Wednesday, February 04, 2026

2026

Khotbah (2) Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026

Khotbah Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026 – Opsi 2

 

 UCAPAN BAHAGIA (Mat. 5:1-12)

 

Firman Tuhan bagi kita Mat. 5:1-12, menuliskan tentang Ucapan Bahagia Tuhan Yesus. Ini merupakan bagian pertama dari lima bagian Khotbah di Bukit. Kita bisa membayangkan Tuhan Yesus naik ke bukit, diikuti oleh para muridnya. Kemudian Ia duduk, dan kebiasaan para murid akan tetap berdiri mendengarkan. Situasi ini juga seakan menggambarkan saat Nabi Musa menerima Hukum Taurat dari Allah di bukit Sinai (Kel. 19-26).

 

 

Khotbah di Bukit merupakan pengumandangan gagasan pola hidup baru bagi mereka yang mengikut Dia. Gagasan utama diawali dengan tawaran kebahagiaan yang berbeda dengan kebahagiaan pemahaman dunia. Beberapa versi Alkitab menggunakan kata "Berbahagialah" tetapi ada yang memakai kata "Diberkatilah" (misal NIV), meski sama maknanya. Gagasan kebahagiaan dalam nas ini diikuti dengan pengenalan diri sendiri, yakni sebagai terang dan garam dunia (ayat 13-16). Kemudian Tuhan Yesus menegaskan keberadaan hukum Taurat (ayat 17-19), dan memperlihatkan cara pandang baru dalam melakukannya. Ini sekaligus memberi koreksi atas pemahaman para ahli Taurat dan orang Farisi yang berlaku saat itu (ayat 20-dab).

 

 

Kebahagiaan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus didasari oleh rasa telah memiliki Kerajaan Sorga (ayat 3, band. ayat 10 dan 12). Ada cara pandang dan karakter pribadi yang dihendaki Tuhan Yesus sebagai syarat agar dapat merasakan kebahagiaan tersebut, yakni:

 

 

 

·      *   miskin di hadapan Allah (ayat 3), bermakna rendah hati, tidak sombong, dan takut akan Allah;

 

·      *   berdukacita (ayat 4), bermakna peduli dan prihatin terhadap situasi sekelilingnya, masyarakat dan bangsanya; jadi bukan (hanya) yang berdukacita secara umum;

 

·     *    lemah lembut (ayat 5), bermakna sikap penuh kasih, sopan santun, tidak kasar dan mementingkan diri sendiri;

 

·      *   lapar dan haus akan kebenaran (ayat 6), yakni kiasan terhadap mereka yang mencari hakekat segala sesuatu, tidak hanya terpesona pada kulit atau bungkus, penampilan, tetapi dalam dan makna sesungguhnya kehendak Tuhan;

 

·     *    murah hati (ayat 7), karena akan memperoleh kemurahan. Ini sama dengan "berilah dan kamu akan diberi" (Luk. 6:38), menjadi berkat dan akan diberkati;

 

·    *     suci hatinya (ayat 8), tidak dipengaruhi iblis dan ego sehingga mereka akan mudah melihat Allah, dalam pengertian Allah ikut bekerja dalam dirinya;

 

·      *   membawa damai (ayat 9), dalam arti yang dipimpin Roh Allah (Rm. 8:14) mereka akan disebut anak-anak Allah.

 

 

 

Bagian kedua (ayat 10-12) nas ucapan bahagia terkait dengan derita penganiayaan yang diterima oleh mereka yang membela kebenaran, atau difitnah oleh mereka yang jahat. Para nabi-nabi dan rasul mengalami hal ini, tetapi semua itu upahnya besar di sorga. Sebagai pengikut Kristus, mari kita ubah cara pandang sehingga kita benar-benar memiliki kerajaan sorga di dunia ini dan merasakan kebahagiaan sejati. Kita Bahagia dan Tuhan pun senang. Dan inti sebenarnya adalah mengakui anugerah dan kasih Allah.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026

Khotbah Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026 – Opsi 3

 

 KELUHAN TUHAN (Mi. 6:1–8)

 

 Umat–Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku! (Mi. 6:3)

 

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

 

Tuhan mengeluh? Bagaimana bisa? Ia kan Mahakuasa? Ya, betul. Namun itulah yang disampaikan oleh Nabi Mikha dalam nas bacaan hari Minggu ini dari Mikha 6:1–8. Ayat 3 menunjukkan betapa Tuhan kecewa melihat umat-Nya Israel saat itu. “Sebab Tuhan mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya dan Ia beperkara dengan Israel” (ay. 2b).

