mereka yang sudah diselamatkan. “Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakudus, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu!" (ay. 6). Sukacita diselamatkan dan Allah hadir dalam hidup kita, maka Dialah damai sejahtera kita. “Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan” (ay. 3). Ya, inilah yang disebut menangis gembira sebagai buah bersyukur.

 

 

 

Sebagai orang percaya kita wajib saling mendukung dan menasihati (1Tes. 5:11; Mat. 18:15-20). Pandangan manusia yang sempit dan sangat terbatas, sering dipakai iblis untuk membawa kita jatuh ke dalam dosa. Tetapi Allah tetap baik. “Beritahukanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah, bahwa nama-Nya tinggi luhur!  Bermazmurlah bagi TUHAN, sebab perbuatan-Nya mulia; baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi!” (ay. 4b-5).

 

 

 

Mari kita jalani kehidupan ini sebagai Alkitab yang terbuka bagi orang lain, menjadi berkat dan teladan dengan tindakan dan perilaku sebagai orang percaya, berusaha menjadi manusia unggul dan berkualitas. Jalanilah kehidupan dengan mengikuti etika serta kepatutan, sesuai firman Tuhan dan tradisi yang bernilai tinggi. Itulah hakikat dan bukti bahwa kita telah diselamatkan dan memilki hati yang bersyukur.

 

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

 

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Khotbah Minggu XXII Setelah Pentakosta - 9 November 2025

 Khotbah Minggu 9 November 2025 - Minggu XXII Setelah Pentakosta

 

 IA BUKAN ALLAH ORANG MATI, MELAINKAN ALLAH ORANG HIDUP (Luk. 20:27-38)

 

 Bacaan lainnya menurut Leksionari: 2Tes. 2:1-5, 13-17;

 

Hag. 1:15b-2:9 atau Ay. 19:23-27a; Mzm. 145:1-5, 17-21 atau 17:1-9 atau 98;

 

 

 

Pendahuluan

Minggu ini bacaan kita sudah mendekati masa akhir minggu-minggu pentakosta dan sebentar lagi akan masuk ke dalam minggu adven. Kalau dalam beberapa minggu-minggu terakhir kita diceritakan tentang banyak perumpamaan, maka minggu ini bacaan kita tentang percakapan Tuhan Yesus dengan orang Saduki, yang tidak percaya dengan kebangkitan setelah kematian. Orang Farisi sendiri kesulitan menjawab hal ini kepada orang Saduki, akan tetapi Tuhan Yesus menjawabnya dengan lugas dan langsung ke titik masalahnya. Dari bacaan minggu ini kita diberikan pelajaran hidup sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: perkawinan dan hukum turun ranjang (ayat 28-33)

Dalam perkawinan sistim patriarki, silsilah dan garis keturunan dari laki-laki sangat dijunjung dan berusaha dipertahankan. Hal itu kadang ditekankan untuk menjaga kemurniannya bahkan dapat berlebihan sebagaimana tradisi umat Yahudi yang diceritakan dalam nats ini. Begitu pentingnya garis keturunan dari laki-laki itu sehingga Musa memerintahkan, apabila ada seorang suami meninggal sementara istrinya yakni janda wanita ditinggalkan masih muda, maka hukum Yahudi memperbolehkan adiknya untuk menggantikan suami yang meninggal, memperistri janda kakaknya itu dengan berpengaharapan agar ada keturunan yang meneruskan silsilah tadi (Ul. 25:5-10). Memang ada faktor lain yang membuat tradisi itu dipertahankan, yakni agar harta yang sudah menjadi milik janda itu, tidak dibawa dan menjadi miliknya pribadi atau keluarga pihak wanita.

