Monday, June 29, 2026

2026

Khotbah Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026

Khotbah Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026

 PERJUANGAN MELAWAN DOSA (Rm. 7:15-25a)

Bacaan lainnya: Kej. 24:34-38, 42-29, 58-67 atau Za. 9:9-12; Mzm. 45:10-17 atau Mzm. 145:8-14 atau Kis. 2:8-13; Rm. 7:15-25a; Mat. 11:16-19, 25-30

Pendahuluan

Nas minggu ini kembali mengulas kedudukan hukum Taurat sebagai bagian dari salah satu cara Allah membawa manusia untuk dapat menyenangkan hati-Nya, yang diturunkan saat bangsa Israel dalam perjalanan kembali ke tanah Kanaan melalui pimpinan nabi Musa. Dalam perjalanannya, manusia berusaha berjuang untuk mematuhi hukum tersebut dan dalam kenyataannya sejarah mencatat melalui berbagai pergumulan dalam sejarah Israel; manusia gagal mematuhi hukum Taurat. Allah tidak menginginkan manusia ciptaan-Nya menjadi binasa karena tidak seorang pun bisa selamat. Melalui nas minggu ini kita diberi pengajaran penting sebagai berikut.

 

Pertama: Kuasa dosa di dalam tubuh (ayat 15-17)

Ayat-ayat ini merupakan jeritan hati seseorang yang putus asa - menggambarkan pengalaman setiap orang percaya yang berjuang melawan dosa atau mencoba berusaha menyenangkan hati Allah dengan memelihara hukum-hukum dan aturan, tanpa bantuan pertolongan Roh Kudus. Hukum Taurat sendiri itu baik dan bersifat kudus, memperlihatkan sifat dan keinginan Allah terhadap manusia untuk menjadi kudus, yang menggambarkan rupa Allah. Tetapi dosa dan kuasanya telah mengelabui manusia dengan memutar balikkan aturan yang ada. Di dalam Taman Eden, ular menipu Hawa dengan menantang kebebasannya dan menyudutkannya di satu pembatasan yang Allah telah buat. Hawa digoda penipu licik dan berhasil. Bahkan setelah kejadian itupun, manusia terus memberontak terhadap Allah. Dosa memang bisa menjadi sesuatu yang menarik dan menantang, sebab Allah mengatakan hal itu adalah salah. Itu bisa kita lihat sederhananya dengan berpikir mangga curian lebih enak rasanya dibanding mangga yang dibeli di pasar. Namun perlu waspada, ketika kita digoda untuk berbuat dosa, kita perlu melihat hukum Taurat dan aturannya yang tertulis dengan sudut pandang yang lebih luas, yakni dari cahaya kebaikan dan anugerah Allah. Jika kita melihat kasih Allah Bapa yang demikian besar, kita akan mengerti bahwa Allah sebenarnya membatasi tindakan dan sikap kita yang tujuannya membuat kita jauh dari bahaya dan penderitaan.

 

Rasul Paulus berbagi tiga hal yang dipelajarinya dalam usahanya untuk mengendalikan keinginan berbuat dosa. Pertama, pengetahuan tentang hukum dan aturan bukanlah sebuah jawaban atau jaminan akan ketaatan. Kita tahu, banyak hakim, polisi, jaksa, pengacara, dan bahkan Ketua Mahkamah Konstitusi RI pun akhirnya menjadi tersangka dan dihukum. Oleh karena itu, Rasul Paulus mengatakan ia merasa lebih nyaman apabila ia tidak mengerti apa yang diinginkan oleh hukum. Ia tahu hukum Taurat itu baik tapi ia sendiri tidak mampu melaksanakannya. Ketika kita mengetahui bahwa yang kita lakukan itu sebetulnya bukan yang kita kehendaki, maka seolah-olah kita membenarkan kuasa hukum Taurat itu. Justru sebaliknya, ketika ia belajar tentang kebenaran, ia tahu bahwa dirinya sudah diselamatkan. Kedua, keyakinan diri, berupa perjuangan sesuai kekuatan diri sendiri pasti tidak berhasil. Rasul Paulus menemukan dirinya berdosa dengan jalan yang sebenarnya tidak menarik hatinya, cara-cara yang bahkan tidak menarik baginya, bahkan membenci tindakan-tindakannya yang bertentangan dengan hukum itu (Rm. 7:15-20).