 

Tuhan Yesus Kristus adalah Roh dan Pribadi. Alkitab menjelaskan bahwa sebagai Pribadi Ia memiliki perasaan, seperti rasa suka dan senang (Hosea 6:6; Imamat 1:9 dan ayat lainnya), benci terhadap orang fasik (Mazmur 11:5; 45:7; Amsal 6:16). Allah juga kadang merasa menyesal melihat perbuatan jahat manusia (Kejadian 6:5–6; 1 Samuel 15:11). Ia dapat murka (Roma 1:18) dan menghukum (Roma 5:9). Allah memiliki kehendak (Roma 9:15–16), memilih (Efesus 1:4) atau menolak (Roma 11:2).

 

 

 

Namun Allah adalah Mahakasih dan Mahasetia. Ia rela berkorban (Yohanes 3:16; 2 Petrus 3:9) dan setia (Ulangan 7:9; Mazmur 89:2; 106:1). Allah bahkan bersumpah ketika mengikat janji (Ibrani 6:13). Ia Mahakuasa sehingga janji-Nya pasti. Dalam kaitan itu Allah memiliki akal dan pikiran untuk membuat rencana (Mazmur 92:5; Yesaya 55:8; Efesus 1:9), menyelidiki, memeriksa, dan mengerti (Mazmur 139:1–3). Ia adalah Pencipta (Kejadian 1:1–31) dan Mahatahu (Mazmur 139:2; 147:4–5; Yesaya 40:13–14; Ibrani 4:13).

 

Kita layak bersyukur atas keberadaan dan sifat Allah tersebut. Ia mengetahui hati dan perasaan kita, harapan, dan pergumulan. Itu mendorong kita untuk lebih mengenal-Nya, menaruh hormat dan takut, sebab dengan cara itu Ia akan mengasihi kita dan memenuhi segala pengharapan yang seturut dengan rencana serta kehendak-Nya.

 

 

 

Dalam nas minggu ini disebutkan bahwa Tuhan kecewa dan mengeluh terhadap bangsa Israel, umat yang dibentuk-Nya, dipilih, diselamatkan dari perbudakan Mesir, diberi pemimpin Musa, Harun, dan Miryam, serta dilindungi dari musuh (ayat 4–5). Namun bangsa Israel melakukan kekejian terhadap Dia dengan menyembah berhala, bahkan mempersembahkan anak-anak mereka sebagai korban (ay. 7b).

 

 

 

Karena itu Allah menuntut dan hendak menghukum mereka. “Maka Aku pun mulai memukul engkau, menanduskan engkau oleh karena dosamu. Engkau akan makan tetapi tidak menjadi kenyang dan perutmu tetap mengamuk karena lapar. Engkau akan menabur tetapi tidak menuai, mengirik buah zaitun tetapi tidak berurap dengan minyaknya, juga mengirik buah anggur tetapi tidak meminum anggurnya” (ay. 13–15).

 

 

 

Umat Israel menyadari kesalahannya. Mereka mencoba menebusnya dengan membawa korban persembahan berupa domba dan minyak (ayat 6–7). Namun pengakuan bersalah saja tidak cukup. Tuhan lebih berkenan pada tindakan nyata. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (ay. 8).

 

 

 

Pesan firman Tuhan ini sangat jelas bagi kita. Ia tidak hanya mengharapkan kita sekadar percaya atau memuji melalui ritual dan seremoni. Tuhan berkenan kepada kebenaran dan kesetiaan. Ia ingin kita melakukan tiga kebaikan (ayat 8), yaitu bertindak adil terhadap sesama, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Dengan murah hati memberi kebaikan untuk menolong orang lain, selalu rendah hati di hadapan Allah dan sesama, serta saling menghormati dan mendahulukan kepentingan orang lain (Filipi 2:3–4). Mereka yang tidak mengasihi manusia yang dilihatnya tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya (1 Yohanes 4:20). Itulah kunci dan parameternya.

