Monday, January 12, 2026

2026

Khotbah Minggu II Setelah Epifani, 18 Januari 2026

Khotbah Minggu II Setelah Epifani – 18 Januari 2026

  YESUS KRISTUS, TUHAN KITA, ADALAH SETIA (1Kor. 1:1-9)

 Bacaan lainnya: Yoh. 1:29-42; Yes. 49:1-7; Mzm. 40:1-11

 

Pendahuluan

 

Surat 1 dan 2 Korintus ini merupakan penjelasan Tuhan kepada jemaat di Korintus melalui Rasul Paulus tentang masalah gereja yang muncul, yakni terjadinya perpecahan, ketidakdisiplinan, iri hati, masalah moral - mengingat Korintus adalah kota pelabuhan yang maju dan berkembang pesat. Rasul Paulus sendiri pernah tinggal di Korintus selama 18 bulan (Kis 18:1-18). Mengacu pada perkembangan kontekstual, gereja-gereja pada masa kini juga dipanggil untuk melihat dirinya: apakah selalu di jalan Tuhan? Dan, apakah selalu dalam panggilan tugas dan misi-Nya, yakni menjalankan persekutuan, kesaksian dan pelayanan sosial secara berimbang, dengan tidak hanya fokus ibadah minggu saja? Melalui bacaan kita minggu ini, kita orang percaya dan semua gereja kembali diingatkan beberapa hal sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Tuhan kita yang memanggil dan terus menyertai (ayat 1-3)

 

Nas ini juga menegaskan bahwa jemaat Korintus adalah jemaat Allah. Maksud intinya, sekumpulan orang percaya yang bersekutu adalah jemaat Allah, sekaligus jemaat Kristus (band. 2Kor. 1:1; Rm 16:16). Ini lebih penting ditekankan daripada menyebut jemaat sebuah denominasi, atau memperdebatkannya. Surat Paulus ini juga dibuka dengan kata yang indah, yakni "dipanggil menjadi kudus", yang merupakan contoh pengantar atau introduksi yang layak kita tiru dalam pergaulan kehidupan sehari-hari. Allah memanggil kita untuk kudus dan terpisah menjadi anggota kerajaan sorgawi. Hanya Dia yang bisa mengesahkan kita sebagai warga sorgawi sebab Dia telah menghapus dosa-dosa kita. Kita menerima kewargaan itu hanya apabila kita menerima Dia, percaya, berseru dan penuh pengharapan kepada-Nya.

 

 

 

Sebagaimana bacaan minggu lalu yang mengingatkan bahwa setiap orang sama seperti Paulus, kita dipanggil untuk menjadi bagian dari Misi Agung Yesus, sesuai dengan peran dan bentuk kontribusi yang dapat diberikan, yang semuanya atas kehendak Allah. Kita hidup di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai permasalahan nyata, baik masalah sosial ekonomi, kemiskinan dan penderitaan, hukum keadilan, sakit penyakit, penyebaran narkoba yang sedemikian menakutkan, dan masalah sosial lainnya. Dalam panggilan berpartisipasi itu, kita tidak perlu mempersoalkan besar-kecilnya peran yang diambil, juga tidak perlu sombong atau rendah diri dalam peran itu, sepanjang semua dilakukan dengan ketulusan dan sukacita, serta sudah merasa yang terbaik diberikan, dan semua bertujuan untuk menjadi kemuliaan bagi Tuhan. Keterlibatan dalam peran itu juga bukan untuk meninggikan diri atau mencari upah sorgawi yang lebih besar. Dasarnya hanyalah Ia telah mati bagi dosa-dosa kita, maka sewajarnya kita memberi yang terbaik bagi Dia.

 

 

 

Bagi warga Korintus yang demikian majemuk dalam pengertian penduduknya yang beragam suku bangsa, aneka budaya, bermacam profesi pekerjaan, perbedaan tingkat kesejahteraan sosial, dan lainnya, membuat kota Korintus memiliki daya tarik yang kuat. Oleh kekaisaran Romawi kota ini juga ditetapkan menjadi ibukota Akhaya (saat ini menjadi Negara Yunani). Korintus sebagai kota pelabuhan yang modern menjadi lalu lintas perdagangan dan transaksi bisnis, merupakan pusat kegiatan sosial ekonomi dengan segala permasalahan yang muncul, seperti penggelapan dan korupsi, kekerasan dan pemerasan, kebiasaan bermabuk-mabukan, banyaknya penyembahan berhala, bahkan prostitusi masuk di kuil-kuil yang ada, termasuk di kuil besar Afrodite, sang dewi cinta. Semua ini merupakan ladang dan tantangan bagi orang percaya di Korintus untuk menjadi saksi dan teladan sesuai dengan panggilan yang diterimanya.

 

 

 

Kedua: Bersyukur atas anugerah kepada orang lain (ayat 4)

 

Damai sejahtera dan rasa syukur ibarat dua sisi mata uang. Damai sejahtera itu bukan karena kecukupan materi, keamanan, sering berolah raga, pengendalian makanan dan kesehatan, dan lainnya, yang lebih banyak menjadi ukuran dunia. Damai sejahtera dari Allah yang diam dan menetap di dalam hati orang percaya, itulah yang diminta dan lebih diutamakan, sebab memiliki kekhususan yakni bersumber dari Yang Mahakuasa (Yoh 14:27). Damai sejahtera yang demikian ini yang menghasilkan rasa syukur dan diekspresikan setiap hari. Bahkan, rasanya tidak cukup hanya dengan mengatakan syukur dan terima kasih sebagai balasan kebaikan yang diberikan oleh Tuhan, orangtua, para sahabat, rekan kerja. Ucapan dari mulut saja rasanya sebagai balasan kebaikan dalam perbuatan tidak akan berimbang. Oleh karena itu kita perlu memberikan yang terbaik dalam tindakan dan kesaksian (band. 2Tes. 2:13-15).

