2026
2026
Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026
Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026
MENGANGGAP YANG LAIN LEBIH UTAMA (Flp. 2:1-13)
Bacaan lainnya: Mat. 21:23-32; Kel. 17:1-7; atau Yeh. 18:1-4, 25-32; Mzm. 78:1-4, 12-16 atau Mzm. 25:1-9;
Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari prinsip umum yang mudah diterima ialah: berkawan lebih baik daripada bermusuhan, dan bersama-sama lebih baik daripada sendiri. Keakraban dan kesatuan yang didasarkan latar belakang dan tujuan yang sama, minat yang sama, seharusnya membuat hidup lebih indah dan setiap rintangan dan tantangan menjadi lebih mudah dilampaui. Akan tetapi hal yang seharusnya mudah itu sering menjadi sulit, ternyata banyak orang (termasuk orang percaya) lebih memilih bermusuhan atau memilih terasing dari persekutuan atau kelompok. Tidak dapat disangkal bahwa kecenderungan manusia untuk menonjolkan diri dan mengharapkan pujian, merupakan dorongan kodrati yang melekat dengan ego masing-masing. Pendorong semua itu adalah egoisme dan tidak adanya keinginan merendahkan diri dengan menerima orang atau pandangan lain yang berbeda. Melalui nas bacaan kita minggu ini, firman Tuhan melalui Rasul Paulus menekankan lahirnya sukacita karena melihat saudara seiman hidup dalam kesatuan, kesehatian, sepikir dan satu kasih. Inilah yang dicoba disampaikan Rasul Paulus sebagai pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan (ayat 1-4)
Pada awal suratnya di pasal 1, Rasul Paulus menjelaskan dengan lengkap perihal pentingnya ungkapan dan sikap rasa syukur, doa, pengorbanan dan perjuangan di dalam menjalani kehidupan. Tujuan semua itu dikatakannya, "sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus" (Flp. 1:10). Filipi adalah kota kosmopolitan. Komposisi anggota jemaat menunjukkan keragaman yang tinggi dengan latar belakang yang berbeda dan juga bidang pekerjaannya. Kisah Para Rasul pasal 16 menggambarkan wajah keragaman yang membuat jemaat unik di masa itu, yakni di antara jemaat ada Lydia orang Yahudi pengusaha kaya dari Asia (Kis. 16:14); seorang budak perempuan yang mempunyai roh tenung, mungkin orang pribumi Yunani (Kis. 16:16-17); seorang sipir penjara yang melayani kekaisaran Romawi dan mungkin orang Roma (Kis. 16:25-36). Dengan begitu ragamnya latar belakang anggota jemaat maka ada potensi perbedaan yang tinggi dan mempertahankan kesatuan kadang lebih sulit. Egoisme dan mementingkan diri sendiri kerap menjadi sumber pertikaian, dan sulitnya mengabaikan jahatnya si Iblis membuat perpecahan gampang terjadi.
Hal itu mudah sekali tampak. Banyak orang – termasuk orang Kristen, berusaha membuat hidupnya berkesan baik bahkan hebat di mata orang lain, yang tujuannya untuk menyenangkan dirinya sendiri. Hal itu dapat kita lihat dari hal sederhana yang saat ini sedang berkembang yakni kesukaan selfie (foto diri sendiri), bahkan sudah tersedia alat khusus seperti tongkat untuk “menyenangkan dan memuji diri sendiri” tersebut. Foto-foto ini kemudian diunduh di Facebook atau sebagai profile picture di HP. Semua itu wajar sepanjang tidak berlebihan dan malah menjadi “kerjaan” rutin yang sia-sia. Sikap seperti ini disebut narsis, meminta perhatian orang lain. Sebaliknya Rasul Paulus menekankan pentingnya kekuatan rohani, meminta jemaat Filipi tidak fokus pada diri sendiri melainkan memberi perhatian dan mengasihi satu sama lain dan menjadi satu dalam Roh. Ia juga meminta agar jemaat sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan. Ambisi yang egoistis atau kesombongan yang sia-sia tidak akan membuahkan apa-apa. Padahal, ketika kita bekerjasama, sebenarnya kita peduli terhadap persoalan orang lain dan membuat persoalan orang lain menjadi persoalan kita bersama. Oleh karenanya, janganlah terlalu pusing mengurusi soal kesan baik dan dipuji melulu untuk kemegahan sendiri dan mengabaikan kasih di antara keluarga jemaat Allah (Rm. 12:10).
Ambisi yang egoistis tidak dikenal dalam kehidupan Kristiani. Egoisme dapat merusak, tetapi kerendahan hati yang tulus akan membangun jemaat. Memberi waktu dan perhatian kepada orang lain jelas panggilan utama bagi pengikut Kristus. Setiap orang harus siap berkorban dalam satu Roh untuk bersekutu dan saling mendukung. Alkitab berkata sifat rendah hati mengekresikan prespektif yang benar akan diri kita (Rm. 12:3). Rendah hati bukan berarti menempatkan diri kita di bawah dan bukan pula memberi hormat berlebihan kepada orang lain. Kita menempatkan kepentingan diri sendiri ke belakang dan memperlakukan orang lain penuh hormat dengan sopan santun yang lazim. Menganggap kepentingan orang lain lebih utama dari pada diri kita menghubungkan kita dengan Kristus yang telah memberi keteladanan dalam kerendahan hati (Flp. 2:3). Di hadapan Tuhan, kita adalah orang-orang berdosa, diselamatkan oleh anugerah-Nya, yang berarti kita diselamatkan karena kita semua berharga di dalam Kerajaan Allah. Rasul Paulus mendorong kita agar melawan egoisme, prasangka, cemburu yang membawa perselisihan dan perpecahan (Rm. 15:5). Memperlihatkan kepentingan orang lain yang tulus adalah langkah positif dalam menjaga kesatuan di antara jemaat. Sikap menganggap yang lain lebih utama menyatukan dan bukan kepentingan sendiri atau puji-pujian bagi diri sendiri yang sia-sia (Gal. 5:26). Roh Allah mampu bekerja bagi siapa saja yang bersedia memberikan dirinya sebagai agen pembawa damai sejahtera (Mat. 5:9; 2Kor. 13:13-dab; Kol. 3:12).