 

Semoga Tuhan menuntun kita melakukan kehendak-Nya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

 

Khotbah Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026

 Khotbah Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026

  SALIB ADALAH KEKUATAN ALLAH (1Kor. 1: 10-18)

 Bacaan lainnya: Mat. 4:12-23; Yes. 9:1-4; Mzm. 27:1, 4-9;

 

 Pendahuluan

 

Bacaan di atas merupakan respon Rasul Paulus setelah mendapat laporan dari utusan keluarga Kloë yang mungkin adalah anggota jemaat di Korintus tentang terjadinya perpecahan di antara jemaat. Sebagai orang yang pernah tinggal di sana dan membimbing banyak jemaat, Paulus memberikan nasihat dan ini menjadi pelajaran dan teladan kepada kita, bagaimana potensi-potensi perpecahan dalam gereja perlu dikenali, diungkapkan, dan kemudian diarahkan agar gereja tidak menghabiskan energi hanya untuk mengurusi hal seperti itu. Pusat perhatian gereja hanyalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan kita dipanggil untuk menjadi kekuatan Allah. Melalui nas bacaan ini, kita diberikan pelajaran sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Jangan ada perpecahan di jemaat (ayat 10-12)

 

Ungkapan “Bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh” merupakan pepatah atau adagium yang bisa diterima semua orang. Contoh sapu lidi sangat umum untuk menggambarkan hal ini. Barisan yang teratur dan saling terkait dan menopang, pasti menjadi pertahanan atau benteng yang kuat dan bagus. Kesatuan tembok batu bata atau simpul tali/kawat yang dipilin pasti akan lebih kuat. Demikian pula ungkapan kalau menggapai mimpi lebih baik dilakukan berdua/bersama dibandingkan dengan dilakukan sendiri-sendiri. Istilah sinergi adalah istilah generik yang memang manfaatnya tidak bisa terbantahkan. Namun, kalaupun ada yang berpikir bahwa sebuah lidi juga bisa bermanfaat, atau bermimpi juga bisa dilakukan sendirian, atau sinergi juga membawa efek samping, ya semua sah-sah saja. Namun dengan kesatuan dan kebersamaan dalam mencapai tujuan, dipastikan lebih efektif dan hasilnya jauh lebih baik.

 

 

 

Tetapi mengapa orang tidak mudah bersatu? Mengapa orang mau berselisih dan tidak melihat contoh di atas dan lebih memilih berpisah, bercerai atau perpecahan (schisma)? Orang lebih suka berpisah dan membangun sesuatu yang baru dengan kembali ke titik nol, dibandingkan dengan tetap bersinergi bersama-sama membangun yang sudah ada dan saling mendukung. Sepertinya semua hanya karena EGO atau EGOISME. Ini sifat yang lebih mementingkan diri sendiri, atau dorongan untuk menguntungkan diri sendiri dibandingkan dengan kepentingan orang lain. Fokus utamanya adalah kepuasan diri sendiri dan bukan menyenangkan orang lain, yang dalam hal ini menyenangkan hati Tuhan juga (Band. Gal. 5:20). Mereka melihat dirinya lebih utama dan penting sehingga bertindak lebih baik sendiri, dengan kadang berprinsip lebih baik jadi raja kecil daripada serdadu raja besar. Merasa diri penting sangat berbahaya, seperti kata T.S. Eliot, “Separuh rasa sakit yang terjadi di dunia ini hanya karena seseorang merasa dirinya penting.”