 

 

 

Melalui nas ini Paulus juga memberikan keteladanan dengan menyebut nama Sostenes (band. Kis. 18:17) yang diduga adalah jurutulisnya dan pernah bersama-sama tinggal dengannya di Korintus. Kerendahan hati dan lebih menonjolkan orang lain adalah sikap yang harus kita teladani darinya, yang juga merupakan ekspresi rasa syukur. Ia juga bersyukur bukan untuk dirinya sendiri, melainkan ia bersyukur atas anugerah dan berkat yang diterima orang lain. Ini hebat. Seringkali kita fokus bersyukur bahkan kadang mengadakan acara khusus pengucapan syukur untuk berkat-berkat yang kita terima, dan memang itu tidak salah. Pertanyaannya, sebagai ucapan syukur yang menjadi hal wajib dalam kehidupan sehari-hari, sudahkah terpikirkan kepada siapa kita ingin mengatakan syukur dan terima kasih pada hari ini? Lakukankanlah, jangan menunda.

 

 

 

Rasul Paulus bersyukur atas semakin banyaknya orang percaya, mengenal Tuhan Yesus dan memperoleh kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepada jemaat yang ada. Bersyukur atas anugerah yang diterima orang lain merupakan sikap berpikir positif yang jelas buah dari ketaatan pada Kristus. Bersyukur dan iri atau rasa tidak puas sebaliknya dua sisi yang bertentangan.  Berkat yang diterima orang lain harus kita ikut mensyukuri, bukan malah menimbulkan iri hati, cemburu atau sinis terhadap anugerah yang diperoleh orang lain. Jangan hanya melihat dan berpusat pada diri sendiri atau membanding-bandingkan berkat yang diterima dengan orang lain, tapi syukurilah semua yang sudah diperoleh. Ketika sikap bersyukur itu menjadi pola hidup dan bersatu dalam hati dan pikiran, maka buahnya akan tampak yakni perubahan dalam bersikap setiap hari. Kita akan lebih bersikap dan berpikir positif, jauh dari pikiran negatif, murah hati, penuh belas kasihan dan rendah hati. Kita n diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, dan itu semua membangkitkan syukur kepada Allah (2Kor. 9:11).

 

 

 

Ketiga: Menjadi kaya dalam segala hal (ayat 5-7)

 

Sikap selalu bersyukur sebagaimana dijelaskan di atas juga membawa kita ke dalam pola pikir kecukupan. Kecenderungan manusia yang selalu merasa tidak puas atas yang diterimanya, akan terpinggirkan dengan sendirinya. Sikap merasa cukup yang membuat perasaan tidak ada yang kurang, membuat sedemian rupa mudah diatur sehingga apapun keperluannya sudah didasari cukup tadi. Pola pikir demikian itu membuat seseorang tidak merasa berkekurangan, dan ini jelas menjadi sikap kaya dan berkecukupan, sebab merasa masih ada dari dalam dirinya yang bisa dipakai untuk keperluan lain, apakah itu menolong orang lain dan untuk menyenangkan hati Tuhan. Keprihatinan yang diwujudkan ke dalam bentuk pertolongan bagi orang lain, semakin menguatkan pengharapan yang mereka miliki.

 

 

 

Warga Korintus yang dihadapkan pada tantangan paganisme dan masalah moralitas yang begitu hebat saat itu, diminta harus berdiri kuat agar tidak ikut terimbas dan melakukan hal yang tidak berkanan kepada Tuhan. Firman Tuhan mengingatkan bahwa Allah memberikan dan membekali setiap orang dengan karunia-karunia, khususnya karunia rohani. Jemaat harus saling mendukung dalam menggunakan karunia-karunia itu. Tetapi jemaat di Korintus bukannya menggunakan karunia rohani yang ada, malah mereka berdebat tentang karunia-karunia itu, mana yang lebih hebat dan mana yang lebih baik di mata Tuhan. Menurut firman Allah, hal itu tidak perlu mempersoalkan benar-tidaknya jenis pelayanan sebagaimana diperdebatkan mereka, termasuk jenis pelayanan yang terbesar di mata Tuhan, yang akibatnya malah menimbulkan irihati dan pertentangan di antara jemaat sendiri (band. 1Kor. 12-14).

 

 

 

Demikian juga halnya dengan kita. Berbagai bekal, alat, dan senjata diberikan Tuhan, dalam wujud bakat, talenta, kelebihan dan keunggulan, dan berkat-berkat lainnya, semua itu adalah karunia rohani dan karunia khusus agar kita mampu menangkal semua hal yang jahat dan memberi yang terbaik. Tuhan memberi segala hal kemampuan untuk menjadi kaya dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasih (band. 2Kor. 8:7). Sebagai jemaat yang saling mendukung, persekutuan menjadi bagian dari Kristus, yang tidak akan kekurangan suatu karunia pun dalam melayani (ayat 7). Salam damai sejahtera yang disampaikan oleh Paulus akan menopang kekayaan rohani yang tersedia. Itu harus menjadi kerinduan semua orang saat itu dan bahkan menjadi kerinduan jemaat saat ini. Pertentangan hanya membuat orang kehilangan rasa damai dan semua orang pada dasarnya tidak menginginkannya. Mari kita pakai karunia-karunia yang sangat berharga itu bagi pelayanan di jemaat/gereja dalam perasaan damai sejahtera. Damai itu diperoleh bila melihat Tuhan Yesus, Raja Damai bagi semua orang, yang kesaksiannya telah diteguhkan banyak orang dalam Injil. Itulah maksud dan rencana Allah yang terus menyertai kita dalam melaksanakan panggilan itu.