Kedua: Mengosongkan diri untuk merendahkan diri (ayat 5-8)
Yesus Kristus adalah Pribadi yang rendah hati, bersedia mengorbankan diri-Nya demi mematuhi keinginan Allah Bapa dan melayani manusia (Yoh. 17:4). Ia miskin supaya kita menjadi kaya (2Kor. 8:9). Inkarnasi adalah tindakan pre-eksistensi Anak Allah yakni Yesus yang rela menjadi manusia dan memiliki sifat-sifat manusia. Ia sudah ada sejak awal (Yoh. 1:1; 8:58; Kol. 1:15-17). Dia tidak meninggalkan ke-Allahan-Nya dengan menjadi manusia tetapi menyampingkan hak-Nya yang penuh kuasa dan dimuliakan (Ibr. 5:8). Untuk menggenapkan tujuan sesuai rencana-Nya, kesetaraan dengan Allah itu tidak dianggap sebagai harga yang harus dipertahankan (dalam ayat 6 dan 7 nas ini dipakai kata morphe untuk menjelaskan rupa yang menunjukkan suatu ungkapan permanen tentang sifat-sifat hakiki, sedangkan dalam ayat 8 dipakai kata schema yang lebih mengacu pada penampilan lahiriah yang bisa berubah-ubah). Hal yang membuat kemanusiaan-Nya unik adalah Ia bebas dari dosa. Di dalam kesejatian-Nya sebagai manusia, Yesus memperlihatkan kepada kita tentang karakter Allah yang dapat dimengerti dan dimaknai oleh manusia (untuk memahami inkarnasi lebih lanjut dapat membaca Yoh. 1:1-14; Rm. 1:2-5; 2Kor. 8:9; 1Tim. 3:16; Ibr 2:14; 1Yoh. 1:1-3). Yesus sebagai Anak Allah mengosongkan diri-Nya. Mengosongkan diri berarti membuat diri sendiri tidak sama sebagaimana adanya, seperti kita berbicara kepada anak kecil maka untuk lebih efektifnya komunikasi, kita juga harus bersikap seperti anak kecil, meski hal itu tidak menghilangkan diri kita sebagai orang dewasa. Dengan pengosongan diri-Nya itulah pengorbanan diberikan dan itu yang membuat terwujudnya keselamatan bagi kita semua orang percaya. Sikap pengosongan diri itu pula yang diminta dari kita untuk lebih mampu mewujudkan kasih kepada orang lain.
Pengosongan diri Yesus menghilangkan hak dan keistimewaan juga kerelaan menerima penderitaan, penganiayaan dan kematian yang terkutuk di salib. Mati di kayu salib adalah bentuk hukuman yang dilakukan oleh pemerintahan Romawi bagi penjahat berat. Penyaliban itu sungguh luar biasa menyakitkan dan merendahkan martabat. Seorang tahanan yang dipaku dan diikat di kayu salib biasanya dibiarkan sampai mati. Kadang kala kematian tidak datang cepat, perlu beberapa hari, dan kematian datang ketika berat tubuh yang melemah membuat semakin sulit untuk bernapas. Yesus menerima mati seperti itu sebagai lambang kutukan (Gal. 3:13). Sungguh mengherankan, manusia yang sempurna harus mati dengan cara yang memalukan agar kita tidak menghadapi penghukuman yang kekal. Yesus dari Nazaret telah menempatkan diri-Nya sesuai dengan tempat, waktu, dan keterbatasan manusiawi lainnya. Sikap kerendahan hati Yesus ini berarti mengabaikan diri sendiri dan membuatnya tidak berarti, dan di luar dirinya lebih penting dan rela untuk berkorban. Kepentingan diri sendiri merupakan hal terakhir. Keteladanan dari kerendahan hati Yesus ini memberi pelajaran penting bagi kita, sekaligus memberi peringatan bahwa kita adalah manusia berdosa, memiliki kelemahan diri, tidak layak untuk berbangga (Mat. 11:29; Luk. 18:9-14; Yak. 4:6).
Memang, acapkali manusia berusaha membenarkan atau memberi maaf atas sikap buruk yang dimilikinya, seperti egoisme, kebanggaan, atau kejahatan lainnya; bahkan mengklaim hal itu adalah haknya. Mereka berpikir, "Saya boleh berbuat curang dalam ujian ini, setelah ini kan saya tidak di kelas ini lagi"; atau, "Saya boleh dong membelanjakan semua uang saya sebab saya sudah bekerja keras untuk itu"; atau, "Saya boleh melakukan aborsi, saya kan berhak mengatur tubuh saya sendiri." Akan tetapi sebagai orang percaya kita harus memiliki perilaku yang berbeda, yang mampu mengenyampingkan kepentingan kita sendiri untuk melayani dan memberi contoh bagi yang lain. Jika kita mengatakan mengikut Kristus, kita juga harus mengatakan kita hidup sama seperti Dia. Pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus harus ada dalam diri kita. Kita perlu ingat, kitalah yang memilih perilaku kita sendiri. Semua dapat dilihat, dicermati, dievaluasi dan bahkan diubah. Pilihannya, kita dapat menjalani kehidupan ini dengan berharap terus dilayani, atau kita mencari kesempatan untuk melayani orang lain. Inilah yang ditegaskan-Nya dengan berkata: “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:28; Mrk. 10:45). Apakah kita bersikap egois dengan terus melekatkan hak-hak kita, atau kita ingin melayani orang lain? Apakah kita hanya mencari puji-pujian yang sia-sia, terus mengurusi kepentingan diri sendiri dan melupakan kepentingan orang lain?
Ketiga: Segala yang ada bertekuk lutut dalam nama Yesus (ayat 9-11)
Ayat nas ini kemungkinan berasal dari lagu-lagu pujian di masa awal gereja. Pesannya paralel dengan nubuat dan penderitaan hamba dalam Yes. 53. Sebagai lagu pujian, maka pernyataan itu tidak berarti harus lengkap penggambaran tentang sifat dan pekerjaan Kristus. Beberapa karakteristik utama Yesus Kristus dipuja dalam pujian ini, yakni Yesus Kristus selalu ada bersama Allah sebab Kristus adalah sama dengan Allah dan Dia adalah Allah (band. Yoh. 1:1-dab; Kol. 1:15-19). Ia menjadi manusia mengorbankan hak keilahian dan keistimewaan-Nya untuk menggenapi rencana keselamatan dari Allah bagi seluruh manusia; dan Kristus tidak hanya menampakkan diri sebagai manusia, tetapi Ia menjadi manusia sejati untuk mengidentifikasi tanpa dosa. Semua itu dilakukan-Nya oleh kasih untuk Bapa-Nya dan untuk kita manusia yang mau bertobat dari segala dosa-dosa kita. Dalam kemanusiaan-Nya, Yesus mengalami penderitaan yang demikian hebat dan bahkan sampai meminta agar cawan penderitaan itu berlalu dari-Nya dengan memohon, “Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu! (Mat. 26:39, 42). Oleh karena ketaatan-Nya, Allah memuliakan-Nya dengan membangkitkan Yesus dari kubur dan mengembalikan kedudukan-Nya di sebelah kanan Allah Bapa, dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama dan digelar sebagai TUHAN, Kurios, nama Allah dalam Perjanjian Lama yang menurut pengertian Ibrani menunjuk kepada kedudukan dan kemuliaan (Kis. 2:36; Rm. 14:11; band. Yes. 45:23). Allah yang mengangkat-Nya ke sorga kemudian menunjuk Yesus berkuasa selamanya dengan menjadi Hakim bagi manusia (Ef. 1:21; Ibr. 1:4; Kis. 10:42; 17:31).