 

 

 

Itulah yang terjadi di jemaat Korintus. Keragaman anggota jemaat membuat adanya kelompok-kelompok, dan masing-masing kelompok ini berpendapat bahwa kelompoknyalah adalah yang terbaik, termasuk adanya kelompok Yahudi dan non-Yahudi. Mereka juga mendasarkan kelompoknya pada siapa yang membaptis, karunia yang mereka miliki, kaya miskin, sekelompok orang yang masih terlibat dengan masalah moralitas lama, dan sebagainya sehingga menimbulkan perpecahan dalam jemaat. Semua merasa dirinya utama dan penting. Padahal, perpecahan mendatangkan ketidaknyamanan bagi seluruh anggota lainnya, menjadi kelemahan, celaan (Mat. 12:26) dan batu sandungan, membawa kepahitan (Ibr. 12:15), dan kehancuran (Mat. 12:35). Mereka ikut dalam pertempuran di lapangan tetapi sebenarnya mereka tidak bertujuan memenangkan peperangan. Seseorang yang mengutamakan dirinya sendiri sebaiknya melihat dulu dosa-dosa yang sudah dilakukannya, dan bagaimana Yesus telah mati bagi dirinya dengan merendahkan diri dan menerima siksaan yang berat. Bagi Paulus, sikap perpecahan ini menyedihkan dan itulah dasar dari suratnya.

 

 

 

Kedua: Baptisan dan keutamaan denominasi (ayat 13-16)

 

Pada waktu surat ini ditulis, memang belum ada kitab Perjanjian Baru sebagai sebuah kitab suci referensi bersama. Jadi semua orang sangat tergantung kepada pengajar masing-masing. Ada yang merasa kalau murid Kefas (nama Petrus dalam bahasa Aram) adalah rasul yang paling berwibawa saat itu, ada yang merasa murid Paulus (sebab ia pernah tinggal disana), ada yang merasa murid Apolos dari Aleksandria yang pandai berpidato dan mengeluarkan kata-kata “berhikmat” dan senang pada keanggunan sastra (band. Kis. 18:24; 19:1), dan ada pula yang merasa menjadi murid Kristus langsung. Kemungkinan juga mereka ini dibaptis oleh masing-masing gurunya tersebut sehingga membedakan baptisan-baptisan yang ada dan mereka memiliki karunia-karunia yang berbeda kualitasnya. Dengan demikian mereka menjadikan Kristus yang terbagi-bagi, tidak lagi dalam satu tubuh-Nya.

 

 

 

Bagaimana pun Kristus tidak dapat terbagi-bagi berdasarkan baptisan dan guru atau pengajar, bahkan rasul sekalipun. Namun bagi jemaat Korintus mereka berpikiran adanya hubungan khusus antara yang membaptis dan mereka yang dibaptis. Mereka merasa pembaptislah yang menjadi pemilik hidupnya (karena berlatar belakang pemikiran budak), seolah-olah kewibawaan atau “kebesaran” nama dan kepintaran berpidato oleh orang membaptis itu menjadi sebuah keistimewaan dalam baptisan, semacam memiliki kekuatan rohani yang berbeda. Jelas ini cara berpikir yang salah. Bahkan mereka juga menjelek-jelekkan baptisan orang lain, bahwa baptisan oleh pihak lain itu tidak sah, tidak berwibawa, kurang memiliki Roh yang kuat, dan sebagainya, sementara baptisan mereka adalah yang penuh wibawa, penuh Roh, dan berdasarkan hikmat yang lebih besar, dan sebagainya. Inilah yang membuat mereka menempatkan diri sebagai kelompok eksklusif dan menjadi biang keladi perpecahan jemaat. Padahal, tujuan dibaptis adalah sesuai dengan perintah Kristus dan mencirikan mereka bukan manusia lama, dan mereka yang sudah dibaptis ke dalam Kristus akan menjadi manusia baru (band. Rm. 6:1-11).

 

 

 