 

Tetapi dosa tetap dosa kalau sudah terjadi. Ketika dosa sudah terjadi maka sebenarnya dosa telah menjadi Penguasa atau Bos dalam kehidupan, meski kita tidak suka. Dalam hal inilah terjadi kebingungan dalam diri kita, sama seperti yang dirasakan Rasul Paulus. Ia merasa memiliki pribadi ganda: satu yang asli dengan keinginan baik dan batin yang ingin ketenangan, tetapi di lain pihak ada pribadi lain yakni pribadi palsu yang mengendalikan hidupnya. Ada sebuah kekuatan yang mengendalikan sisi hidupnya yang lain, yang sulit dikalahkan dan selalu membawa dia ke bagian yang tidak menyenangkan batinnya dan secara otomatis juga hati Allah. Dengan demikian ia berkata, bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Dalam suratnya yang lain, Rasul Paulus mengkategorikan hal yang baik dan batin itu sebagai kekuatan roh, dan hal yang jahat itu adalah kekuatan daging. "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki" (Gal. 5:17).

 

Kedua: Kehendak bebas untuk berbuat jahat (ayat 18-20)

Rasul Paulus merendah dengan mengatakan tidak ada sesuatu yang baik di dalam dirinya. Ia mengulangi kalimat-kalimat dalam ayat sebelumnya (15-17) sebagai penegasan bahwa hal itu benar dan merupakan pergumulan yang hebat baginya. Mungkin ia merasa bahwa hal baik yang dilakukannya pun tidak memuaskan dirinya; Ia merasa dirinya tidak berhasil melakukan yang terbaik bagi Tuhan yang telah memberinya begitu banyak. Ia merasa terlalu sedikit melakukan hal baik yang membuat batinnya bergejolak dalam ketidakpuasan. Ia juga merasa bahwa segala hal baik yang ia lakukan itu hanyalah sikap rasa syukur atas apa yang diperolehnya dari Tuhan, sehingga tidak layak untuk dibanggakan. Sementara itu ia merasa terlalu banyak melakukan hal yang jahat dan itu semua disadarinya, ada kuasa didalam dirinya beban yang terbawa-bawa sehingga membuat demikian.

 

Kita perlu melihat perihal yang disampaikannya pada pasal sebelumnya yakni tentang beban dosa yang diembannya. Beban dosa ini menurutnya merupakan "warisan" dari Adam yang sering disebut sebagai dosa asal atau dosa warisan. Tentang dosa asal ini kaum Palagianisme berpendapat bahwa dosa Adam tidak mempunyai pengaruh terhadap keturunannya. Jadi dosa Adam terputus hanya pada Adam saja. Kaum Arminianisme mengatakan bahwa dosa Adam telah mengakibatkan seluruh manusia mewarisi kecenderungan untuk berdosa, yang membuat kita memiliki “natur dosa.” Natur dosa ini terjadi secara alamiah yang menyebabkan kita berdosa sebagaimana halnya natur seekor kucing yang menyebabkannya mengeong. Sama seperti Palagianisme, menurut pandangan ini, kita tidak bertanggung jawab atas dosa Adam, tapi hanya dosa kita sendiri. Memang manusia tidak dapat menghilangkan kecenderungan dan berhenti berdosa dengan kemampuannya sendiri, oleh sebab itu Allah memberi suatu anugerah umum kepada semua orang yang memampukan kita untuk berhenti berdosa atau MENJADI orang yang tidak berdosa. Dalam Arminianisme, anugerah ini disebut anugerah asal. Namun sayangnya, pandangan anugerah asal sebenarnya tidak memiliki dasar alkitabiah. Sementara Yohanes Calvin berpendapat lain, bahwa dosa Adam bukan hanya mengakibatkan kita memiliki natur dosa, tetapi juga atas kesalahan kita di hadapan Allah, maka untuk itu kita patut dihukum. Oleh karena Adam telah ditemukan bersalah dan dia berdosa, maka dosa dan hukumannya (termasuk maut dan kematian) itu menjadi bagian kita juga (Rm. 5:12-19). Ada dua alasan menurut Calvin mengapa kesalahan Adam harus dilihat sebagai dosa kita juga. Alasan pertama menyatakan bahwa suku-suku bangsa adalah di dalam Adam dalam bentuk bibit; dengan demikian ketika Adam berdosa, kita berdosa di dalam dia. Alasan lainnya adalah bahwa Adam sebagai wakil kita dan karena itu ketika dia berdosa, kita juga dinyatakan bersalah.