Perjanjian Lama menggambarkan Musa dan Salomo sebagai hakim-hakim yang penuh hikmat, di samping beberapa hakim-hakim pada masa sebelum raja-raja. Ini sama seperti hakim Artidjo Alkostar di Mahkamah Agung RI yang dianggap hakim "adil", memahami rasa keadilan rakyat dengan menghukum berat para koruptor bila mereka kasasi. Namun mereka semua adalah hakim di dunia. Sebagian bukti atau fakta mungkin tersembunyi dan tidak terungkap, sehingga bisa muncul rasa tidak adil. Ini berbeda dengan pengadilan akhir, sebab semua fakta terbuka. Yesus adalah Allah Mahatahu sehingga pertimbangan-Nya pasti adil. Oleh karena itu pada pengadilan akhir zaman, semua orang termasuk yang dihukum akan mengaku kekuasaan Yesus dan hak-Nya untuk memutuskan. Bukan hanya orang Kristen yang percaya, melainkan juga mereka yang tidak percaya atau menyangkal-Nya. Dengan kedudukan yang demikian diberikan Allah kepada Yesus, maka semua makhluk yang ada di bumi, di langit di atas, dan yang ada di bawah bumi akan bertekuk lutut untuk menyembah Dia (pengertian alam semesta raya pada saat itu terbagi atas tiga wilayah: bumi, langit sebagai atas bumi dan bawah bumi tempat yang gelap - band Kis. 5:3, 13). Dengan kedudukan yang demikian, Alkitab mengatakan bahwa ibadah agung universal akan dipersembahkan kelak kepada Yesus sebagai Tuhan (Why. 5:13; 15:3-4).
Bagi kita orang percaya, Yesus Kristus adalah Tuhan yang merupakan pokok pengakuan iman (Yoh. 13:13; Rm. 10:9; 1Kor. 12:3). Pembangkitan adalah karya unggul dari kuasa Allah (Rm. 1:4-dab). Manusia dapat memilih untuk mengaku Yesus sebagai Tuhan saat ini sebagai langkah komitmen kasih kepada-Nya, atau kita ”dipaksa” untuk mengakui Dia adalah Tuhan saat kembali-Nya kelak? Kristus dapat kembali setiap saat. Apakah kita sudah siap untuk bertemu dengan-Nya? Apakah kita bisa mempertanggungjawabkan tugas misi yang diberikan kepada kita sebagai utusan-Nya di lingkungan kita terdekat? Pengakuan lidah kita yang “mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah” merupakan sikap yang bersedia menjadi milik Tuhan untuk menjadi hamba yang berguna dan berbuah. Kita berbuah agar segala lidah mengaku Yesus adalah Tuhan. Kalau kita merasa belum berbuah selama ini atau belum maksimal, maka mintalah pertolongan kepada Allah dan kepada sesama orang percaya (Mzm. 8:5-6; Yoh. 15:1-16). Semua yang kita lakukan adalah pekerjaan hamba dan tidak layak kita banggakan, sebab seperti dikatakan, “bagi kemuliaan Allah”. Kalau kita bermegah harus bermegah di dalam Allah (Rm. 7:18; Gal. 6:3; 2Kor. 10:17). Inilah dasarnya kita perlu memuji Kristus dan mengaku Ia adalah Tuhan dan menyerahkan hidup kita untuk melayaninya (Kol. 2:6).
Keempat: Allah yang mengerjakan kemauan maupun pekerjaan (ayat 12-13)
Alkitab mengatakan bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia dan bukan karena hasil usaha kita sendiri (Ef. 2:8). Artinya, anugerah keselamatan yang kita terima bukan karena prestasi dan amal usaha kebaikan yang kita lakukan, melainkan karena iman kepada Tuhan Yesus (Rm. 10:9-10). Dengan adanya iman tersebut maka kita menjadi milik-Nya. Jadi sederhananya, keselamatan bukan karena perbuatan baik, tapi karena iman, dan iman itu yang mengharuskan adanya perbuatan baik. Perbuatan baik saja tidak cukup, sebab dua hal yang penting: pertama, manusia selalu berdosa (dan dosa hanya dapat dihilangkan dengan iman dan pengampunan). Kedua, perbuatan baik mendorong manusia untuk bermegah (sementara iman mendorong terus untuk ketergantungan). Kita menerima keselamatan juga bukan hanya di akhir zaman atau di masa pengadilan, melainkan telah menerima keselamatan itu pada masa lalu ketika kita menerima baptisan kudus dan pengakuan percaya. Kita juga menerima keselamatan itu di masa kini dengan bersikap penuh percaya kepada Tuhan tentang perjalanan hidup kita, dan kita tetap mengerjakan keselamatan dengan bergantung kepada-Nya. Dan terakhir, kita akan menerima kegenapan keselamatan itu nanti pada akhir zaman bersama-sama dengan orang percaya lainnya.
Mengerjakan keselamatan itu perlu dilakukan dengan merasa takut dan gentar (Yes. 66:2; Ams. 3:7; 8:13). Takut dan gentar dalam hal ini maksudnya adalah bersungguh-sungguh. Takut dan gentar membuat kita malah tidak bersungguh-sungguh dan optimal. Rasa takut bersumber dari dua sisi yakni sisi di luar diri sendiri dan sisi dari dalam diri sendiri. Dari luar diri sendiri, ada yang melihat dunia dan kehidupan ini begitu menakutkan, bukan saja oleh sulitnya hidup karena persaingan dan kelangkaan, tetapi juga oleh meningkatnya kekerasan, penyakit, risiko dan perusakan lingkungan (band. Luk. 12:4-5). Dari dalam diri sendiri sering muncul pemikiran bahwa kita adalah orang yang tidak mampu, lemah dan tidak bisa meningkatkan diri. Seolah ada bisikan menerima saja apa adanya dan tidak perlu berusaha keras meningkatkan diri. Sikap ini jelas dari iblis yang merongrong diri kita dan mengabaikan peran dan kuasa Allah dalam hidup orang percaya. Kemampuan manusia memang terbatas, meski manusia sendiri tidak tahu batasnya. Bidang kehidupan manusia demikian luasnya untuk tempat bersekutu dan mengabdi. Kelemahan dalam satu sisi (misalnya, kecerdasan) dapat ditutupi dengan kekuatan emosi dan spiritual, demikian juga sebaliknya. Kelemahan fisik dapat ditutupi dengan kemauan dan latihan seperti dunia melihat “kehebatan” Stephen Hawking, terlepas dari karya-karyanya yang kontroversial yang menihilkan peran Allah.
Semua itu dapat terjadi bila kita melakukannya dengan penuh ketaatan dan sikap hormat kepada Allah (2Kor. 7:15; Kol. 3:22). Betul, kita selamat bukan oleh ketaatan. Ketaatan dan keselamatan dalam hal ini berhubungan dengan sikap tunduk dan patuh pada panggilan Tuhan untuk menunaikan tugas dan memelihara hidup kudus. Kita harus memiliki karakter melayani, dengan penuh kasih kepada Allah dan sesama, mengembangkan perilaku rendah hati saat melayani, dan bukan mencari puji-pujian atas usaha yang kita lakukan. Semua itu dapat terjadi, sebab Allah yang mengerjakan kemauan maupun kerelaan kehendak-Nya pada setiap orang (Ef. 1:5). Jadi, terwujudnya ketaatan yang kita berikan pun bukan hasil perjuangan kekuatan diri kita, melainkan oleh kuasa Roh Allah yang tinggal di dalam hati orang percaya yang memampukan hal itu (Rm. 8:14-17; Ibr. 13:21). Tindakan ketaatan adalah hasil mengikuti karya Roh di dalam diri kita yang bekerja mendorong roh kita sebagai manusia. Dalam hal ini bila semua berjalan dengan kesadaran penuh dari hikmat dan perenungan pribadi, maka untuk melakukannya kita tidak memerlukan pengawasan orang lain. Ini yang diminta oleh firman Tuhan, ketika Paulus tidak bersama dengan mereka, jemaat tersebut terus berusaha mengekpresikan kesatuan. Semua orang diminta menjadi "kawan sekerja Allah" (1Kor. 3:9) untuk menyempurnakan keselamatan yang kita miliki saat ini dan kelak di sorga.