Hal ini juga yang menjadi pergumulan umat Kristen saat ini. Masih banyak gereja-gereja yang mengaku bahwa baptisannya (selam) sah dan baptisan yang lain (percik) tidak sah. Ada yang bahkan mengaitkan baptisan (selam) dengan syarat keselamatan sehingga mewajibkan baptisan ulang, yang berarti mengabaikan dan menihilkan baptisan sebelumnya. Mereka ini menyatakan bahwa baptisan kepada bayi dan anak-anak tidak sah. Sikap seperti ini jelas bukan meneladani Kristus dan para rasul yang merendahkan diri demi untuk pelayanan. Hal yang lebih mengkhawatirkan juga akibat dari pandangan ini, jemaat masa kini banyak yang menjadi lebih berpihak pada manusia (gembala, pendeta) yang menahbiskannya, bersedia bertengkar demi mengikuti pandangan yang “salah” tersebut, dan bukan berpihak pada Kristus, sumber kuasa Roh dalam baptisan. Ini bahayanya kalau orang hanya mendengar khotbah tanpa membaca ulang firman-Nya, akan ada fanatisme buta. Pesan pengkhotbah tidak lebih utama dan benar dari firman. Kekuatan bukan pada yang bercerita, tetapi pada ceritanya (get the story, not the storyteller). Kebanggan kita bukan pada pengkhotbah melainkan pada Tuhan Yesus. Inilah yang ditekankan oleh Firman-Nya melalui Rasul Paulus, agar kita tetap dalam kasih dan kesetiaan kita kepada Allah, berfokus pada Sumbernya yakni Tuhan Yesus, berfokus pada misi-Nya, dan bukan pada orang yang membaptis kita di dunia ini. Firman Tuhan berkata, membanggakan kelompok sesuai baptisan menunjukkan bahwa kamu adalah manusia duniawi yang bukan rohani (1Kor. 3:4).

 

 

 

Ketiga: Kita dibaptis untuk diutus (ayat 17)

 

Meski Paulus menyatakan bahwa dia dipanggil bukan untuk membaptis, baptisan bukan berarti tidak perlu. Tuhan Yesus memerintahkan baptisan (Mat. 28:19) dan juga dikhotbahkan oleh para rasul (Kis. 2:41). Baptisan sebagai “pengganti” dan sejajar dengan sunat merupakan pemersatu kita dengan Kristus. Pemersatuan itu disimbolkan dengan adanya air, baik itu dalam bentuk percikan maupun dalam bentuk diselamkan. Memang kata baptis berarti diselamkan, akan tetapi diselamkan dalam pengertian diselamkan secara rohani ke dalam Roh, bukan hakekatnya ke dalam air, sebab air itu hanyalah tindakan simbolis saja.  Pengertian dibaptis atau diselamkan dalam hal ini diutamakan dipersatukan ke dalam kematian Tuhan Yesus dan kebangkitan-Nya. Baptisan juga tidak ada hubungannya dengan pengudusan dan juga dengan keselamatan, sebab keselamatan itu hanya melalui pertobatan, iman, ketaatan, dan kasih karunia saja (band. Kis. 2:38). Itu hanya merupakan tanda dipersekutukan dan tidak ada salahnya bila dipakai sebagai persyaratan keanggotaan gereja tertentu, namun bukan pada keselamatan.

 

 

 

Rasul Paulus sendiri tidak terlalu berminat dalam membaptis sehingga ia katakan hanya membaptis beberapa orang saja. Tugas itu lebih ia berikan kepada pihak lain yang secara teologis memang siapa saja orang percaya dapat melakukannya, meski aturan gereja kadang menyebutkan harus dilakukan oleh hamba Tuhan yang ditahbiskan (Pendeta). Rasul Paulus lebih menekankan tugas dan pelayanannya dalam pemberitaan Iniil, sebab menurutnya untuk itulah dia dipanggil, bukan dipanggil untuk membaptis. Dalam pandangannya, sepanjang baptisan itu di dalam nama Tuhan Yesus (beserta Allah Bapa dan Roh Kudus), maka semua baptisan itu sudah sah dan mempersatukan kita dengan Dia. Dengan demikian, firman Tuhan yang disampaikannya lebih menempatkan kedudukan baptisan pada pengertian yang sebenarnya, bukan diartikan menjadi sesuatu yang membuat perbedaan baik dalam cara maupun dalam kualitas berkat dan karunia yang diterimanya. Oleh karena itu Rasul Paulus sebagai pembimbing mereka, dalam kekecewaannya dengan perpecahan karena baptisan ini sampai mengatakan: "Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut'?" (1Kor. 4:21).