 

Akan tetapi, bagaimana Allah dapat meminta kita bertanggung jawab untuk dosa yang kita tidak lakukan secara pribadi? Untuk ini ada sebuah penjelasan yang dapat diterima yaitu bahwa kita bertanggung jawab untuk dosa asal ketika kita memilih untuk menerima, dan bertindak menuruti natur kita yang berdosa. Ada satu titik dalam hidup ketika kita menjadi sadar terhadap keinginan berdosa diri kita sendiri. Pada saat itu kita harus menolak natur dosa yang ada dan bertobat. Sebaliknya, apabila kita “menyetujui” natur berdosa, mengikuti dan menikmati keberdosaan tersebut, maka kita sebenarnya menyatakan persetujuan dengan perbuatan Adam dan Hawa di Taman Eden; oleh karena itu kita bersalah atas dosa mereka tanpa ikut melakukannya. Bagian atau porsi kita dalam hal ini terjadi ketika kita menerima dosa sebagai bagian hidup kita, yakni saat pertama kali kita melakukan hal yang tidak sesuai dengan firman dan kehendak Allah. Inilah yang menjadi "beban" di dalam diri setiap orang, sehingga menurut Paulus, "bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku" (ayat 19-20).

 

Ketiga: Menjadi tawanan hukum dosa (ayat 21-23)

Menjadi manusia baru bukan sekedar mengambil momen iman sesaat, melainkan menjadi serupa dengan Yesus yang membutuhkan proses panjang dan seumur hidup. Untuk itu Rasul Paulus mencoba membandingkan pertumbuhan kerohanian Kristen seperti latihan pertandingan badani (1Kor. 9:24-27; 2Tim 4:7). Sebab itu dalam awal suratnya, Rasul Paulus menyatakan tidak satupun di dunia ini yang bebas dari dosa; tidak seorangpun yang layak diselamatkan, baik mereka yang hidup dalam aliran sinkritisme yang tidak mengenal Allah, maupun mereka yang mengetahui hukum dan mencoba memelihara hukum-hukum itu. Memang dalam hal ini Rasul Paulus memberi nilai pada hukum Taurat dengan menegaskan bahwa sesungguhnya ia suka dan merindukan apa yang baik dari hukum itu, meski mengakui bahwa tetap saja ia melakukan hal yang buruk dan jahat. Dengan kata lain, ia mengakui bahwa dosalah yang membuat seseorang menjadi jahat.

 

Memang ada tekanan yang besar pada pengalaman kehidupan kekristenan setiap hari. Sering terjadi konflik bathin antara kita setuju dengan perintah Allah, akan tetapi kita tidak dapat mengikutinya. Sebagai hasilnya, kita merasakan penderitaan yang besar karena pertentangan itu. Manusia lahiriah kita diperadukan dengan manusia batiniah yang dilengkapi oleh akal budi, sebagai wujud hukum Allah dalam pemahaman Paulus. Ini menjadi sebuah pertentangan batin yang setiap orang alami. Dalam hal ini Rasul Paulus memberi pelajaran menyikapi hal tersebut. Apabila kita merasa takluk dalam pertentangan batin itu, maka kembalilah pada dasar kehidupan kerohanian kita, yakni bagaimana dosa-dosa kita telah dibebaskan oleh hukum kasih karunia (band. 2Kor. 4:16). Ini bisa membebaskan dari rasa bersalah. Dalam hal ini kita yang sudah lahir baru, yang sudah menerima kasih karunia pembebasan dosa, perlu mengingat firman-Nya: "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya" (Gal. 5:24).

 

Oleh karena itu jangan pernah menyepelekan kekuatan dosa. Jangan juga mencoba melawannya dengan kekuatan diri sendiri. Setan itu penggoda yang licik, dan sebaliknya kita manusia mempunyai kemampuan yang hebat dalam mencari pembenaran diri sendiri. Kita sangat ahli dalam memberi dalih dan alasan mengapa kita jatuh ke dalam dosa. Padahal, itu sebenarnya tanda-tanda kita telah menjadi tawanan dosa. Menjadi tawanan (hukum) dosa atau hamba dosa berarti ada benih-benih atau racun di dalam anggota-anggota tubuh kita. Ini menjadi sesuatu yang mudah berbiak menjadi dosa, yang memperlihatkan hakekat kesetiaan pada jalan lama yakni menyenangkan dan melayani kesenangan diri sendiri dibanding dengan menyenangkan hati Allah. Manusia lama kita yang masih suka dengan dan takluk dengan hukum dosa, itulah yang perlu berubah menjadi manusia baru yang menuruti akal budi yakni hukum Allah melalui kuasa Roh Kudus (band. Kol. 3:9-10; Gal. 5:17; 1Pet. 2:11).