Penutup
Kehidupan persekutuan Kristen semestinya berjalan bagaikan lingkaran spiral yang terus naik ke atas, bergerak menapak jalan yang lebih tinggi dan bukan kemunduran mengecil atau pengulangan yang sia-sia. Dalam jemaat yang beraneka ragam keanggotaannya, dengan berbagai latar belakang dan motivasi, memang tidak mudah untuk menciptakan kesatuan. Demikianlah yang terjadi pada jemaat Filipi pada masa awal-awal gereja. Mereka cenderung untuk menonjolkan egoisme masing-masing dan keinginan mencari puji-pujian yang sia-sia dan ini yang menjadi benih pemecah kesatuan mereka. Padahal sebagai jemaat yang dipanggil dalam pelayanan, kesatuan dalam sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan merupakan hal yang pokok sebagai pondasi pelayanan. Kita diberi pelajaran dan teladan oleh Tuhan Yesus dengan mengosongkan diri sebagai kunci untuk bersatu, dan kesatuan itu membuat nama Tuhan Yesus menjulang tinggi di atas segala nama. Dengan meninggikan Yesus, maka segala yang ada di alam semesta ini akan bertekuk lutut dalam nama-Nya, sebab Dialah yang menjadi Hakim segala bangsa. Tugas panggilan untuk meninggikan itu juga ada pada kita orang percaya. Melalui iman dan respon setiap orang, Allah mengerjakan kemauan maupun pekerjaan di dalam hidup kita bagi kemuliaan nama-Nya. Semangat Kristus adalah melayani dan kita telah dilayani-Nya. Apakah semangat melayani Dia sudah ada dalam hidup kita? Mari kita berdoa agar Roh Kudus bekerja dalam hidup kita dan memampukan kita melakukannya menjadi berkat bagi segala bangsa.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026
Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026 – Opsi 2
JEBAKAN BETMEN (Mat. 21:23-32)
“Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya" (Mat. 21:32)
Firman Tuhan bagi kita Mat. 21:23-32, berbicara tentang dua hal, yakni: pertanyaan para imam tentang sumber kuasa Yesus, dan perumpamaan tentang dua orang anak yang disuruh bekerja di kebun. Pada situasi pertama, Tuhan Yesus disudutkan dalam jebakan betmen. Mungkin kita tahu kenapa disebut jebakan betmen, karena si pahlawan Batman dengan ketulusan hatinya sering dijebak, dan berkata: “Shoot..., it’s a trap” (Sial..., ini adalah jebakan).
Akan tetapi Yesus tidak mau terjebak. Ini disebabkan sejak awal suasana hati-Nya telah galau dengan melihat banyaknya pedagang yang nakal di Bait Allah, dan Ia membalikkan meja-meja pedagang yang ada disitu (ayat 12-13). Demikian juga Ia mengutuk pohon ara karena tidak berbuah (ayat 18-19).
Para imam dan tua-tua bangsa Yahudi lantas bertanya, dengan kuasa manakah Yesus melakukan semua itu, dan siapa yang memberi kuasa kepada-Nya? Yesus tidak menjawab langsung, karena tahu itu adalah jebakan betmen. Tuhan Yesus malah bertanya balik kepada mereka tentang baptisan Yohanes, apakah dari sorga atau manusia? Jebakan dikembalikan, dan jawaban konyol pun keluar: “Kami tidak tahu”. Nah, kena deh.... Yesus pun akhirnya menolak menjawab pertanyaan mereka.
Terkait kuasa dan otoritas Tuhan Yesus, kita lihat kembali renungan beberapa minggu yang lalu. John Stott dalam bukunya Why I am a Christian menyebutkan, otoritas Yesus terjadi karena Ia memisahkan diri-Nya dari semua orang, menempatkan diri-Nya dalam katagori moral dimana hanya ada diri-Nya sendiri. Semua orang ada dalam kegelapan, dan Ia adalah terang dunia. Ada orang banyak yang kelaparan, dan Ia adalah Roti Hidup. Orang-orang kehausan, dan Ia adalah Air hidup. Semua orang berdosa, dan Ia mampu mengampuni dosa-dosa mereka.
Yesus Kristus adalah Allah sejati sekaligus manusia sejati. Karya-Nya adalah karya Allah seperti meredakan angin ribut, membangkitkan orang mati, memberi makan 5.000 orang, dan puluhan mukjizat lainnya. Paul Enns dalam bukunya The Moody Handbook of Theology menyebutkan hal ini sebagai kesatuan hipostatik, Yesus datang dan mengambil natur manusia tanpa kehilangan natur Ilahi-Nya. Meski memiliki dua natur, tetapi Ia tetap SATU Pribadi. “Ia adalah Nabi, Imam dan Raja. Ketiga jabatan Kristus ini merupakan kunci pada tujuan inkarnasi,” tulis Paul Enns.
Yesus Tuhan menjadi manusia menjadi khusus, spesial, dan utama. Ia adalah Gembala yang baik, yang pergi ke padang gurun mencari domba-domba yang hilang. Ia menyebut diri-Nya sebagai Juruselamat dan sekaligus Hakim, menjadikan diri-Nya sebagai tokoh utama pada hari penghakiman. Mungkin sedikit "sombong" tetapi tetap rendah hati, sebagaimana Ia menjawab jebakan betmen para imam di atas.
Bagian kedua nas minggu ini tentang seseorang yang mempunyai dua orang anak laki-laki yang disuruh bekerja di kebun ayahnya. Anak sulung disuruh dan menjawab: Ya, tetapi ia tidak melakukannya. Anak kedua disuruh menjawab: “Tidak Mau”, tetapi kemudian menyesal dan pergi bekerja di kebun ayahnya (ayat 28-30). Jelas saat Yesus bertanya, yang melakukan kehendak ayahnya adalah anak yang kedua. Yesus kemudian mengatakan kepada para imam dan tua-tua, begitulah para penjahat yang menyesal, “pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (ayat 31b).
Kita semua manusia berdosa, tidak saja karena melanggar perintah-Nya, tetapi juga tidak melakukan kehendak-Nya berbuah seperti pohon ara dan berbuah lebat seperti pohon anggur. Tetapi Tuhan Yesus dengan kuasa-Nya melalui nas ini membuka pintu bagi penyesalan dan pertobatan. Mari kita tanggap mengakui itu semua, dengan bertobat ingin terus dibarui dan semakin berbuah. Jangan menunggu besok untuk kembali ke jalan-Nya dan berbuah lebat bagi sesama. Kita tidak tahu saat penghakiman, atau berharap bisa “berjudi” seperti penjahat di sebelah Tuhan Yesus yang di saat terakhir dibawa masuk ke Firdaus. Percaya dan taat adalah dua syarat utama (Mat. 7:21; Yoh. 3:36). Jalan kebenaran telah ditunjukkan kepada kita hari ini (ayat 31-32). Tetapi bila tetap bebal, jangan kaget dan kelak dengan konyol mengatakan di hari akhir: Ini adalah jebakan betmen! Kena deh....