 

 

 

Keempat: Ia setia sampai kesudahannya (ayat 8-9)

 

Semua ada kesudahannya. Ada awal dan ada akhir, alfa dan omega. Bumi dan segala isinya ini di antara galaksi alam semesta adalah sebuah "proyek" Tuhan. Sebuah proyek didefinisikan sebagai kegiatan atau proses yang ada awalnya dan ada akhirnya. Penciptaan bumi semesta alam dan isinya adalah sebuah proses, kemudian manusia memperoleh mandat budaya untuk mengeksplorasinya. Tapi bumi ini akan berakhir dan Allah membentuk bumi baru dengan langit yang baru dan kita menjadi bagian dari padanya. Kita memang tidak perlu terlalu pusing dengan planet antariksa jauh di luar sana, ada Dia yang memiliki dan mengurusi hal itu. Lebih baik kita fokus pada hal yang terbaik dilakukan dan diberikan pada bumi ini dengan segala isinya, sesuai dengan mandat dari Allah. 

 

 

 

Ini juga yang Paulus tekankan yakni pengharapan, dan pengharapan itu diletakkan pada jemaat. Pengharapan itu juga disertai adanya jaminan bahwa kita sudah disucikan hingga Kristus Yesus kembali datang kedua kalinya. Semua itu terjadi bukan karena usaha yang kita lakukan atau karena kehebatan diri kita, namun karena Kristus Yesus telah mati bagi kita dan kita percaya itu adalah penebusan bagi semua dosa-dosa kita. Kita harus terus berpikir sebagai orang yang berhutang kepada Yesus Kristus, atas berkat dan keselamatan yang sudah diberi dengan setia menjadi murid-Nya, taat dan terus setia berkarya bagi-Nya.

 

 

 

Kita memang perlu takut akan dosa dan orang Kristen juga tidak mungkin tidak berbuat dosa lagi. Akan tetapi jaminan adanya kasih karunia (1Pet. 1:2), hubungan dan kedudukan anak-bapak yang terus terjalin (Yoh. 1:12), penyertaan Roh Kudus dan kekuatan firman-Nya (Kis. 20:32), membuat kita tidak ragu akan janji-Nya (band 1Tes. 3:13). Pergumulan dan kesulitan yang kita hadapi pada masa ini, kegagalan yang kita alami pada masa lalu, itu bukanlah kisah yang sebenarnya. Tapi kita diajak agar tetap fokus pada kisah utama bahwa kita sudah diselamatkan dan menjadi warga sorgawi. Jangan semua rintangan dan hambatan membuat kita kehilangan rasa syukur dan sukacita. Ini juga seperti yang dikatakan William Barclay, “ketika hari penghakiman tiba, orang percaya tidak perlu takut menghadapinya. Kita datang menghadap Dia bukan dengan kebaikan yang kita lakukan, melainkan dibungkus oleh kebaikan-kebaikan yang Tuhan Yesus sudah lakukan, sehingga tidak ada yang bisa mendakwa, dan juga tidak ada tuduhan, kecuali hanya pembebasan. Sebab Ia yang memanggil kita, adalah Allah yang setia” (band. Ibr 10:23; 11:11).

 

 

 

Penutup

 

Nas minggu ini merupakan surat terbuka kepada jemaat di Korintus dan juga bagi kita jemaat masa kini, untuk menyegarkan panggilan-Nya melalui berkat dan karunia-karunia rohani yang kita miliki masing-masing. Kita diingatkan sebagai orang yang berutang kepada Yesus Kristus atas anugerah keselamatan dari-Nya, sehingga perasaan damai sejahtera, ucapan dan sikap bersyukur menjadi hal yang utama dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada gunanya mempertentangkan berkat dan karunia-karunia yang kita miliki, sepanjang semua bagi pelayanan-Nya dan semua akan menjadi kaya apabila bersatu. Ini akan membuat jemaat semakin kokoh dan berkarya dalam sinergi melaksanakan amanat Tuhan. Maka sebagai anggota persekutuan jemaat, pertanyaannya adalah: apakah sumbangan yang akan kita beri agar jemaat kita semakin berkarya bagi Tuhan? Yesus Kristus telah setia dan Ia tetap akan setia, maka kita pun marilah setia.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu II Setelah Epifani, 18 Januari 2026

Khotbah Minggu II Setelah Epifani – 18 Januari 2026 (Opsi 2)

  HIDUP INI KESEMPATAN (Yes. 49:1–7)

 

 Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa–bangsa supaya keselamatan yang dari pada–Ku sampai ke ujung bumi (Yes. 49:6b)

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

 

 

Semua orang percaya rasanya tahu lagu “Hidup ini adalah kesempatan”. Lagu ciptaan Pdt. Wilhelmus Latumahina ini di utube sudah dilihat 22 juta orang dalam satu versi saja. Sebuah pencapaian yang tinggi bagi lagu rohani berbahasa Indonesia.

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu ini adalah Yes. 49:1–7. Temanya: Hamba Tuhan sebagai terang di tengah–tengah segala bangsa. Ada yang menafsirkan nas ini khusus nubuatan tentang Mesias Tuhan Yesus. Tetapi sebenarnya dapat lebih umum, panggilan kepada semua, sebab Tuhan membutuhkan hamba–hamba menyatakan keagungan-Nya (ay. 3) dan menjadi terang.