 

Keempat: Yesus yang melepas kita dari dosa (ayat 24-25)

Inilah yang ingin dijelaskan firman Allah minggu ini melalui Rasul Paulus, yakni menjadi seorang Kristen tidak membuat kita terbebas dari dosa dan juga terlepas dari godaan serta ujian di dalam kehidupan pribadi kita. Perjuangan melawan dosa berlangsung terus menerus. Yang utama, daripada mencoba melawan dosa dengan kemampuan diri sendiri, lebih baik kita berpegang pada kuasa yang luar biasa dari Kristus yang disediakan bagi kita. Kuasa ini adalah penyediaan pemeliharaan Allah untuk menjamin kemenangan kita atas dosa, yakni dengan Ia memberi Roh Kudus untuk hidup di dalam diri kita dan memberi kita kekuatan. Dan ketika kita jatuh, kasih-Nya menggapai untuk menolong kita bangkit kembali.

 

Maka ketika kita merasakan kebingungan atau ditaklukkan oleh dosa, mari kita mengklaim pembebasan yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada kita. Kuasa-Nya dapat mengangkat kita pada kemenangan. Kita perlu sadar bahwa tubuh dan kedagingan kita memang menjadi ajang pertempuran oleh hukum dosa dan hukum Allah. Kita menjadi orang celaka dan terbelenggu dan bersalah ketika kita takluk, menjadi tidak berdaya dan melihat kesia-siaan. Akan tetapi, kita akan menjadi pemenang ketika kita berhasil melewati pergumulan itu, saat kita bersama Yesus Kristus. Kalaupun kita sesekali kalah, datanglah mengakui kelemahan diri kita dan akan diperdamaikan kembali. Kesadaran akan adanya dua "pribadi" dalam diri setiap orang, jangan membuat kita menjadi apatis. Kita tidak perlu berputus asa dengan situasi itu. Kita hanya perlu datang dengan penyesalan berat dan memohon pengampunan, memohon kekuatan baru untuk dapat tegak kembali (Rm. 8:11,13).

 

Bagi kita yang utama adalah memahami bahwa pengetahuan tentang hukum dosa tidak memiliki makna untuk mengubah menjadi pribadi yang baik dan berakal budi. Pengharapan selalu ada yakni di dalam Kristus, yang melepaskan kita dari tubuh maut ini, yakni tubuh yang tidak abadi, dan akan digantikan dengan tubuh kemuliaan di akhir zaman. Itulah ucapan syukur kita kepada-Nya. Semua kita pada akhirnya tergantung kepada karya Kristus untuk menyelamatkan kita dari kebinasaan maut. Kita tidak mendapatkan itu dari sikap kita yang baik saja, tetapi dari penyerahan diri sepenuhnya dalam hidup baru (Yoh. 3:3; 2Kor. 5:17). Sepanjang ada dorongan melaksanakan kehendak Allah, maka Allah terus berkuasa membawa hidup kita di jalan kebenaran, dan sejatinya itu pasti berbuah hal yang sangat disukakan oleh Allah.

 

Penutup

Nas minggu ini sungguh memberikan gambaran pergumulan hati seseorang tentang bagaimana kuasa dosa bekerja di dalam tubuh setiap orang. Ini merupakan pengalaman pribadi Rasul Paulus yang menjadi firman Tuhan. Kuasa itu dapat datang dari dosa asal atau dosa turunan yang merupakan kecenderungan berdosa atau bahkan merupakan bagian kita dari dosa kakek-nenek atau orang tua kita. Kecenderungan dosa yang mengikuti keinginan daging dan dunia juga mendorong setiap orang untuk melakukan hal yang jahat, meski itu bukan kehendaknya. Inilah situasi sebenarnya dan kita menjadi tawanan dosa, hamba dosa yang tidak bisa lagi melakukan hal yang (lebih) baik. Kita bersyukur, dengan kasih Allah yang demikian besar dan melalui anak-Nya Tuhan Yesus Kristus, kita mampu lepas dari perhambaan dan menjadi pemenang dalam perjuangan melawan dosa. Oleh sebab itu kita bersyukur dan berkata, terpujilah Tuhan yang Mahabaik.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026

Khotbah Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026 – Opsi 2

 KUK DAN KELEGAAN (Mat. 11:16-19, 25-30)

 “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya” (Mat. 11:27).