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 20 September 2026
Kabar dari Bukit
EGOISME ROHANI DAN PRASANGKA (Yun. 3:10-4:11)
”Lalu Allah berfirman: “Engkau mengasihani pohon jarak itu, padahal engkau tidak berjerih payah atau menumbuhkannya. Ia tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula” (Yun. 4:10, TB2)
Selamat pagi dan salam kasih.
Mungkin ada di antara kita merasa dianaktirikan oleh orangtua. Atau di kantor merasa sudah lama bekerja, tapi ada karyawan baru malah diberi perhatian lebih oleh pimpinan. Menurut pandangan kita, ia tidak layak mendapatkan keistimewaan. Kita merasa marah, diperlakukan tidak adil. Bahkan, juga marah terhadap Tuhan, mengapa hidup orang lain lebih diberkati?
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yunus 3:10-4:11; ini bagian terakhir kitab Yunus yang kita ingat kisahnya, ia lari dari perintah Tuhan, naik kapal, menceburkan diri dan dimakan ikan besar serta tinggal di dalam perut ikan tiga hari. Tetapi Tuhan selamatkan hidupnya. Ia pun jadi pergi ke Niniwe, mengkhotbahkan agar penduduk bertobat. Raja Niniwe atau Asyur kemudian memerintahkan pertobatan massal, berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan penuh kekerasan. Allah melihat-Nya, menyesal dan tidak jadi menghukum Niniwe (ay. 3:8-10).
Yunus tidak menerima. Ia merasa Niniwe perlu dihukum. Hatinya kesal, lalu marah dalam doanya: "Sekarang, ya Tuhan, ambillah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati daripada hidup”. Tetapi Allah penuh kasih dan berkata kepada Yunus: "Patutkah engkau marah?” (ay. 4:1-4).
Yunus pun pergi dan menunggu di Timur kota, ingin melihat yang akan terjadi pada kota itu. Ia mendirikan sebuah pondok. Tuhan menumbuhkan sebatang pohon jarak untuk menaunginya. Yunus bersukacita. Tetapi esoknya Tuhan menetapkan datang seekor ulat, menggerogoti pohon jarak itu sehingga layu. Sesudah matahari terbit, Allah menetapkan bertiuplah angin timur yang panas terik sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus. Ia pun rebah tak berdaya, berharap supaya mati (ay. 5-9).
Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: “Patutkah engkau marah karena pohon jarak itu?” Jawabnya: “Selayaknya aku marah sampai mati.” Allah berkata kepadanya: “Engkau mengasihani pohon jarak itu, padahal engkau tidak berjerih payah atau menumbuhkannya. Ia tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana mungkin Aku tidak mengasihani Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang....” (ay. 10-11).
Ada beberapa pelajaran hidup dari nas hari ini. Pertama, Allah Maha Kuasa. Ia dapat melampaui segala hukum alam untuk mencapai tujuan-Nya. Tumbuhnya pohon jarak, lalu mati oleh ulat, dan datang terik panas sehingga Yunus lebih frustasi ingin mati saja. Juga berdasar penelitian, masa itu terjadi bencana kelaparan dan wabah, muncul gerhana matahari total yang membuat bumi Niniwe gelap. Ini yang mendorong Raja Niniwe memerintahkan pertobatan setelah mendengar khotbah Yunus, bahwa "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (Yun. 3:4).
Kedua, Allah Mahakasih. Sejahat-jahatnya Raja Niniwe, setelah ia dan kaki tangannya bertobat, Allah mengampuni dan tidak jadi menghukum mereka. Maka kita pun, jika saat ini masih terikat dengan perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan kepada Allah, hentikanlah dan bertobatlah.
Ketiga, jangan berprasangka terhadap keputusan Allah yang menyangkut orang lain. "Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?" (Rm. 11:34). Terakhir, tetaplah rendah hati meski kita dipakai Tuhan. Jangan muncul egoisme rohani, seolah kita lebih hebat dari orang lain. Tetaplah berpegangan, segalanya adalah bagi kemuliaan-Nya (Rm. 11:36).
Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026
Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026 – Opsi 3
PERBAHARUILAH HATIMU (Yeh. 18:1–4; 25–32)
”Oleh karena itu Aku akan menghukum kamu masing–masing menurut tindakannya” (Yeh. 18:30a)
Ada tiga pertanyaan besar bagi orang percaya terkait dosa. Pertama, apa konsekuensi perbuatan dosa terhadap hidup kita di dunia ini maupun pasca kematian? Alkitab menegaskan, upah dosa adalah maut (Rm. 6:23). Tapi, apakah ada konsekuensi lain selain maut?
Kedua, mengenai dosa turunan atau dosa asal: apakah kesalahan orangtua atau leluhur selalu ditimpakan pada anak cucunya?
Ketiga, apakah penderitaan seseorang di dunia otomatis akibat dosa-dosanya sendiri?
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah Yehezkiel 18:1–4; 25–32. Nas ini menjawab sindiran umat Israel yang merasa Tuhan berlaku tidak adil: “Ayah–ayah makan buah mentah dan gigi anak–anaknya menjadi ngilu?” (ay. 2). Mereka merasa dihukum karena dosa leluhur mereka.
Yehezkiel kemudian menjelaskan bahwa hal itu tidak benar. Jika seseorang berusaha berbuat benar, taat, dan menuruti perintah Tuhan, maka ia akan hidup dan tidak dihukum. Sebaliknya, jika anaknya berperilaku buruk, tidak bertobat, maka ia akan menanggung akibat perbuatannya sendiri. Namun jika cucu seseorang menyadari perbuatan leluhurnya tidak baik, berbalik dan berbuat benar, maka ia akan hidup (ay. 4–24, 26–28).
Dengan kata lain, setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Memang ada dosa asal (Kel. 20:5; Ul. 5:9; Mzm. 51:7), tapi ini lebih pada “kecenderungan” yang diwariskan. Jika anak menyadari dan bertobat, Tuhan tidak akan menimpakan hukuman kepadanya (ay. 19–21). Yehezkiel menekankan, hukuman terjadi karena dosa sendiri, meski dipengaruhi oleh dosa leluhur.
Demikian pula penderitaan atau kekurangan berkat seseorang bisa terjadi karena beberapa hal: pertama, dosa bawaan dari leluhur yang tidak diputus; kedua, akibat perbuatan sendiri; ketiga, Allah mengizinkan penderitaan sebagai bentuk pendisiplinan agar lebih taat dan dekat kepada-Nya, bukan sebagai hukuman langsung. Contohnya, Ayub diuji bukan karena dosanya, tapi untuk menguji kesetiaannya (Ayub 1:1–12).
Sebaliknya, orang yang tampak “diberkati” di dunia tidak otomatis taat atau tidak berdosa. Allah Mahaadil dan Mahatahu; Ia membalas sesuai keadilan-Nya (Yer. 23:2; Yeh. 7:3–4). Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya (Mrk. 4:22; Rm. 2:16), dan setiap jiwa adalah milik Tuhan (ay. 4).