 

 

 

Kita kembali ke lagu tadi dan menyimak liriknya yang sederhana:

 

 

 

Hidup ini adalah kesempatan, hidup ini untuk melayani Tuhan

 

Jangan sia–sia kan waktu yang Tuhan beri, hidup ini hanya sementara

 

 

 

Oh Tuhan, pakailah hidupku, selagi aku masih kuat

 

Saat ‘ku tak berdaya, hidup ini sudah jadi berkat

 

 

 

Melayani adalah kewajiban setiap orang percaya. Ada banyak ayat di Alkitab yang meneguhkannya, seperti layanilah seorang akan yang lain (1 Petrus 4:10–11), jangan fokus pada ego atau diri, perhatikan orang lain (Filipi 2:4), kamu wajib saling membasuh kaki (Yohanes 13:14–15), hidupku bukan lagi milikku (Galatia 2:20), biarlah semua yang bernafas memuji Tuhan (Mazmur 150:6), dan ayat lainnya. Menurut Alkitab, Tuhan memberikan 19 karunia rohani yang setiap orang pasti memilikinya, meskipun satu atau dua, dan semuanya berasal dari satu Roh, satu Tuhan (1 Korintus 12:4–5).

 

 

 

Alkitab juga tidak terlalu membedakan bahwa pelayanan harus dilakukan oleh hamba Tuhan saja. Demikian pula, pelayanan tidak terbatas pada jemaat atau gereja. Pelayanan dapat dilakukan di tempat kita bekerja, di perkumpulan, di organisasi atau lembaga sosial kemanusiaan, bahkan di bidang bisnis atau usaha.

 

 

 

Bagaimana membedakan pelayanan dan pekerjaan? Cara paling mudah adalah melihat motifnya. Gilbert Beers dalam buku Pola Hidup Kristen berpendapat bahwa motif kita melayani Allah dan orang lain jangan sekali-kali untuk memperoleh sesuatu dari pelayanan itu. Artinya, jika motifnya adalah materi atau imbalan lainnya, maka itu bukan lagi berasal dari hati yang melayani; itu adalah pekerja yang mencari upah.

 

 

 

Jika dilihat dari sudut itu, maka tidak perlu terlalu tegas membedakan melayani penuh waktu atau paruh waktu, sebab yang dilihat adalah buah atau hasilnya. Meski dikatakan bahwa menjadi hamba Tuhan dan melayani adalah panggilan sejak dari kandungan (ay. 1 dan 5), kita dapat menerjemahkan panggilan itu sebagai sesuatu yang dapat dipenuhi pada setiap tahap dan bidang kehidupan.

 

 

 

Pertanyaannya, mengapa orang tidak merasa bahwa hidup adalah kesempatan yang singkat untuk melayani Tuhan? Padahal syair lagu tadi sangat jelas, “Jangan sia-siakan apa yang Tuhan beri ... Hidup ini harus jadi berkat.” Tentu Tuhan tidak harus memberikan kekayaan, mobil, dan harta lainnya, atau hasil pelayanan yang berbuahkan kekaguman dan tanda-tanda mukjizat. Melayani dengan memakai karunia rohani dapat dilakukan melalui cara sederhana, yaitu melalui tangan, lidah dan mulut, serta kemurahan hati.

 

 

 

Pertanyaan kedua, mengapa orang tidak bersedia melayani, padahal hidup yang singkat ini adalah kesempatan dan mereka mengaku Yesus sebagai Tuhan? Faktor pertama adalah kedagingan, yaitu malas dan tidak mau berkorban. Kedua, ada kesombongan, karena menganggap melayani memposisikan diri lebih rendah. Ketiga, pusat hidupnya adalah dirinya, bukan Kristus. Keempat, tidak percaya akan keberadaan Tuhan dan penghakiman. Hidup di dunia dimanfaatkan untuk mencari uang, jabatan, kehormatan, dan kekuasaan.

 

 

 

Syair lagu pada bagian akhir meminta kita menjadi berkat bagi sesama, memenuhi panggilan untuk menjadi terang agar semakin banyak orang diselamatkan dalam Tuhan Yesus (ayat 6b). Nas paralel minggu ini juga menyatakan bahwa Tuhan yang memanggil kita akan terus menyertai dan Ia setia (1 Korintus 1:1–9).

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 11 Januari 2026

Kabar dari Bukit

 SUARA TUHAN (Mzm. 29:1-11)

 ”Kepada TUHAN, hai penghuni sorgawi, berilah kepada TUHAN kemuliaan dan kekuasaan! Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dalam semarak kekudusan!” (Mzm. 29:1-2)

 

Firman Tuhan bagi kita di Minggu pertama setelah Epifani hari ini adalah Mzm. 29; terdiri dari 11 ayat, dengan judul perikop: Kebesaran Allah dalam badai. Mazmur yang ditulis Raja Daud ini sangat khusus, yakni mengajak penghuni surgawi untuk memuliakan dan sujud kepada Tuhan.

 

Ada tujuh kali “Suara Tuhan” dituliskan dalam nas ini, dengan berbagai ekspresi gambaran betapa besarnya kuasa dan kemuliaan Tuhan (ayat 3-9). Ia berkuasa mengatur alam semesta, agar umat-Nya terlindungi dari badai dan musuh-musuh yang ada.

 

·        -  Suara TUHAN di atas air;

·         - Suara TUHAN penuh kekuatan;

·        -  Suara TUHAN penuh semarak;

·       - Suara TUHAN mematahkan pohon aras, ... membuat Gunung Libanon melompat-lompat seperti anak lembu, dan gunung Siryon (Hermon, Ul. 3:9) seperti anak banteng;

·         - Suara TUHAN menyemburkan nyala api;

·         - Suara TUHAN membuat padang gurun gemetar;

·        - Suara TUHAN membuat rusa betina yang mengandung beranak, bahkan, hutan digundulinya...., sementara di dalam bait-Nya setiap orang berseru, "Mulialah TUHAN!"