 

 

 

Sistim ini juga banyak berlaku di dalam adat istiadat kita di Indonesia. Istilah turun ranjang yang berarti mengawini adik istri atau suaminya menjadi umum, baik dalam suku Jawa, Batak, dan suku-suku lainnya. Bahkan di beberapa suku, ketentuan turun ranjang itu tidak hanya berlaku kepada adik atau kakak, bahkan juga bisa dengan paman atau keponakan. Demikian juga, sistim itu tidak hanya berlaku bagi wanita yang ditinggalkan suaminya, melainkan juga bagi suami yang ditinggalkan istri dapat berlaku sistim turun ranjang. Memang kalau dilihat secara hukum positip, moral atau kesopanan, tidak ada yang dilanggar dalam hal itu, sepanjang tidak ada paksaan dan dasarnya adalah saling mengasihi. Oleh karena itu tepat juga yang dikatakan Tuhan Yesus, "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan."

 

 

 

Namun apabila dasar perkawinannya adalah mengenai harta sebagaimana diduga yang menjadi sebagian dasar tradisi umat Yahudi, maka hal itu sangat tidak baik apalagi sampai ada pemaksaan. Allah menciptakan perkawinan atau pernikahan untuk meneruskan generasi manusia dan kebaikannya, bukan mementingkan silsilah, apalagi dalam pengertian sempit harus pernikahan ras atau suku. Dari pengalaman manusia dan juga bukti ilmu pengetahuan, perkawinan dalam satu suku/ras (incest) justru sangat membahayakan karena faktor kesamaan darah dan genetik, sementara perkawinan beda suku atau ras justru akan meningkatkan kualitas generasi berikutnya. Inilah yang menjadi pegangan kita dalam tujuan dan ikatan perkawinan, yakni menghormati keputusan Allah, adanya dasar saling mengasihi, saling menghormati dan terutama untuk melahirkan generasi-generasi baru yang lebih baik di masa mendatang.

 

 

 

Kedua: orang Saduki dan kebangkitan (ayat 27 dan 34)

Kelompok Saduki adalah kelompok konservatif yang hanya mengakui kitab pentatekh yakni Kejadian sampai Ulangan sebagai kitab suci. Mereka menganggap kita lainnya hanya tradisi atau penafsiran para manusia saja dan menempatkannya dengan derajat yang tidak sama. Mereka tidak mengakui kebangkitan sebab hal itu tidak tercatat di lima kitab itu. Memang menjadi pertanyaan yang lazim, apakah ada kehidupan setelah kematian? Kira-kira bagaimana bentuknya? Orang Saduki sebagai kelompok kecil namun merasa cukup intelektual dan elit, juga mempertanyakan hal itu. Sebab menurut mereka, seandainya ada kebangkitan, bagaimana status seorang istri yang memiliki banyak suami? Mereka juga tidak percaya keberadaan malaikat atau  roh sesudah kematian, termasuk kedatangan Mesias (band. Kis. 23:8).

 

 

 

Inilah yang ditanyakan orang Saduki kepada Tuhan Yesus. Tujuan mereka  adalah untuk mempermalukan Yesus di depan banyak orang apabila jawabannya tidak tepat. Orang Saduki mengambil argumentasi, apabila istri yang ditinggal mati itu secara berurutan memiliki tujuh suami di dunia, maka apabila nanti ada kebangkitan, siapakah diantara yang tujuh itu yang diakui sebagai suaminya? Apabila suaminya diakui tujuh orang, maka timbul masalah, yakni bagaimana mungkin di dunia ini yang dilarang oleh hukum Taurat perempuan bersuami lebih dari satu, namun di sorga kemudian diperkenankan?