Dalam era Perjanjian Baru, prinsip “apa yang ditabur, itu yang akan dituai” berlaku (Gal. 6:7). Jangan mudah menghakimi, tapi pahami bahwa setiap dosa memiliki konsekuensi. Dosa yang dilakukan dengan sengaja jelas menuntut penghakiman (Ibr. 10:26–27a; Bil. 15:30) karena itu tanda ketidaktaatan.
Pesan penutup nas ini: “Bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, ... dan perbaharuilah hatimu dan rohmu!” (ay. 30–31). Yesus setia menanti keinsafan dan penyesalan kita.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu XVII Setelah Pentakosta – 20 September 2026
Khotbah Minggu XVII Setelah Pentakosta - Minggu 20 September 2026
HIDUP ADALAH KRISTUS DAN MATI ADALAH KEUNTUNGAN (Flp. 1:21-30)
Bacaan lainnya: Kel. 16:2-15; atau Yun. 3:10-4:11; Mzm. 105:1-6, 37-45 atau Mzm. 145:1-8; Mat. 20:1-16
Pendahuluan
Ketika kita mendengar seseorang dipenjara, kesan yang muncul adalah hal mengerikan. Gambaran penjara sebagai tempat yang terkungkung, kotor, makanan seadanya, penuh dengan kekerasan dan hukuman, maka orang langsung berpikir: hidupnya sudah habis dan tanpa arti. Mereka yang dipenjara biasanya melihat hidup dalam keadaan serba gelap dan tanpa pengharapan. Ada masa indah yang hilang dan memulihkan nama juga tidak gampang. Akan tetapi hal yang dialami oleh Rasul Paulus dalam bacaan ini sungguh berbeda. Ia mendapatkan tekanan tetapi ia melihat dari dua sisi yang berbeda dan keduanya adalah menguntungkan. Melalui bacaan di minggu ini, semangat itulah yang diberikan kepada kita melalui pengajaran sebagai berikut.
Pertama: Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (ayat 21-23)
Bagi mereka yang tidak percaya akan adanya Allah pencipta langit dan bumi, kehidupan di dunia ini seperti apa adanya saja, mengalir tanpa arah dan komando, sehingga bagi mereka sangat wajar hidup ini harus diisi dengan kesuksesan nilai-nilai dunia saja, seperti uang, kesenangan, dan harga diri. Berbeda bagi Rasul Paulus, yang berpikir hidup ini perlu diisi dan dikembangkan dengan nilai-nilai yang abadi, khususnya mengabarkan tentang Kristus dan kasih-Nya. Bagi Paulus, Yesus Kristus dapat menolong mereka yang tidak mengenal Allah sebagai Komando untuk mendapatkan dan memahami nilai-nilai hakiki kehidupan, sehingga menjalaninya lebih penuh arti. Kristus merupakan sumber inspirasi. Tujuan hidup Paulus adalah memberitakan dengan penuh keyakinan dan keberanian tentang Kristus, dan terus berusaha menjadi serupa dengan Dia. Oleh karena itu, ia berkata bahwa mati adalah keuntungan; kematian bukan sekedar membebaskan kita dari segala persoalan, pergumulan dan penderitaan, melainkan menjadi pintu masuk perjumpaan dengan Kristus muka dengan muka (Flp. 1:21; Yoh. 3:2-3). Dalam 2Kor. 5:8 juga dituliskan kerinduan ini, "... dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan." Kerinduan yang sama dinyatakan Pemazmur: “lebih baik satu hari di pelataran Tuhan dari pada seribu hari di tempat lain (Mzm. 84:10). Tapi ini bukan berarti pembenaran terhadap mati bunuh diri atau keputusasaan. Ia tidak mengungkapkan keletihan hidup dengan nada yang getir. Bukan. Inti pesannya, jika kita belum siap untuk kematian, maka sebetulnya kita tidak siap untuk hidup.
Ketika menulis surat ini di penjara, Rasul Paulus tidak mengetahui situasi pasti masa depannya. Gambaran di dalam benaknya adalah dibebaskan atau dihukum mati. Akan tetapi dalam menanti keputusan itu ia tetap berpegang pada keyakinan bahwa Kristus bekerja dalam hidupnya untuk kebaikannya. Hal yang perlu dilakukan dan persiapkan hanyalah saat berdiri di depan sidang pengadilan Romawi, ia harus berbicara dengan berani untuk kebenaran Kristus tanpa ada rasa takut atau malu. Apakah harus mati atau hidup, baginya tidak persoalan, ia hanya ingin meninggikan Kristus. Untuk itu ia terus bersiap diri menghadapinya, dengan berdoa dan menjadi berkat dengan menulis surat kepada jemaat-jemaat yang dikenalnya. Prinsip hidupnya, ketika Tuhan memberinya kehidupan, maka ia harus mengisinya dengan memberi buah. Tidak ada alasan untuk pesimis, putus asa, berleha-leha, atau menunda seolah-olah belum waktunya melayani. Memang pada kenyataannya, ia dibebaskan sebentar setelah menulis surat ini, namun kemudian ditangkap dan dipenjara kembali selama dua sampai tiga tahun karena terus menerus mengajarkan Kekristenan kepada semua orang. Inilah yang perlu kita lihat dan teladani. Setiap kesempatan perlu kita isi hidup ini dengan pelayanan, baik melalui jalan terlibat langsung maupun tidak langsung melalui dukungan doa, moril, waktu dan dana.
Semangat melayani hanya bisa terjadi jika kita memahami bahwa ada Allah pencipta seiisi bumi dan terus mengendalikannya. Setiap orang lahir ke dunia bukanlah kebetulan melainkan dengan tujuan dari Allah; bukan untuk diri sendiri. Dengan kesadaran itu bisa kita rumuskan dan nyatakan tujuan akhir hidup, yang perlu diisi dengan melayani Tuhan, mempersembahkan hidup bagi-Nya yang dinyatakan tanpa ada rasa takut akan kematian. Hidup bukan lagi semata-mata kekosongan, tanpa arah dan makna. Kita berjalan dengan iman dan bukan dengan pikiran. Yang terutama, ketika badai kehidupan datang keras melanda, yang kita tidak tahu sebab musababnya, kita tahu bahwa itu adalah bagian dari rencana Tuhan. Ini situasi yang dihadapi Rasul Paulus, seolah-olah didesak dari dua sisi kenyataan, perjuangan dan penderitaan atau menanti pergi saat-saat kematian tiba (ia memakai istilah analyo merupakan eufemisme yang artinya "meninggalkan” seperti kapal yang mengangkat jangkar atau tentara yang mengendorkan tali kemah). Hanya oleh iman yang teguh kepada Kristus yang membuat Rasul Paulus kuat menahan penderitaan tersebut dan tetap tegar dalam pelayanannya. Kita pun menjadi kuat dan teguh dalam menghadapi segala situasi kehidupan, ketika kita memiliki tujuan di dalam Kristus. Memiliki tujuan hidup akan membangun hidup itu sendiri dengan hidupnya tujuan itu. Bagi orang percaya, tujuan akhir kita jelas, yakni kita masuk sorga, dan itu hanya bisa bersama dengan Kristus. Inilah yang kita rindukan, Allah memberi prinsip hidup yang sama dalam diri kita seperti Rasul Paulus.