Firman Tuhan Minggu ini Mat. 11:16-19, 25-30, berbicara tentang dua hal: Pertama, tentang kekecewaan Tuhan Yesus kepada orang Yahudi yang banyak berkumpul di hadapan-Nya. Sikap mereka seperti anak-anak di pasar, mendua. Mereka menolak pesan penghakiman Yohanes yang diungkapkan dengan tidak makan dan minum. Mereka mempertanyakan, harapan mereka terhadap Yesus dan Yohanes tidak sesuai dengan gambaran Elia dan Mesias (lihat ayat 14). Jelas ini salah, kita tidak bisa mengukur kebenaran dengan pengharapan kita. Cara pandang yang rendah hati, justru membuat kita dapat melihat karya dan kebesaran Tuhan.

 

Tuhan Yesus sebenarnya telah melakukan berbagai mukjizat (ayat 20-21), pengajaran-Nya penuh kuasa, tetapi masih banyak yang tidak mau mendengar. Ia sampai berkata, "Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung” (ayat 17). Peringatan Tuhan Yesus ini membuat ada pandangan, bahwa tidak semua orang akan selamat masuk sorga. Ada yang terus tertutup hatinya, dan mereka kelak pasti akan dihukum.

 

Tetapi tetap banyak yang mau mendengar dan mengikut Dia, termasuk kita, dan menjadikan-Nya sebagai Penolong dan Juruselamat. Kita terus berusaha untuk memahami kehendak-Nya dan mengikuti ajaran-Nya. Ya, kadang kala kita melenceng, jatuh, tergoda oleh kedagingan dan peran iblis. Itu jangan membuat kita patah semangat dan putus asa. Iblis sebagai pendusta dan perusak rencana Allah dalam hidup kita, akan terus menjerat untuk kita mengikutinya. Padanan nas minggu ini sesuai leksionari, Rm. 7:15-25a, juga mengingatkan tentang perjuangan melawan dosa. Kita jatuh berdosa karena ada kuasa dosa dalam tubuh kedagingan kita, ada kehendak bebas, dan kita membiarkan diri kita menjadi tawanan hukum dosa. Tetapi melalui Tuhan Yesus, kita diselamatkan melalui kasih dan anugerah-Nya.

 

Mereka yang tertutup hatinya, itu karena mengandalkan kepintaran dan juga kesombongan diri. Mereka melihat Yesus sebagai Tuhan dan Alkitab wahyu Allah, selalu dengan sudut pandang akal dan kemanfaatan. Bila tidak logis atau merugikan, ya abaikan saja. Bila tidak boleh cerai atau punya istri lebih dari satu, misalnya, ya pindah saja ke agama lain yang membolehkannya. Oleh karena itu Tuhan Yesus berkata: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil (ayat 25).

 

Bagian kedua nas ini berbicara tentang kuk dan kelegaan. Kelemahan daging, ego dan pekerjaan iblis, membuat kita terkadang masuk dalam pergumulan dan beban yang berat. Masalah dalam kehidupan sering menjadi melelahkan. Pengharapan juga mungkin semakin tampak jauh wujudnya. Untuk itu Tuhan Yesus berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (ayat 28).

 

Bagi kita yang letih dan berbeban berat saat ini, baik akibat dampak sakit berkepanjangan, kehilangan orang terkasih, atau penyebab lain, semua itu ada setahu dan seizin Tuhan. Tetapi Tuhan tidak mencobai siapa pun termasuk kita anak-anak-Nya. Justru tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, diseret dan dipikat olehnya. (Yak. 1:13-14). Tuhan kita justru mengekspresikan diri-Nya dengan mengutip Yer. 16:6: "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (ayat 29). Artinya, saat kita lelah berbeban berat, kita hanya perlu datang kepada Tuhan Yesus, sujud di kaki-Nya, mengakui segala dosa kesalahan, belajar taat dan tunduk, mengenal-Nya lebih dekat, dan memohon pertolongan, agar beban yang ada saat ini kiranya dilepaskan dan kita beroleh kelegaan.