 

 

 

Memang kalau dilihat secara logika duniawi, pertanyaan orang Saduki ini seolah-olah membuat hal itu menjadi aneh. Akan tetapi Tuhan Yesus menjawab, bahwa manusia dunia saja yang memikirkan perkawinan dan urusan kenikmatan duniawi, gengsi atau status dan garis keturunan seperti itu. Menurut Yesus, di kehidupan nanti situasinya berbeda dengan kehidupan masa kini. Di kehidupan sorga nanti tidak lagi dipersoalkan soal garis keturunan, ikatan suami-istri, kepemilikian harta benda, dan status social duniawi lainnya. Kehidupan sorgawi adalah kehidupan yang hanya berdasarkan roh, bukan fisik atau tubuh duniawi yang membuat manusia berdosa. Dengan demikian, logika orang Saduki bahwa tidak ada kebangkitan setelah kematian menjadi salah. Asumsi yang salah yakni berpikir bahwa kehidupan sorgawi sama dengan duniawi, memang akan membawa kesimpulan yang salah, yakni bahwa tidak ada kebangkitan setelah kematian. Kita harus belajar dari kesalahan cara berpikir yang demikian.

 

 

 

Ketiga: kita akan sama dengan malaikat (ayat 35-36)

Kehidupan setelah kematian termasuk kebangkitan orang mati sangatlah logis dan mudah diterima akal sehat. Dasar yang paling utama yakni manusia melakukan banyak hal di dunia dengan berbagai perbuatan baik atau jahat, baik dan buruk, dengan tingkatan kebaikan dan kejahatan yang tinggi rendah, besar kecil.  Maka, pertanyaannya, apakah semua itu menjadi sama perlakuannya setelah seseorang itu mati? Apakah tidak ada perbedaan atau konsekuensi di antara mereka yang berbuat baik dan jahat, yang berbuat semaunya menyenangkan dirinya sendiri dengan seseorang yang selalu peduli dengan orang lain? Tidak masuk akal, bukan? Alkitab berkata, segala perbuatan seseorang itu tidak akan berhenti, akan tetapi selalu menyertainya dan Tuhan akan membalaskannya (Rm. 2:6; Why. 14:13; 22:12).

 

 

 

Memang kehidupan setelah kematian tidak mungkin berupa kehidupan fisik atau kebendaan. Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah maka secara akal sehat dan tata ruang hal itu akan sangat sulit dibayangkan. Bagaimana mungkin "menempatkan" manusia yang berpuluh atau bahkan nanti ratusan milyar dalam suatu bumi atau planet? Memang betul, Allah bisa menciptakan apa saja, akan tetapi hal itu menjadi sebuah kesulitan diterima oleh akal sehat. Memang ada pandangan agama lain bahwa manusia yang jahat akan terus berinkarnasi hingga mencapai kesempurnaan, sehingga secara teoritis yang menjadi sempurna sampai di sorga hanya sedikit orang saja. Tetapi bagi kita, Allah yang penuh kasih itu tidak "cocok" memiliki pemikiran yang seperti itu.

 

 

 

Maka adalah benar seperti dikatakan oleh Tuhan Yesus, kehidupan setelah kematian yang dibangkitkan adalah tubuh kemuliaan, dalam pengertian yang ada hanya keberadaan roh saja dan bukan tubuh, fisik atau "kasat mata". Tapi itu semua nyata, ril! Inilah maksud yang dikatakan oleh Tuhan Yesus bahwa kita nanti anak-anak-Nya akan menjadi seperti malaikat. Ini juga yang dimaksudkan dengan tubuh kemuliaan, yakni "tubuh tanpa fisik", nyata, ril, serta saling mengenali. Kita akan tahu siapa-siapa yang diselamatkan (Luk. 24:31,39; Mat. 28:9). Kita bisa membayangkan saat Tuhan Yesus bangkit dari kematian-Nya, tubuhnya kadang "menghilang" namun para murid mengenali-Nya. Hal yang utama, keberadaan roh setelah kematian ini tidak lagi mempersoalkan hal-hal duniawi, seperti perkawinan, gairah dan nafsu, anak dan keturunan, makan-minum, dan hal status dan biologis lainnya, sebab semua sudah masuk ke dalam sifat kekal dan sama dengan natur keilahian Allah. Semua sudah bertujuan melayani Allah saja dengan penuh kemuliaan. Ini yang dimaksudkan Tuhan Yesus dalam nats ini, “Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah.”