 

Melalui tujuh ungkapan suara itu, menjadi mudah bagi kita mengerti bahwa Allah pencipta langit dan bumi serta segala isinya benar adalah Roh. "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah" (Yoh. 1:1). Roh Allah berfirman, bersabda, dan titah-Nya tidak ada yang bisa membantah (Rm. 9:20; Ay. 9:13-15).

 

Umat Israel percaya, mereka adalah anak-anak Allah, warga pilihan surgawi (Kej. 6:2; Ul. 14:1, 32:8; Kis 17:28; Rm. 9:4). Kita pun yang percaya kepada Tuhan Yesus, yang dipersatukan melalui baptisan, dipanggil dan dipilih, kewargaan kita adalah di dalam surga (Flp. 3:20a). Maka kita pun diingatkan oleh pemazmur ini, keberadaan kita diciptakan agar tetap tergantung kepada-Nya, dan tetap memuji dan memuliakan Dia.

 

Apapun yang menjadi pergumulan dan pengharapan kita, kiranya “Suara Tuhan” terus datang ke dalam hati kita, mengingatkan kuasa dan kebesaran-Nya, serta rencana perlindungan-Nya.

 

Hal kedua yang diminta nas minggu ini, agar kita sujud kepada TUHAN, dalam semarak kekudusan (ayat 2b). Kekudusan hidup terus dijaga dengan rasa hormat, melalui proses yang berkesinambungan, dengan tekad pada pembaruan dan pengakuan bahwa Allah di dalam TUHAN Yesus itu Mahakuasa, Raja yang bersemayam selama-lamanya, dan hidup kita diberi semata-mata untuk dipakai bagi kemuliaan nama-Nya (ayat 2a, 10b).

 

Jika kita tanggap terhadap suara-Nya, pesan ketiga nas ini adalah: Tuhan akan menjauhkan "badai besar" dan “air bah dan padang gurun” dari hidup kita, dalam menjalani tahun demi tahun. Meski badai datang, Tuhan tidak akan membiarkan umat-Nya jatuh tergeletak (Mzm. 37:24; Why. 3:10). Ada jaminan pemeliharaan dalam janji-Nya di ayat 10a-11: “Tuhan bersemayam di atas air bah,... TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!” Terpujilah TUHAN. Dan, tetaplah hidup untuk memuliakan-Nya.

 Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 Tuhan Yesus memberkati, amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu II Setelah Epifani, 18 Januari 2026

Khotbah Minggu II Setelah Epifani – 18 Januari 2026 (Opsi 3)

 YESUS LEBIH BESAR (Yoh. 1:29-42)

 

Firman Tuhan bacaan kita Yoh. 1:29-42 terdiri dari dua bagian pokok: pertama tentang pentingnya selalu jujur dan dalam kebenaran; kedua, tentang sebutan anak domba Allah pada Tuhan Yesus. Bagian pertama yakni Yohanes (Pembaptis) ketika ditanya tentang dirinya, apakah ia Mesias yang dinantikan? Atau, apakah ia Elia? Atau nabi yang dibangkitkan seperti kata Musa (Ul. 18:15-18)? Tetapi Yohanes menjawab jujur: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya” (Yes. 40:3).

 

Pemimpin umat Yahudi di Yerusalem, begitu mengharapkan kedatangan Mesias karena beratnya tekanan Roma kepada mereka, sehingga mengutus wakilnya untuk bertanya kepada Yohanes seperti di atas. Tetapi ada juga rasa khawatir terhadap posisi Yohanes yang semakin populer dan banyak pengikut. Selama ini mereka adalah pemimpin Yahudi yang dihormati dan itu bisa goyah. Yohanes bisa saja memanipulasi situasi tersebut dengan mengaku, ia adalah Mesias. Tetapi Yohanes tidak melakukannya. Ia berbicara jujur, tidak memanfaatkan situasi. Ia sadar akan porsi berkat dan perannya. Dan ia tahu Mesias yang akan datang itu memang lebih besar darinya, sehingga ia berkata: “Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (ayat 26b-27).

 

Yohanes memberi keteladanan kepada kita untuk selalu bersikap jujur dan tidak mengambil kesempatan yang menguntungkan diri sendiri. Ia dapat saja mengaku sebagai Mesias sehingga akan dihormati, terkenal, bahkan memperoleh keuntungan jasmani dan materi. Tetapi ia tahu hal itu tidak mungkin, melawan kebenaran. Kebohongan dan manipulasi pasti terkuak, cepat atau lambat, besok atau nanti. Maka kita pun diajar minggu ini, tetaplah setia dalam kebenaran, apalagi bila perbuatan kita itu sampai merugikan orang lain.

 

Dalam bagian kedua Yohanes malah menegaskan, Yesus adalah Anak domba Allah.  Sebagai keturunan imam, yang selalu melihat ritual seekor anak domba dikorbankan di Bait Allah bagi penebusan dosa-dosa umat Israel (Kel. 29:38-42), Yohanes telah tahu: Yesus adalah Anak domba Allah bagi penebusan dosa umat manusia. Yohanes juga tahu sifat anak domba yang tulus dan lemah lembut, tidak akan menentang dijadikan sebagai korban dengan mati di kayu salib (band. Yes. 53:7).