 

Tuhan Yesus tidak akan membiarkan kita melewati semua persoalan sendirian (Flp. 4:13; 1Kor. 10:13). Kasih, hikmat, dan kuasa-Nya selalu tersedia untuk menjaga dan menjawab setiap persoalan yang kita hadapi. "Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (ayat 30). Tekuklah lutut kita, angkat tangan, dan Tuhan akan turun tangan dengan senang hati.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 28 Juni 2026

Kabar dari Bukit

 

 HIDUP DALAM KEBENARAN DAN KASIH (Rm. 6:12-23)

 

 ”Buah apakah yang kamu petik waktu itu, yang menyebabkan kamu merasa malu sekarang? Kesudahan semua itu ialah kematian” (Rm. 6:21, TB2)

 

Selamat hari Minggu.

 

Dalam dua renungan minggu-minggu lalu telah diterangkan tentang “Menjadi Harta Kesayangan Tuhan” (Kel. 19:2-8a) dan “Menjadi Satu Dengan Kematian Kristus” (Rm. 6:1b-11). Kedua pesan nas tersebut berkaitan dari Allah bagi umat Israel (dan kita) melalui Nabi Musa, agar sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian dengan-Nya sehingga kita menjadi harta kesayangan-Nya dari antara segala bangsa. "Kamu akan menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus bagi-Ku" (Kel. 19:5-6).

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Rm. 6:12-23; ini merupakan kelanjutan nas minggu lalu, yang menjelaskan konsekuensi praktis kemerdekaan kita. "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran" (ay. 18). "Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi sekarang hidup" (ay. 13).

 

 

 

Untuk itu kita perlu memeriksa anggota tubuh mana yang selama ini menjadi alat sumber dosa? Apakah mulut (berkata kotor atau dusta), tangan dan kaki (suka kekerasan), mata (suka melirik yang tidak perlu), atau lainnya? Maka beri perhatian dan kendalikan. Jadikan "tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah" (Rm. 12:1). Tentu semua dari hati dan pikiran dan itu adalah pilihan dan keputusan.

 

 

 

Kedua, tegas dan teguh dalam memilih antara menjadi hamba dosa yang memimpin kepada kedurhakaan dan kematian, atau kita hamba kebenaran yang membawa kepada pengudusan (ay. 16, 19). Ini pilihan yang didasari kesadaran, pemahaman, latihan dan pengendalian. Ketika kuasa dosa sudah dipatahkan, kita tidak otomatis bebas dari godaan yang kembali menjerat. Untuk itu tetap harus sadar, waspada dan memilih setiap hari untuk tidak menuruti keinginan daging, dunia dan persuasi iblis, seolah dampak dosa itu tidak bahaya. Ingat ketika iblis/ular menggoda Hawa (Kej. 3:1-6).

 

 

Dosa dengan segala bentuk dan daya tariknya, tidak lagi memiliki hak dan kuasa atas diri kita, karena kita telah berada di bawah kasih karunia. Jadikan Tuhan sebagai Pemilik dan Pemimpin, hidup dalam kebenaran mengikuti firman-Nya dengan selalu memohon tuntunan Roh Kudus dalam perjalanan hidup kita.

 

 

Ketiga, jadikan kasih sebagai prinsip dan nilai dasar hidup. Sadari dan renungkan bahwa Allah melalui Tuhan Yesus telah mati tersalib bagi kita oleh karena kasih-Nya. Perintahnya juga jelas agar kita hidup dalam kasih (Yoh. 13:34; 1Pet. 4:8). Ini salah satu cara mengubah kita yang terbiasa dengan (perbuatan) dosa, dapat memampukan fokus dalam hidup, yang secara otomatis mengalihkan energi dan kendali kita untuk menyenangkan Allah, bukan memuaskan diri kita sendiri.

 

 

Terakhir, renungkan ayat pembuka: buah apakah yang kamu petik dari berbuat dosa? "Kesudahan semuanya itu ialah kematian” (ay. 21). Tetapi, pegang dan pahami betul kesimpulan nas minggu ini, "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (ay. 23). Hidup kekal bukanlah upah dari usaha kita, melainkan karunia gratis dari Allah melalui Yesus Kristus yang mengasihi kita.