 

 

 

Keempat: Dia adalah Allah orang hidup (ayat 37-38)

Jawaban Yesus diluar perkiraan orang Saduki, yang merupakan inti kebangkitan yakni mengacu kepada kitab-kitab Musa dengan mengutip Kel. 3: 6 yang menyebutkan kepada Musa: “Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Dalam hal ini Tuhan Yesus memakai logika orang Saduki yang percaya bahwa Abraham, Ishak dan Yakub hidup bersama dengan Allah, sehingga sebetulnya ada kebangkitan orang mati. Jawaban ini jelas menohok pandangan mereka serta membuktikan kebenaran Allah beserta otoritas ilahi-Nya. Bahkan perlu diperhatikan dalam ayat berikutnya, yakni orang Saduki tidak bisa menjawab pertanyaan Yesus tentang kedatangan Mesias (ayat 41-44). Oleh karenanya tidak layak manusia menguji kebenaran Allah hanya dengan pikirannya sendiri.

 

 

 

Jawaban Tuhan Yesus memberi pelajaran kepada kita yakni ketika orang bertanya tentang hal yang seolah-olah tidak akal, misalnya: "Mengapa Allah membiar orang sakit keras berkepanjangan atau kelaparan?" Atau, "Jika Tuhan sudah tahu apa yang kita akan lakukan, apakah kita masih mempunyai pilihan?" Maka sebagai pengikut Tuhan Yesus kita harus menjawab sebisa mungkin dan mencari akar sebab musabab muncul pertanyaan itu. Sering kali mereka bertanya sebenarnya tidak untuk mendapatkan jawaban, tetapi lebih kepada mendapatkan perhatian saja. Oleh karena itu dalam jawaban kita sebaiknya menjauhkan kecurigaan dan masuk ke dalam persoalan pribadi yang mereka hadapi.

 

 

 

Jawaban Tuhan Yesus kepada orang Saduki menegaskan agar kita jangan berpikir bahwa kehidupan nanti di dalam kerajaan sorga merupakan "penerusan" dari kehidupan saat ini. Itu dua kehidupan yang berbeda. Hubungan sesama kita di dunia ini masih terpengaruh dengan kedagingan, waktu, dosa dan kematian, sehingga perhatian kita lebih menonjol kepada hal itu. Kita tidak dapat berpikir tentang sorga dalam sudut pandang dan pemahaman duniawi. Memang kita tidak ketahui semuanya tentang kehidupan nanti, akan tetapi kita tahu bahwa hubungan sesama pribadi nantinya akan berbeda di sini dengan di dunia kekekalan nanti. Kita anak-anak Allah yang dibangkitkan akan mendapatkan kemuliaan bersama dengan Allah. Kematian tidak dapat memutuskan hubungan kita dengan Allah yang Mahabaik itu. Firman Tuhan berkata: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia” (1Kor. 2:9).

 

Kesimpulan

 

Melalui nats minggu ini kita diingatkan kembali tentang kebangkitan kita yang menjadi pengharapan bagi orang-orang yang percaya kepada Allah. Kita di dunia kawin dan dikawinkan dan berpikir dengan cara manusia biasa, akan tetapi kehidupan sorga kelak adalah sesuatu yang berbeda dengan kehidupan saat ini. Kebangkitan itu pasti meski kehidupan nanti tidak seluruhnya merupakan penerusan kehidupan masa kini. Kita percaya bagi mereka yang menjadi anak-anak Allah akan memasuki kehidupan roh yang sama dengan malaikat, sebagaimana dikatakan oleh Tuhan Yesus. Dalam kehidupan seperti itu, maka Allah kita itu benar adalah Allah orang hidup, bukan Allah orang mati, sebab di hadapan-Nya semua orang hidup.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 107 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13194899
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
2407
7291
2407
13157821
95619
129135
13194899

IP Anda: 216.73.216.218
2025-12-21 18:59

Login Form