 

 

 

Oleh karena itu seyogianya bagi kita yang diberi karunia berkata-kata dalam hikmat seperti Apolos dalam pengertian pandai berkhotbah, jangan melupakan bahwa fokus utama panggilan kita adalah untuk terus memberitakan Injil, bukan dengan membangun gereja yang baru, kelompok baru, menghimpun anggota untuk kepentingan diri sendiri, sehingga tujuan utama pemberitaan Injil menjadi terpinggirkan atau tidak fokus. Itulah sebabnya Rasul Paulus tidak mau terjebak dalam pidato atau khotbah yang menggebu-gebu, berkata-kata dengan bunga rampai hikmat duniawi, melainkan ia mengandalkan kekuatan Roh dalam pemberitaan Injil, agar semakin banyak orang yang bertobat, percaya, dan taat agar menerima kasih karunia itu (1Kor. 2:1, 4). Bagi dia, pemberitaan Injil dan Kristus yang disalib dan bangkit kembali merupakan hal yang utama, bukan mempersoalkan baptisan, bukan perbedaan karunia rohani, sebab hal demikian membuat salib Kristus menjadi sia-sia atau kosong kehilangan tujuannya.

 

 

 

Keempat: Pemberitaan salib itu kekuatan Allah (ayat 18)

 

Ada banyak makna salib bagi banyak orang. Ada yang membuat salib sebagai perhiasan di baju, digantungkan di leher; ada yang membuat sebagai hiasan di dinding rumah; ada yang membuat sebagai senjata atau bahkan menjadi tiang jemuran; tapi secara umum salib adalah simbol kekristenan, sebab Yesus mati di kayu salib dan curahan darah-Nya itulah yang menjadi penebusan dosa umat manusia. Alkitab berkata bukan lagi persembahan hewan dan percikan darahnya di bait Allah di Yerusalem yang dapat menghapuskan dosa manusia, melainkan hanya dengan mengakui dan percaya bahwa Yesus menderita dan telah mati bagi dia, kita sudah ditebus oleh-Nya, darah-Nya yang kudus telah menguduskan kita, dan bertobat serta taat akan firman-Nya, maka salib itu memiliki makna khusus dalam hidup kita.

 

 

 

Bagi mereka yang mengutamakan penggunaan akal pikiran dalam mencerna penebusan Yesus di salib, itu tampak seperti hal yang tidak masuk akal. Kesannya, bagaimana mungkin seseorang mati di kayu salib bisa menggantikan segala dosa-dosa yang kita lakukan. Bagi mereka, yang terus mengutamakan penggunaan akal dan mengandalkan semua logika duniawi, ini dipandang sebagai kebodohan. Kesombongan intelektual mereka membuat mereka menolak, tetapi ketidakpercayaan itulah yang membuat mereka menjadi binasa. Nas minggu ini mengatakan, pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka. Mereka tidak sadar bahwa justru itulah keunikan dan kekhususan kekristenan, dengan kebenaran pengampunan dan keselamatan hanyalah kasih karunia dan anugerah.

 

 

 

Tetapi sebaliknya bagi kita yang percaya pada penebusan Yesus, mengakui salib itu adalah kekuatan Allah. Salib itu adalah tempat Allah memperlihatkan kasih-Nya dengan bersedia menderita dan menerima siksaan hingga mati demi untuk menebus dosa-dosa yang percaya kepada-Nya. Salib bagi kita bukan (hanya) ornamen, hiasan, atau simbol, namun salib sudah menjadi hakekat penebusan. Dengan demikian, pemberitaan salib menjadi kekuatan Allah, sebab apabila kita memberitakan penderitaan Tuhan Yesus, yang mati di kayu salib, dan kuasa-Nya berupa kebangkitan dan naik ke sorga, maka itu menjadi kekuatan bagi mereka yang belum mengenal Dia. Pemberitaan salib memberi hikmat dan kebenaran dengan kuasa yang menyertaiNya, menjadi pintu penerimaan bagi mereka yang belum merasa pasti selamat.