 

Yohanes juga menyadari konsekuensi pengakuannya itu, yakni muridnya akan berpindah guru. Dan itulah yang terjadi. Andreas yang semula mengikut dia, akhirnya mengikut Tuhan Yesus dan mengajak saudaranya Simon yang kemudian dinamai Petrus. Inilah pesan nas minggu ini bagi kita, agar kita siap berkorban, bersaksi, memberi yang terbaik, merendahkan hati, menjauhi keserakahan dan sifat sombong. Mari mengikuti sikap Yohanes untuk menyenangkan hati Tuhan: "Ia (Tuhan Yesus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil" (Yoh. 3:30).

 Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026 Baptisan Tuhan Yesus

Khotbah Minggu I Setelah Epifani, 11 Januari 2026

 Baptisan Tuhan Yesus

  

 

YESUS KRISTUS ADALAH TUHAN DARI SEMUA ORANG (Kis. 10:34-43)

 

Bacaan lainnya: Yes. 42:1-9; Mzm. 29; Mat. 3:13-17

 

 

 

Pendahuluan

 

Kisah yang ditulis Lukas ini menceritakan permulaan perluasan gereja ke wilayah Yudea dan Samaria, yang pemicunya oleh penganiayaan yang muncul termasuk Stefanus dibunuh. Perluasan ini terjadi bukan karena visi dan rencana gereja, tetapi karena pengaturan Allah dalam memperluas orang-orang percaya. Nas minggu ini berupa pelayanan Petrus dalam bersaksi tentang Tuhan Yesus. Ia berkhotbah kepada orang-orang percaya yang sudah tersebar, termasuk hal pertama pemberitaan Injil kepada orang bukan Yahudi. Khotbah Petrus merupakan respon atas pertanyaan Kornelius, seorang kafir yang merasa perlu menjadi orang Yahudi untuk memperoleh keselamatan, padahal keselamatan ada di dalam Yesus Kristus. Melalui bacaan minggu ini kita diberikan pengajaran sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Allah tidak membedakan orang (ayat 34-35)

 

Hal yang paling menyulitkan pada masa awal gereja untuk pekabaran Injil adalah adanya konflik antara orang Yahudi dengan orang non-Yahudi. Pengikut awal Yesus umumnya orang Yahudi yang dalam pemikiran mereka kabar baik itu hanyalah bagi orang Yahudi saja. Bagi mereka, hal yang akan mengecilkan bilamana mengajak bangsa-bangsa lain menerima kabar baik itu. Bagi mereka, bangsa lain adalah najis di hadapan Allah. Mereka tetap berpikir bangsa Yahudi memiliki hak istimewa dan hanya mereka saja umat pilihan Allah. Oleh karena itu, para murid dan rasul tidak menunjukkan tanda-tanda adanya maksud untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia sebagaimana perintah Agung sebelum Yesus naik ke sorga (Mat. 28:19-20; Kis. 1:8), sehingga mereka lebih tetap tinggal di Yerusalem sambil bersaksi kepada orang-orang Yahudi saja. Meski dikisahkan dalam Alkitab bahwa Allah menunjuk Petrus untuk mengabarkan kepada orang Romawi, namun akhirnya ia juga berpikir ulang tentang hal itu (band. Gal. 2:11-14). Petrus melakukan penginjilan, tapi perasaannya lebih kepada Yahudi saja.

 

 

 

Namun Allah menetapkan bahwa kabar baik itu bagi seluruh bangsa. Allah menciptakan semua suku bangsa sebagai manusia yang setara dan tidak membedakan status dan warna kulit, kelahiran, atau status (band. Yak 2:1). Semua manusia telah berdosa sehingga semua harus diselamatkan. Kita harus menghilangkan seluruh hambatan yang mungkin terjadi, seperti bahasa, budaya, wilayah geografis, tingkat pendidikan dan kekayaan, hambatan fisik dan lainnya untuk maksud Tuhan itu. Diskriminasi ras adalah dosa yang jahat, dosa yang menghina gambaran Allah, dosa yang menegakkan kesombongan dan meninggikan diri sendiri. Pandangan atau tradisi yang bertentangan dengan prinsip Allah haruslah dihapuskan dan diganti dengan kebenaran firman Tuhan. Kita telah melihat kejahatan perbudakan, perlakuan rasis terhadap umat Yahudi di zaman Hitler, bahkan kita sudah merasakan kejahatan apartheid di Afrika. Perjuangan Mandela adalah perjuangan Tuhan Yesus. Allah tidak membedakan kasih-Nya kepada siapa pun bagi seluruh umat ciptaan-Nya.

 

 

 

Kita tidak dapat menghakimi mereka yang mempercayai sesuatu yang berbeda. Akan tetapi jelas kita tidak percaya pada penyembahan berhala (1Pet. 4:3), baik dalam bentuk tradisional maupun bentuk yang modern, seperti berhala pada pikiran manusia, berhala pada energi, harta kekayaan dan pendidikan, dan lainnya. Allah adalah Pengatur segala ciptaan dan berkenan kepada mereka yang rindu mencari-Nya dan bertobat, berbalik dari jalan yang jahat dan takut kepada-Nya dan berusaha hidup dengan benar di hadapan Allah (band. Rm. 2:6-11; Yoh. 15:10). Setiap bangsa yang rindu dan mencari Allah yang benar pada dasarnya siap menerima kabar baik tentang Yesus. Untuk itu perlu seseorang melakukan hal itu, sebab mencari Tuhan tidaklah cukup, tapi harus menemukannya. Bagaimana mungkin seseorang menemukan Tuhan kalau tidak ada yang menunjukkan jalannya? Allah meminta kita semua untuk menunjukkan jalan itu kepada mereka (Rm 10:14-15). Untuk itulah kita dipanggil-Nya menjadi umat dan utusan-Nya.