 

Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026

Khotbah Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026 - Opsi 3

 

 JODOH DAN TUHAN (Kej. 24:34–67)

 

 ”Dan mereka memberkati Ribka, kata mereka kepadanya: "Saudara kami, moga–moga engkau menjadi beribu–ribu laksa" (Kej. 24:60a)

 

Kisah perjalanan hidup Abraham, Ishak, Yakub, hingga Yusuf dijual ke Mesir rasanya masih melekat di kepala saya sejak guru sekolah minggu menceritakannya. Kisah ini menarik dan penuh petualangan, dengan berbagai kisah cinta serta dinamika kehidupan. Bagaikan sinetron berseri, setiap minggu kita penasaran dengan kelanjutannya, membuat sekolah minggu menjadi kegiatan yang dinanti-nantikan.

 

Firman Tuhan hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 24:34–67. Ini menceritakan Abraham mencari istri untuk Ishak, anaknya. Sara baru meninggal. Seperti orang Batak zaman dahulu, orang Israel lebih mengutamakan mencari istri dari kerabatnya. Abraham pun mengutus hambanya, Eliezer, untuk mencari pasangan bagi Ishak, dengan sumpah agar tidak melenceng dari petunjuk Tuhan.

 

Setelah menempuh perjalanan jauh, Eliezer merasa kehausan dan menemukan sumur. Ia kemudian meminta tanda dari Tuhan dan berdoa: “Apabila seorang gadis datang ke luar untuk menimba air dan aku berkata kepadanya: Tolong berikan aku minum air sedikit dari buyungmu itu, dan ia menjawab: Minumlah, dan untuk unta–untamu juga akan kutimba air, – dialah kiranya isteri yang telah TUHAN tentukan bagi anak tuanku itu” (ay. 43–44).

 

Seorang gadis, Ribka, memenuhi tanda tersebut. Ribka pun menjadi pilihan Eliezer setelah diajak bermalam di rumah ayahnya, Betuel. Keluarga Ribka tidak menolak dan mempercayai petunjuk Tuhan. Maka Eliezer memberi perhiasan emas dan perak serta pakaian kebesaran sebagai mahar, lalu membawa Ribka pulang (ay. 53–59). Ishak dan Ribka menikah dan memperoleh anak, salah satunya adalah Yakub. Keturunan Yakub ada 12 orang yang menjadi induk suku bangsa Israel.

 

Pernikahan adalah lembaga pertama yang dibentuk Allah, sesuai firman-Nya, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang SEPADAN dengan dia” (Kej. 1:18). Allah juga memberi perintah agar manusia beranak cucu dan memenuhi bumi (Kej. 1:28; 9:1). Menjadi seorang penolong, kita percaya jodoh ada di tangan Tuhan, apakah berdasarkan dorongan daging dan godaan iblis, bertumbuh karena cinta yang kuat seperti maut dengan nyala api (Kid. 8:6–7), atau melalui perjodohan keluarga sebagaimana nas ini.

 

Ajaran Kristiani menjaga perkawinan dengan mulia: “Keduanya itu menjadi satu daging.... mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat. 19:5b–6). Dalam perkawinan memang kadang ada masalah, tetapi dalam kasih dan iman kita percaya masalah selalu dapat diselesaikan, lambat atau cepat, semuanya soal kesabaran dan menghilangkan ego.

 

Bagaimana dengan mereka yang tidak menikah? Alkitab berkata, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga" (Mat. 19:12).

 

Jadi ada tiga penyebab seseorang tidak menikah. Pertama, lahir demikian dari rahim ibunya, misalnya karena keterbatasan fisik atau genetik, seperti hormon yang mengarah kepada orientasi berbeda. Kedua, karena dijadikan demikian oleh orang lain, misalnya akibat patah hati, trauma dari keluarga, atau pengalaman masa lalu.

 

Faktor ketiga adalah orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri. Ini panggilan hidup seperti Rasul Paulus, dan Alkitab membenarkannya: “Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya, dan melayani Tuhan tanpa gangguan” (1Kor. 7:32, 35).

