Monday, January 26, 2026

2026

Khotbah Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026

Khotbah Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026

 

 HIKMAT ALLAH DAN HIKMAT MANUSIA (1Kor. 1: 18-31)

 

Bacaan lainnya: Mat. 5:1-12; Mi. 6:1-8; Mzm. 15

 

Pendahuluan

 

Cara berpikir Allah tidak sama dengan cara berpikir manusia dengan segala kemampuan dan kebijaksanaannya. Kita bisa belajar sepanjang hidup dan mengumpulkan segala hikmat manusia, tetapi kita tidak akan pernah mendapatkan pembelajaran bagaimana menjalin dan membentuk hubungan pribadi dengan Allah yang hidup. Melalui nas minggu ini, firman Tuhan menekankan bahwa melalui Yesus yang tersalib dan kebangkitan-Nya, kita mendapatkan hubungan pribadi itu melalui Juruselamat yaitu Tuhan Yesus. Apa yang dibanggakan dan berharga bagi manusia sangat berbeda dengan hikmat Allah. Manusia mencari kemegahan, akan tetapi Allah menawarkan kehidupan abadi yang tidak bisa ditawarkan dunia. Pemikiran bahwa melihat baru percaya bukanlah hikmat Allah. Melalui pembacaan minggu ini, kita diberikan pelajaran berharga sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Di mana hikmat dunia? (ayat 18-20)

 

Sebagaimana dinyatakan pada minggu lalu berkaitan dengan ayat 18, mereka yang mengutamakan penggunaan akal pikiran untuk mencerna penebusan dosa oleh Yesus di salib tentu akan berpikiran kalau itu hal yang tidak masuk akal. Kesombongan intelektual orang Yunani membuat mereka menolak berita penyelamatan itu. Demikian pula bagi umat Yahudi, yang terus berpikir bahwa mereka keturunan (badani) Abraham masih berpikir sombong bahwa mereka adalah umat pilihan Allah dan akan terus diselamatkan tanpa syarat. Kabar baik bahwa Yesus yang mati di kayu salib sebagai jalan keselamatan (yang baru) jelas merupakan kebodohan bagi mereka. Terlebih, bagi umat Yahudi, seseorang yang mati tergantung di kayu salib adalah orang yang terkutuk bagi Allah (Ul. 21:23), sehingga Yesus yang mati di kayu salib itu tidak mungkin dapat menyelamatkan manusia.

 

 

 

Firman Tuhan melalui Rasul Paulus yang mengutip Yes. 29:14 merupakan penggambaran kembali bagaimana bangsa Israel adalah bangsa yang buta, yang tidak memahami maksud Allah meski mereka memiliki banyak nabi-nabi dan berjalan menuruti kemauan sendiri. Dalam kitab Yesaya itu dinyatakan ibadah mereka palsu dan hanya di bibir saja, pujiannya hampa dan hafalan, kehidupan keagamaan hanya dipenuhi oleh peraturan-peraturan buatan manusia dan bukan untuk menyenangkan Allah. Ancaman yang ada dari bangsa Asyur tidak direspon menurut hikmat dari Allah, melainkan hanya berdasarkan hikmat manusia. Peringatan dari Allah mereka abaikan dan akhirnya bangsa Israel meminta pertolongan dari bangsa Mesir; ini jelas merupakan kesalahan fatal dan akibatnya mereka kalah dan kembali tertindas. Kengerian akibat kekalahan itu digambarkan pada Yes. 29: 1-12.

 

 

 

Hikmat manusia lebih mementingkan kepentingan diri sendiri dan berjangka pendek. Manusia tidak mudah melihat masa depannya dengan baik dan cenderung melihat jangka pendek saja, dan itulah yang sering menjadi sumber kesalahan utama. Ini berlainan dengan hikmat Allah, sebab yang mendasarinya adalah kasih. Ayat 20 menjadi peneguh dari kutipan Ayb. 12:17 dan Yes. 33:18 yang menekankan hikmat Allah itu demikian kuasanya melampaui segala akal pikiran manusia. Dengan sendirinya, hikmat manusia cenderung mengesampingkan hikmat Allah dan akibatnya sebagaimana dinyatakan dalam Yes 27:14, mereka akan dibinasakan dan dilenyapkan, yakni Allah menyatakan murka-Nya kepada mereka yang mengutamakan hikmat manusia, seperti kepada ahli Taurat mewakili umat Yahudi dan para pembantah mewakili orang Yunani. Hikmat dari Allah yang merupakan karunia seharusnya dipakai, sehingga bisa lebih mengenal Allah dalam rencana-Nya untuk kita semua, yang melepaskan kepentingan diri sendiri dan kesombongan.

 

 

 

Kedua: Orang-orang Yahudi menghendaki tanda (ayat 21-24)

 

Banyak pihak menganggap sebuah kebiasaan atau tradisi sudah menjadi sebuah kebenaran mutlak. Hal yang sudah berjalan selama bertahun-tahun dapat dianggap sebagai sebuah pakem mati, dan tak seorang pun dapat mengubahnya. Bahkan dalam mempertahankan kebiasaan, tradisi atau kebenaran manusia, seringkali kita mengorbankan hubungan dengan sesama dan bahkan hubungan dengan Allah. Kita lebih “ngotot” demi hikmat manusia dibandingkan dengan menarik hikmat Allah ke dalam kebenaran itu sehingga tercipta sesuatu yang baru. Melalui ayat-ayat inilah kita diminta untuk merelatifkan kebenaran kita yang bersumber dari akal pikiran dan kebiasaan, dan menghadapkan kebenaran dari Allah sebagai sumber sukacita dan kemaslahatan bersama.