 

 

 

Kedua: Damai sejahtera dan berkeliling berbuat baik (ayat 36-38)

 

Pokok yang disampaikan Petrus dalam nas ini merupakan khotbah yang penuh kuasa dan mengandung pernyataan yang jelas tentang Injil. Kehidupan sempurna Yesus dan pelayanan-Nya, kematian-Nya di kayu salib, kebangkitan-Nya, yang seluruhnya itu disaksikan secara pribadi oleh Petrus. Petrus mengkhotbahkan perbuatan kasih-Nya, tindakan damai sejahtera-Nya. Ia melihat Yesus menyembuhkan penyakit, mengusir setan, dan membangkitkan orang dari kematian. Yesus baginya adalah penggenapan Taurat. Ia menyadari kuasa yang mengutus Yesus adalah kuasa dari Allah yang demikian besar. Kuasa itu tidak akan mengalahkan segala halangan, ancaman, penderitaan dan bahkan kematian sekalipun. Yesus melakukan penyembuhan bagi penyakit sebab tujuannya adalah menghilangkan rasa sakit dan penderitaan dari dunia ini. Yesus bertindak nyata dengan mengamalkan kebenaran yang dikatakan-Nya.

 

 

 

Adalah salah kalau kita berpikir Allah kita adalah Allah yang pemarah atau pendendam. Itu cara pandang umat Yahudi yang ketika datang kepada Allah harus dengan perantara dan penuh perasaan takut, dan mencoba "menebus" kesalahannya dengan berbagai hewan atau korban persembahan lainnya. Ia adalah Allah yang Mahakasih. Allah berkenan kepada semua orang ciptaan-Nya yang mengamalkan kebenaran. Kasih Allah telah dinyatakan melalui Yesus yang sudah menjadi manusia. Yesus telah menyampaikan seluruh pesan dari Allah dan pesan itu dalam firman yang memberitakan damai sejahtera di dalam Tuhan Yesus, Tuhan dari semua orang. Meski firman itu disampaikan kepada orang-orang Israel terlebih dahulu, tetapi firman itu adalah untuk semua, sebab Yesus datang untuk semua orang.

 

 

 

Manusia memang selalu lebih mudah merasakan pada akibat yang terjadi, dan agak sulit mencerna sebab-sebabnya. Manusia dengan cepat merasakan sakit ketika terjatuh kecelakaan, tanpa mau berpikir susah tentang mengapa ia terjatuh dan apa yang harus dilakukannya setelah terjatuh sehingga tidak masuk lobang kedua kalinya. Mengetahui sebab-sebabnya sangat membantu kita memahami hal yang terjadi dan makna dari semua kejadian yang kita alami. Demikian juga dengan Allah menjadi manusia. Kita mendengar kisah Yesus dan hal yang dilakukan-Nya. Yesus harus disalibkan padahal tidak bersalah dan tidak layak untuk itu. Tapi itulah kekejaman manusia. Hanya dengan memahami mengapa Allah menjadi manusia dan harus mati tersalib, maka kita dapat memahami bagaimana kita dapat ditebus oleh-Nya. Dengan mengakui kasih-Nya, damai sejahtera-Nya, maka kita juga perlu untuk berbagi kasih dan damai sejahtera itu kepada semua orang, yakni dengan berbuat kebaikan.

 

 

 

Ketiga: Menjadi saksi dan kesaksian (ayat 39-41)

 

Agama Kristen adalah agama yang berdasarkan sejarah yang jelas. Injil dan Kitab Suci bukan dongeng atau mistik, dan bukan pula dimaksudkan sebagai Yesus Sejarah dalam arti demithologisasi (menghilangkan hal-hal yang tidak rasional seperti mukjizat). Injil berisikan fakta-fakta tentang perjalanan hidup Yesus, kematian dan kebangkitannya. Para murid yang merupakan orang-orang pilihan Allah mengalami berbagai peristiwa nyata selama empat puluh hari bersama Yesus setelah kebangkitan-Nya, makan dan minum bersama, dan melihat dengan mata Ia naik ke sorga. Injil memberitakan karya Kristus, yang bukan pemikiran manusia, bukan gagasan-gagasan filosofis, meskipun hal yang diucapkan Yesus sebagian pemikiran filosofis.

 

 

 

Allah menetapkan para murid dan rasul melihat peristiwa kebangkitan-Nya dan Allah juga melalui Roh Kudus menetapkan mereka dapat bersaksi dengan menulis Injil dan surat-surat, agar kita menjadi percaya. Kesaksian dan khotbah Petrus dalam nas minggu ini menguatkan para pendengarnya dan inilah yang dituliskan oleh Lukas melalui Kisah Para Rasul ini. Kita pun yang membacanya, merenungkannya, merasakannya, dan mengalami pertemuan pribadi dengan Yesus melalui pertolongan Roh Kudus, mendapatkan inspirasi dari kisah itu, menghayati, dan kemudian percaya, menjadikan kita saksi yang bisa dipercaya. Semua itu menguatkan iman orang-orang yang mendengar dari kita. Kita yang dipanggil untuk menjadi saksi bagi-Nya adalah yang sudah menerima kasih karunia itu dan merasakannya dalam kehidupan sehari-hari. Yesus bukan hanya seorang tokoh fiksi bagi kita, tokoh sebuah dongeng atau cerita. Bagi kita yang dipanggil, Yesus adalah Tokoh yang selalu hidup, guru, teladan, dan Pribadi yang terus menyertai. Para pendeta, pengkhotbah dan guru-guru sekolah minggu adalah mereka yang sudah merasakan itu dan mengalami perjumpaan hati dengan-Nya. Mereka yang bersaksi adalah yang dapat membayangkan penderitaan Yesus, dan mengakui bahwa Yesus mati untuk dia, dan telah memberi jalan hidup yang baru. Oleh karena itu, kita perlu untuk bersaksi sebagaimana murid-murid sudah bersaksi dan menuliskan kisah-Nya.