 

 

 

Penutup

 

Melalui nas minggu ini, kita diminta untuk terus bersatu dan saling membahu dalam mengabarkan Injil dan salib. Pemberitaan salib adalah kekuatan Allah. Kita tidak perlu berpisah dan menjadi terpecah, berdebat soal baptisan atau karunia-karunia rohani yang terbesar di hadapan Allah. Kita harus sepenuh hati memberikan kontribusi sesuai dengan yang diberikan Allah dalam hidup kita, yakni karunia-karunia tersebut. Rasul Paulus menekankan bukan indahnya kata-kata dalam khotbah, ajaran yang glamor, tetapi kembali ke tugas pokok dengan pertanyaan: Apakah diri kita dan gereja kita terus menginjili ke luar? Berjuanglah mendapatkan keharmonisan, jauhkan perdebatan yang tidak perlu dalam kelompok. Kristus yang utama dan nama ini yang ditekankan berulang-ulang pada surat Paulus ini.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 25 Januari 2026

Kabar dari Bukit

 

 MANDIRILAH DAN BEKERJALAH (1Tes. 4: 9-12)

 

 ”Ku tahu benar ‘ku dipegang erat, di gunung tinggi dan samudera; di taufan g’lap ‘ku didekap. Bapa sorgawi t’rus menjagaku" (Lirik NKB 128)

 

 

Perjalanan hidup kadang tidak seperti yang kita harapkan. Hambatan dan tantangan bisa saja muncul tiba-tiba, bagai tamu tak diundang. Masalah menjadi lebih besar jika iman sebagai benteng pertahanan masih lemah, dalam arti belum berpondasi kuat. Akhirnya sering terjadi lari dari masalah, bahkan berpikir mengambil jalan pintas mengambil yang gampangnya atau ingin mati saja.

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah 1Tes. 4: 9-12. Nas ini menjelaskan tentang situasi jemaat Tesalonika yang baru bertumbuh. Mereka belum lama menjadi pengikut Kristus. Ternyata ketika mereka memperlihatkan identitasnya sebagai orang Kristen, muncul masalah besar dalam kehidupan mereka, baik secara sosial, ekonomi maupun psikis.

 

 

 

Mereka dikucilkan di bidang sosial dengan dianggap tidak setia pada komunitas, membawa ajaran atau pemikiran baru, dicurigai dan dituduh sebagai pengganggu ketertiban. Dalam bidang ekonomi mereka dipersulit di pekerjaan, hubungan bisnis terputus, diboikot yang membuat sulit mencari nafkah. Tentu hal ini tidaklah mudah, malah membawa ke masalah psikis dalam keseharian mereka karena disebut anti-sosial. Apalagi, terkadang datang perlakuan buruk dengan kekerasan (Kis. 17:1–9).

 

 

 

Tentunya kita juga bisa mengalami hal yang serupa saat ini, terlebih kita minoritas di tengah umat mayoritas. Atau di situasi lain, masalah yang datang serasa sedemikian beratnya sehingga kita berpikir tidak mampu lagi mengatasinya; ingin lari menjauh atau mati saja.

 

 

 

Firman Tuhan melalui Rasul Paulus memberi pedoman yang sangat baik menghadapi situasi seperti ini. Yang pertama ditekankan supaya tetap menjaga pola hidup yang berkenan kepada-Nya dan bahkan lebih bersungguh-sungguh (ay. 1-8). Kedua, perlunya kasih persaudaraan diperkuat. Di sini pentingnya mengikuti persekutuan dan bergereja sehingga permasalahan yang ada tidak dihadapi sendirian. Bangunlah kebersamaan dalam kasih persaudaraan dan lakukan lebih bersungguh-sungguh; Itulah bentuk kasih mengasihi dari Allah (ay. 9-10).

 

 

 

Hal ketiga berusahalah untuk mandiri. Ada banyak cara dan jalan untuk dapat bertahan hidup. "Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tanganmu, seperti yang telah kami pesankan kepadamu"  (ay. 11). Tidak perlu grasak-grusuk apalagi mengganggu dan menyulitkan orang lain. Tuhan memberi kita tubuh, tangan, kaki, mata dan lainnya termasuk talenta. Hambatan kemalasan, ego dan kesombongan mesti disingkirkan. Kemandirian adalah kehormatan dan sebuah kebanggaan. Ingat firman Tuhan yang berkata: "Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2Tes. 3:10b).