 

Selain itu, ilmu sosial menyebut faktor lain, seperti mengejar karir, ingin hidup mandiri, tidak prioritas, dan sebagainya. Namun jika seseorang tidak menikah, perlu refleksi diri. Jangan karena ego dan kekhawatiran berlebihan, seperti takut cerai, tidak sanggup membangun keluarga, atau kesombongan dengan standar tinggi dalam mencari pasangan. Semua ini hanyalah alasan manusia, bukan dari Tuhan. Semoga kita dan anak-anak kita memahaminya. “Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti” (Mat. 19:12b).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026

 Khotbah Minggu V Setelah Pentakosta - Minggu 28 Juni 2026

 

 KEBAIKAN DAN UPAH (Mat. 10:40-42)

 

”Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Mat. 10:42)

 

Firman Tuhan hari Minggu ini bagi kita sangat singkat, yakni Mat. 10:40-42, yang menjelaskan tentang buah perbuatan baik bagi para hamba Tuhan dalam kaitannya dengan upah. Latar belakang nas ini adalah pengutusan para murid oleh Tuhan Yesus, sebagaimana nas minggu lalu. Mereka diberitahu akan mendapat kesulitan dan penganiayaan, sebab hakekatnya mereka diutus ke tengah-tengah serigala; untuk itu mereka perlu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:1-16).

 

Tetapi mereka tidak perlu takut dan gentar. Pengharapan akan sesuatu yang menggembirakan tetap tersedia. Hal baik selalu datang, meski di tengah kesulitan dan kesusahan. Untuk itu Tuhan Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya, dan juga kepada kita semua, agar siapa pun siap menyambut sukacita para utusan dan hamba Tuhan, memberi kasih dan perhatian, khususnya bagi mereka yang diutus melayani di bidang penginjilan.

 

Penginjilan berarti mereka yang pergi diutus gereja atau lembaga pelayanan, menjelajah ke tempat-tempat yang belum menerima kabar baik tentang keselamatan dari Tuhan Yesus. Dalam melayani, mereka dikatakan tidak boleh membawa pakaian dan bekal yang banyak (Mat. 10:10). Mereka harus berjalan di dalam iman, bahwa Tuhan Yesus menyertai dan kebaikan pasti ada di semua tempat. Hidup diyakini selalu penuh warna dan mosaik, kumpulan pengharapan dan pergumulan.

 

Hamba Tuhan yang diutus, telah memberikan hidupnya bagi kemuliaan Tuhan. Mereka layak menerima kebaikan. Mereka tidak hidup hanya dari sekadar belas kasihan, melainkan atas tanggung jawab sesama orang percaya.  Alkitab juga mengajarkan bahwa setiap pekerja harus mendapatkan upahnya (Gal. 6:6).

 

Nas minggu ini mengajarkan, setiap kebaikan yang kita berikan kepada hamba-Nya, sama seperti memberi kepada Tuhan Yesus (ayat 40). Tentu ini dengan motivasi yang benar pula. "... Menyambut seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar" (ayat 41). Ini dikuatkan dengan upah yang tidak hilang pada ayat 42 di atas.

 

Berbicara tentang upah perbuatan baik, sangat menarik. Gereja-gereja arus utama tidak menekankan upah. Ini berangkat dari pengajaran Katekismus Heidelberg, yang menyatakan: “barangsiapa yang telah menjadi anggota tubuh Kristus, oleh iman yang sungguh-sungguh, tidak dapat tidak menghasilkan buah berupa perbuatan baik, yang timbul dari rasa syukur kepada Allah” (Mat. 7:18).

 

Di lain sisi gereja-gereja Injili dan terutama aliran kharismatik, agak menekankan upah dari perbuatan baik. Ini berangkat dari berbagai ayat Alkitab, seperti “Orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak akan menuai banyak juga” (2Kor. 9:6). Firman Tuhan lainnya menuliskan, segala sesuatu yang dilakukan oleh orang percaya untuk menyenangkan hati Tuhan, pasti diperhitungkan oleh-Nya (1Kor. 3:14; Kol. 3:14). Ada juga perintah untuk menyimpan harta di sorga (Mat. 6:19-21; Luk. 12:33). Amsal dari Raja Salomo juga menyatakan, bahwa “mereka yang memberi kepada yang lemah akan memiutangi Tuhan” (Ams. 19:17), dan Tuhan akan mengganti dan ada saatnya menuai (Gal. 6:9-10; 2Tim. 4:2; Ef. 6:8; Mat. 16:27; Luk. 6:35).

 

Semua kembali kepada iman dan motivasi kita. Orang percaya layak memberi yang terbaik bagi Tuhan kita, melalui hamba-hamba-Nya yang telah memberi yang terbaik dalam hidup pelayanannya. Hanya dengan demikianlah kerajaan sorga dapat diperluas, Tuhan Yesus senag dan dan nama-Nya semakin ditinggikan.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 13 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14057583
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
19
3719
7654
14008492
121951
131119
14057583

IP Anda: 216.73.216.240
2026-06-30 00:21

Login Form