 

 

 

Iman timbul dari pendengaran (Rm. 10:14, 17) maupun dari penglihatan (Yoh. 20:27-29; band. 1Pet. 1:8). Iman yang sama dimiliki oleh para murid dan para rasul diharapkan dari kita, sehingga kita dapat bersaksi sama seperti mereka, dan semua itu hanya melalui pembacaan dan perenungan Injil dan perjumpaan hati kita dengan Yesus. Kita menjadi saksi melalui para rasul tentang Tuhan Yesus yang alami di bukit Golgota. Kita menjadi saksi tentang kebangkitan-Nya. Memang kita tidak menyaksikan Ia bangkit dan makan minum bersama para murid, akan tetapi melalui kesaksian mereka itu dan kuasa Roh Kudus, kita dapat menyatakan yang sama dengan kesaksian mereka. Mereka telah dipilih Allah untuk bersaksi dan kita juga dipilih Allah untuk bersaksi bagi-Nya. Allah telah mengutus Yesus untuk menebus dosa semua orang yang hidup dan mati dan semua rasul menyatakannya demikian. Maka kita pun hendaklah mengatakan yang sama, bahwa mereka yang percaya pada-Nya akan menerima pengampunan.

 

 

 

Keempat: Hakim atas segala bangsa dan mendapat pengampunan (ayat 42-43)

 

Semua orang akan dihakimi dengan adil oleh Allah yang Mahakasih, tidak ada pengecualian. Pengadilan itu dilakukan dengan Yesus sebagai Hakim, sebab Ia telah menerima kuasa dari Allah Bapa (Yoh. 5:22). Agama lain juga mengakui peran sentral Yesus dalam penghakiman akhir zaman. Semua kecongkakan dan kesombongan akan dimusnahkan. Pada penghakiman, sebagian orang akan dihukum dan sebagian orang akan diberi upah, mereka yang ada dalam Kristus dan taat serta berkarya bagi-Nya. Penghakiman itu nyata dan pasti mendebarkan, sebab itu gambaran pengadilan dalam Why. 6:14-17 cukup mengerikan. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus Kristus ditinggikan dan sebagaimana disebutkan dalam ayat 36, Yesus adalah Tuhan dari semua orang. Ia berkuasa atas orang percaya dan orang yang tidak percaya atau tidak pernah mendengar akan Dia.

 

 

 

Injil berisi pemberitaan tentang penghakiman pada masa mendatang atas orang yang hidup dan yang mati. Pada akhir zaman pasti ada orang yang masih hidup dan banyak yang sudah mati. Alkitab berkata yang mati akan dibangkitkan untuk sama-sama menerima penghakiman (1Tes. 4:13-14). Akan tetapi oleh Yesus yang telah bangkit, pengampunan dosa diberikan kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Ia adalah Mesias atau Yang Diurapi yang sebenarnya dinantikan bangsa Israel, dan yang menjadi pembuka tabir bagi semua keselamatan bagi bangsa-bangsa. Dari Alkitab kita tahu bahwa Ia dapat mengalahkan iblis oleh karena itu Ia adalah Tuhan, Kurios atau Yehova. Manusia tidak dapat mengalahkan iblis dan tidak dapat pula menghapus dosa-dosanya, baik melalui usaha kebaikan atau persembahan. Nyawa Yesus itu mulia sehingga kita tidak hanya menghargai kematian-Nya dan kuasa kebangkitan-Nya dengan perbuatan baik, melainkan juga ketaatan dan menyerahkan seluruh hidup kita bagi-Nya.

 

 

 

Penyerahan seluruh hidup inilah yang membangun hubungan spesial antara orang percaya dengan Yesus dan melahirkan sebuah persahabatan.  Hubungan spesial ini jelas menjadi dasar pemulihan atas segala kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh seorang sahabat. Dalam kehidupan manusia, seorang sahabat pasti membela sahabatnya, apalagi Yesus adalah Sahabat Sejati. Ia juga Penasihat Ajaib sehingga mampu untuk membebaskan kita dari segala tuduhan. Ia tidak akan mempermalukan kita. Ini yang menjadi dasar dari pengampunan dan pembebasan kita dari segala penghukuman.

 

 

 

Penutup

 

Khotbah Petrus yang menjadi nas kita minggu ini merupakan undangan bagi semua orang untuk percaya kepada Yesus agar memperoleh pengampunan dosa. Allah tidak membeda-bedakan dan mengasihi semua orang bagi yang takut kepada-Nya dan melakukan hal yang benar. Mereka yang percaya kepada-Nya akan dipanggil untuk membawa damai sejahtera dari-Nya dan berkeliling membagikan kebaikan sebagaimana dilakukan Yesus. Dalam melakukan kebaikan itu kita juga bersaksi bahwa Ia adalah Juruselamat bagi semua orang. Kesaksian para rasul sama kuatnya dengan kesaksian kita, dan semua itu dimampukan karena pertolongan Roh Kudus yang menyertai kesaksian kita. Maka persoalannya kembali kepada kita, bagaimana kita meresponnya? Semoga kita siap dan ketika akhirnya tiba waktunya, semua orang akan dihakimi-Nya dan kita adalah umat yang dibebaskan-Nya.

 Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 60 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13289319
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1850
3785
5635
13259239
1850
141921
13289319

IP Anda: 216.73.216.88
2026-01-12 09:53

Login Form