 

 

 

Terakhir, nas ini meminta untuk tetap menjadikan hidup sebagai sebuah kesaksian. Kasih kepada Allah harus terlihat dalam kasih kepada sesama (1Yoh. 4:20). Kerohanian yang bersih hendaklah seirama dengan etos kerja dan etika sosial. Itulah sikap seorang Kristen sejati, yang ingin memuliakan Tuhan dalam hidupnya. Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Tuhan tidak pernah membiarkan mereka yang terus mencari dan mencari. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar. Akan tetapi, kejahatanmulah yang memisahkan antara kamu dari Allahmu, dan dosamulah yang membuat wajah-Nya tersembunyi dari kamu, sehingga Ia tidak mendengar" (Yes. 59:1-2). Tetap semangat, jangan mudah menyerah.

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026

 Khotbah Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026 (Opsi 2)

 MENGIKUT YESUS (Mat. 4:12-23)

Firman Tuhan bacaan kita Mat. 4:12-23, berbicara tentang awal mula pelayanan Tuhan Yesus, setelah Ia lolos dicobai Iblis di padang gurun. Dalam rencana Tuhan yang indah, Yohanes Pembaptis yang diutus membuka jalan untuk pelayanan Tuhan Yesus, telah ditangkap. Yesus yang ditolak di kampung halamannya di Nazaret (Luk. 4:29), kemudian memutuskan memulai pelayanan-Nya di Kapernaum, Galilea. Ini menggenapi nubuatan PL: "bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang” (ayat 16, Yes. 9:1).

Kesinambungan sebuah pelayanan sangatlah penting. Ucapan Yohanes, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” kini diserukan kembali oleh Tuhan Yesus (ayat 17, band. Mat. 3:2; Yoh. 3:30). Misi Allah tidak boleh vakum atau terputus. Yesus sendiri masih sangat muda saat memutuskan memulai pelayanan-Nya, yakni sekitar tiga puluh tahun (Luk. 3:23). Pemilihan Galilea sebagai tempat pelayanan pertama juga sangat tepat, karena penduduk Galilea sangat beragam, bukan mayoritas Yahudi. Penduduk Galilea lebih terbuka menerima pemikiran dan pengajaran baru.

 

Dalam Yudaisme, mereka yang ingin belajar keagamaan bebas memilih gurunya. Tuhan Yesus melakukan hal yang berbeda, yakni justru Dia yang memilih murid-murid-Nya. Itulah yang dilakukan dengan meminta Simon Petrus dan Andreas, kemudian Yakobus dan Yohanes. Mereka ini memiliki pekerjaan tetap, seperti Simon sebagai nelayan penjala ikan, kini diminta Tuhan Yesus ikut sebagai penjala manusia (ayat 19).

 

Keputusan cepat keempat murid dalam nas ini untuk mengikut Tuhan Yesus sangat mengesankan. Tidak banyak diskusi tanya jawab. Keempat murid berani mengambil resiko memasuki kehidupan yang penuh perjuangan, tanpa ada kejelasan dan kepastian akan upah dan hasil kerja. Semua itu atas pimpinan Roh meski iblis tidak menyukainya.

 

Kita yang telah mengikut Yesus, perlu bersikap sama. Tetap peduli dengan pelayanan dan jadikan itu panggilan utama hidup kita. Hidup tidak selalu memperhitungkan untung rugi atau resiko. Dan, bersama Tuhan kita pasti aman dan menjadi pemenang. Salib adalah kekuatan kita dalam membawa terang Yesus. Wilayah pelayanan begitu luas yang belum tertanam firman Tuhan Yesus. Ladang yang menguning sangat besar tetapi tidak ada penuai. Semua itu membutuhkan keterlibatan dari sebagian sisi kehidupan kita, kecuali yang terpanggil untuk melayani penuh waktu seumur hidupnya. Itu akan menyenagkan hati Tuhan. Selamat masuk dalam pelayanan.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 36 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13372720
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1452
3313
16578
13332155
16578
114941
13372720

IP Anda: 216.73.216.34
2026-02-05 05:37

Login Form