Kedua: Makin maju dan bersukacita dalam iman (ayat 24-26)
Rasul Paulus telah memutuskan memiliki tujuan hidup yakni memberitakan Kristus di seluruh dunia. Pikiran-pikiran yang mengganggunya yakni tantangan, penderitaan, masa lalunya yang penuh dosa ingin membunuh, tidak dipikirkannya lagi. Ia mengerti sepenuhnya bahwa hidupnya telah ditebus dan diberi kasih anugerah, sehingga ia berhutang nyawa bagi Yesus dan untuk itu merasa wajib membayarnya. Pikiran ini yang disampaikannya kepada jemaat di Galatia, yakni dengan mengatakan: "Aku hidup, tetapi bukan lagi aku jang hidup, melainkan Kristuslah yang hidup didalam aku" (Gal. 2:20; band. Rm. 14:8; Kol. 3:3). Ia merasakan kebaikan Allah dan ia juga mengetahui karunia rohani yang dimilikinya, sehingga dengan menetapkan tujuan hidupnya, ia tahu bahwa hidupnya sangat berguna bagi jemaat di Filipi dan ingin tinggal dan akan bersama-sama dengan mereka (band. Kis. 20:1-6). Ada persekutuan yang erat di antara mereka. Oleh karenanya, meski mati adalah keuntungan, ia kemudian mengatakan, “tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” Memang dalam hidup setiap orang, termasuk Paulus, begitu ada dorongan dan pengharapan hidup kita berbuah bagi orang lain, maka kita akan memiliki semangat dan roh yang kuat untuk menjalani hidup dengan optimisme. Semua ini akan lebih dahsyat ketika Roh Allah bekerja di dalam hati kita. Kisah seorang ayah atau ibu yang berjuang keras bahkan hidup mati demi anak-anaknya, merupakan kisah yang sering kita dengar dalam kehidupan ini.
Rasul Paulus merasakan adanya ketakutan pada jemaat di Filipi perihal penderitaan yang akan mereka alami akibat penindasan dari serdadu dan pemerintahan Romawi (dan juga dari orang-orang Yahudi fanatik), sehingga Paulus perlu meyakinkan mereka untuk tidak perlu takut bahkan bila risikonya kematian. Ia juga melihat ketakutan itu terjadi karena pemahaman mereka terhadap firman Tuhan belum mencapai kedewasaan rohani, sehingga pertimbangan keduniawian masih menjadi faktor yang dominan. Kedewasaan dan cara melihat penderitaan terkait dengan iman, yakni dalam pengertian iman yang bertumbuh semakin besar ketergantungan dan penyerahan hidup dalam tangan pimpinan Tuhan. Ketika iman lemah atau baru bertumbuh, biasanya menciutkan mental saat tantangan berat datang melanda; akan tetapi ketika iman semakin besar dan kuat, maka tantangan apa pun yang datang, hidup sudah seluruhnya diserahkan kepada Dia yang mengendalikan hidup kita. Inilah yang dilihat Rasul Paulus sehingga mengatakan dalam nas ini, “supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman.” Pengertian maju dan bersukacita hanya ada kaitannya dengan iman kepada Yesus Kristus yang mengendalikan hidup.
Rasul Paulus melihat semua itu bukan untuk membanggakan dan memegahkan dirinya telah membuat sebuah prestasi, melainkan semuanya adalah untuk kemegahan Kristus. Kristus ditinggikan, diagungkan, dan dimuliakan adalah tujuan akhir hidupnya. Ia sudah tahu bahwa dirinya pasti selamat dan ia tidak perlu ragu akan hal itu. Ia hanya menyelaraskan tujuan hidupnya agar sesuai dengan rencana Allah dalam hidupnya. Itu hanya bisa tersinkronisasi tatkala kita memiliki hubungan yang dekat dengan Dia. Dengan kedekatan dan keakraban yang terjalin, kita tahu tujuan hidup tidak hanya memuaskan keinginan daging dan tubuh, sebab Yesus telah menderita bagi kita. Dialah yang kita layani sebab Ia telah melayani kita. Kini, pertanyaannya bagi kita: Apa yang menjadi tujuan hidupmu? kepada siapa kita melayani? Apakah yang kita lakukan saat ini sepenuhnya bagi kemegahan kita saja, kemegahan keluarga, atau kita menempatkan kemegahan Kristus lebih utama dalam semua tujuan yang kita lakukan? Apakah kita pernah membangun iman teman sesama gereja tatkala mereka dalam pergumulan iman? Kristus memanggil kita untuk menggunakan berkat dan karunia rohani untuk membangun kemegahan Kristus, bukan saja di lingkungan gereja kita sendiri tetapi juga di dalam kehidupan keseharian dalam bermasyarakat. Itulah yang dilakukan Rasul Paulus dan perlu kita lakukan.
Ketiga: Hidup berpadanan dengan Injil Kristus (ayat 27-28a)
Untuk bisa memiliki iman yang teguh dan berbuah, persyaratan utama adalah perlunya pengenalan, pemahaman dan penerapan Injil Kristus. Dalam Injil Kristus yang diberikan bagi kita, di dalamnya ada kisah keteladanan Pribadi Yesus sebagai gambar dan rupa Allah yang sempurna di dalam wujud manusia. Dengan memandang dan mengenal Pribadi Yesus melalui kesaksian Injil, tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengatakan bahwa manusia tidak dapat melakukan hal seperti yang dilakukan-Nya. Memang kadang orang berkata untuk mencari alasan dengan mengatakan: "Ah, Yesus kan, Tuhan. Jadi Dia bisa seperti itu". Akan tetapi terlepas dari kuasa membuat mukjizat, setiap manusia ditantang untuk menjadi serupa dengan Dia, sehingga kita menjadi buku dan kesaksian teladan bagi orang lain. Dalam melakukan mukjizat pun kita tidak boleh berkata "tidak mungkin". Tuhan Yesus sendiri berkata, "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (Mrk. 9:23). Oleh karena itu kita terus berusaha agar pengenalan, pemahaman dan penerapan Injil Kristus itu hadir dan berpadanan dalam kehidupan kita sehari-hari. Berpadanan berarti tingkah laku kita layak disebut sebagai pengikut Kristus.
Salah satu yang ditekankan dalam Injil adalah pentingnya saling mendukung dalam persekutuan jemaat. Rasul Paulus mendorong orang percaya untuk bersatu, berdiri kokoh dalam satu Roh dan berjuang sebagai satu kesatuan untuk membangun iman (band. Ef. 4:1-3). Prinsip bersatu teguh dan bercerai runtuh serta bergabung seperti sapu lidi tetap berlaku dalam membangun kekuatan iman. Adanya anggota-anggota gereja yang melenceng dan hidup sekehendak hatinya yang tidak sesuai dengan perintah Injil, akan mematahkan semangat dan kebersamaan. Gangguan seperti ini tidak boleh ada dan harus diredam dengan bijak. Rasul Paulus juga menekankan agar jemaat Filipi bersatu dengan keinginan dari diri mereka sendiri, tidak tergantung kepada Paulus, sehingga kehadirannya di Filipi tidak mempengaruhi semangat mereka dalam menghadapi semua persoalan yang ada. Kebersamaan dan kesatuan yang demikian akan murni dan langgeng, sementara kalau kesatuan akibat pengaruh pemimpin yang otoriter biasanya akan cepat retak dan pecah. Kita dapat melihat dalam berbagai pemerintahan di dunia, pemerintahan yang otoriter biasanya tidak langgeng dan selalu jatuh dengan konsekuensi yang menyakitkan.
Demikian juga dalam menghadapi musuh, kesatuan iman jemaat Filipi diminta untuk mendahsyatkan kekuatan bersama (band. 1Kor. 16:13). Meratapi kekurangan apalagi memperlihatkan kelemahan kepada musuh malah membuat rasa gentar di dalam diri mereka sendiri. Padahal yang dibutuhkan justru membuat musuh gentar dengan kesatuan yang ada. Kita bisa baca dalam peristiwa Yerikho, ketika pasukan bersatu mengelilingi dengan tiupan sangkakala, tembok yang kokoh itu runtuh. "...Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu" (Yos. 6:1-27). Allah bekerja di dalam kesatuan hati dan bukan di dalam perpecahan. Sebab sungguh sangat menyedihkan melihat begitu besar energi dan potensi yang terbuang sia-sia apabila orang percaya saling menyerang dan bukan bersatu melawan musuh bersama yang nyata. Musuh bersama saat ini masih banyak berupa kemiskinan dan penginjilan ke berbagai wilayah. Setiap gereja dan denominasi membutuhkan sikap yang lebih berani dalam mempersatukan dan membangun tujuan bersama demi dan untuk melayani Kristus. Egoisme masing-masing yang merupakan pekerjaan iblis harus dihilangkan.
Keempat: Tidak gentar dan siap menderita (ayat 28b-30)
Rasul Paulus memiliki keyakinan yang kuat tentang hidupnya di dalam Kristus dan itu membuat dirinya tidak khawatir sedikit pun tentang segala ancaman dan risiko yang timbul dari pelayanannya. Dengan cara pandang seperti itu, risiko penderitaan yang datang tidak dilihat sebagai "kesalahan" atau "hukuman", melainkan sebuah ujian untuk meningkatkan iman. Ketika kita menderita karena iman kepada Kristus, hal itu bukan berarti karena kita melakukan suatu hal yang salah. Sebaliknya, kenyataan yang benar, melalui penderitaan ingin dibuktikan kita adalah orang yang setia. Maka pergunakanlah penderitaan yang kita hadapi untuk membangun karakter kita. Jangan menyangkal, meremehkan apalagi malah membuat kita jatuh. Seorang Kristen sejati tidak pernah gentar menyerah namun tegar berdiri. Dengan sikap seperti itu, siapapun yang melihat diri kita sebagai orang yang teguh dalam pelayanan, tetap bertahan, tegar dalam tantangan dan penderitaan, musuh pasti gentar. Rasul Paulus mengatakan ini sebagai kebinasaan bagi musuh, namun bagi kita adalah tanda dan bukti keselamatan. Ia menganggap sungguh merupakan kehormatan untuk dapat menderita bagi Kristus. Penderitaan di dalam Kristus adalah sebuah kesempatan mengalami persekutuan secara lebih dalam dan indah dengan Kristus (Mat. 5:11). Memang kita tidak boleh secara umum menganggap penderitaan sebagai keistimewaan. Penderitaan juga dapat datang karena dosa dan kesalahan. Tapi ketika kita menderita oleh karena memberitakan Kristus, pesan dan kesan serta teladan yang kita berikan akan mempengaruhi diri kita dan orang lain untuk kebaikan (Kis. 5:41). Dalam hal ini, penderitaan memiliki beberapa manfaat, seperti:
- Mengerti dan mengabaikan kesenangan dan kenikmatan dunia.
- Menyingkirkan gulma orang-orang percaya yang membuat kedangkalan iman. Ada penglihatan makna baru dalam kehidupan setelah berhasil dalam ujian iman.
- Memurnikan iman guna jaminan masuk ke dalam kerajaan-Nya kelak
- Menguatkan iman mereka yang dalam penderitaan dan menjadi contoh teladan bagi mereka yang mengikut kita.
- Penderitaan dapat mempererat persatuan.
Rasul Paulus sepanjang hidupnya telah menderita oleh karena pemberitaan Injil. Ia pernah diseret dan dicambuk di hadapan jemaat Filipi (Kis. 16:19; 1Tes. 2:2; Ibr. 10:32), melakukan perjalanan tiga kali ke seantero Eropa untuk mengabarkan kasih Allah melalui Kristus. Beberapa kali dipenjara. Banyak hambatan dan tantangan dialaminya, demikian juga jemaat-jemaatnya. Sama seperti orang Filipi, kita juga saat ini berhadapan dengan yang ingin menghambat pemberitaan Kristus, baik melalui aturan-aturan maupun provokasi. Semua orang percaya harus menghadapinya, bersatu menghadapi “musuh” yang sama untuk kebaikan semua. Rasul Paulus tidak pernah mendesak agar orang Kristen mencari-cari penderitaan, apalagi menguji Tuhan. Kita juga jangan melupakan mereka yang menderita. Kasih Allah harus dinyatakan. Jika kamu orang kaya, memberilah dengan sukacita kepada yang miskin. Jika isi kulkasmu penuh, berbagilah dengan mereka yang kelaparan. Jika kamu ada dalam kekuasaan, bekerjalah dengan adil dan penuh kasih. Ketika hidup kamu menyenangkan, berusahalah untuk mengambil kesakitan orang lain, dan ceritakanlah kepada dunia bahwa Injil itu adalah kebenaran. Mari kita perlihatkan kepada dunia kasih Kristus ada dan nyata dalam setiap hati pengikut-Nya, meski kadang kala dunia ini tidak bersahabat pada kita.
Penutup
Melalui bacaan di atas kita dapat melihat keteladanan yang diberikan Rasul Paulus. Kehidupannya di penjara tidak menyurutkan semangatnya untuk memberitakan Kristus. Baginya, apapun risikonya, hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Itu bukan sikap keputusasaan yang getir, tetapi melihat bukan persoalan hidup atau mati, sebab kedua-duanya dapat dipakai jalan untuk memuliakan Tuhan. Dalam hidup yang dimaknakan di dalam Kristus, berbuah berarti mendorong orang lain untuk semakin maju dan bersukacita dalam iman, sebagaimana yang dilakukannya bagi jemaat Filipi. Untuk itu memang diperlukan hidup yang berpadanan dengan Injil Kristus, yang memperlihatkan layaknya kita sebagai pengikut Kristus. Kemampuan itu juga sekaligus memperlihatkan sikap kita dalam menghadapi tantangan dan musuh. Bila kita di dalam Kristus, kita tegar tidak akan gentar dan bahkan siap menderita karena itu merupakan kehormatan dapat menderita bagi Dia yang sudah memberikan nyawa-Nya bagi keselamatan kita. Inilah doa kita, agar Tuhan mengokohkan iman kita, meneguhkan pengharapan kita, sehingga kita terus melayani dan bahkan di dalam tantangan dan penderitaan yang mungkin dialami.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan memberkati kita sekalian, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026 MENGANGGAP...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026 –...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026 –...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 25 guests and no members online