 

 

 

Acapkali kalau ada keinginan untuk terbuka bagi kebenaran yang baru, orang-orang yang bertahan dalam prinsip lama ini selalu meminta tanda-tanda. Orang Yahudi berpikir bahwa Mesias yang mereka nanti-nantikan adalah seorang raja yang datang dari keturunan Raja Daud dan dengan kemegahan duniawi untuk membebaskan mereka dari kekuasaan Romawi. Sementara yang mereka lihat, Yesus adalah seorang anak tukang kayu yang dalam kesehariannya tidak berkuasa bagaikan seorang raja yang penuh dengan tanda-tanda dan mukjizat. Mereka meminta tanda-tanda bahwa ajaran dan konsep itu merupakan kebenaran (band. Mat 12:38; Yoh 4:48). Ia juga tidak memulihkan kerajaan Daud dan bahkan mati di gantungan salib pula. Ini jelas berbeda dengan pengharapan mereka. Demikian pula bagi orang Yunani, Yesus bukanlah seorang pemikir besar yang menuliskan pikiran-pikirannya seperti Socrates atau Aristoteles yang dapat memuaskan akal pikiran mereka dalam perbantahan. Mereka juga tidak percaya pada kebangkitan tubuh dan tidak melihat tanda-tanda karakter Allah yang sesuai dengan mitologi mereka. Hal yang mereka dengarkan sebagai pikiran-pikiran Yesus seperti khotbah di bukit dan perumpamaan-perumpamaan, banyak yang tidak masuk akal mereka. Bagaimana mungkin, misalnya, pernyataan "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Mat. 5:3, dab Khotbah di Bukit). Semua pernyataan itu jelas tidak masuk akal, sehingga bagi umat Yahudi dan orang Yunani, hal yang diberikan Yesus sebagai berita keselamatan adalah jelas tidak masuk akal. Akan tetapi, hikmat manusia yang sebenarnya mereka miliki belum dapat menjangkau dan memahami hikmat Allah yang dasarnya adalah kasih.

 

 

 

Sebuah wahyu atau pernyataan dari Allah melalui nabi-nabi atau hal yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, tidak memerlukan pembuktian fisik atau penerimaan sesuai hikmat/kebijaksanaan manusia. Wahyu adalah sebuah kebenaran yang diterima dengan iman, kemudian dihayati dan dengan penerangan Roh Allah kita mengakui bahwa wahyu itu adalah benar. Tidak mungkin menerima wahyu dengan hikmat manusia dan kemudian mencernanya, melainkan hanya menerima dengan iman bahwa itu adalah kebenaran wahyu atau hikmat Allah. Manusia tidak dapat membatasi cara dan langkah Allah dan sering kali manusia gagal untuk memahaminya (band. Rm. 1:19-21). Konsep jalan keselamatan dan perdamaian dengan Allah yang selama ini dianut oleh umat Yahudi jelas berbeda total dengan penyelamatan yang diberikan Allah melalui Yesus. Inilah yang dimaksudkan ayat tersebut sebagai batu sandungan bagi umat Yahudi dan kebodohan bagi orang Yunani. Namun bagi mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah.

 

 

 

Ketiga: Yang bodoh bagi dunia dipilih Allah (ayat 25-27)

 

Bagi mereka yang mengandalkan akal pikiran semata, kematian Kristus membuat mereka tidak percaya. Bagi mereka, kematian sebagaimana dialami Yesus adalah akhir dari perjalanan; kematian adalah kekalahan, puncak kekalahan, bukan kemenangan. Akan tetapi mereka lupa, Yesus tidak mati selamanya, Ia bangkit di hari ketiga. Kebangkitannya membuktikan kuasa-Nya atas kematian. Ini sekaligus membuktikan bahwa Ia mampu dan berkuasa menyelamatkan kita dari kematian dan akan memberi kita hidup yang kekal, sepanjang kita percaya Ia adalah Juruselamat dan Tuhan. Memang ini seolah-olah tampak begitu sederhana dan mudahnya bagi yang tidak percaya. Mereka lebih berpikir berusaha mencari keselamatan dan perdamaian dengan Allah melalui banyaknya perbuatan baik, berusaha menjadi bijak, mematuhi peraturan legalistik agama, dan lainnya. Tetapi sebenarnya usaha mereka sia-sia dan tidak akan berhasil.

 

 

 

Memang dapat menjadi pertanyaan: apakah kekristenan bertentangan dengan akal sehat? Mengapa demikian sederhana soal keselamatan itu? Justru itu yang ditekankan dalam nas ini melalui Rasul Paulus, agar orang-orang yang mendengarnya harus dengan jernih menggunakan hati nuraninya beserta pikirannya untuk menimbang pilihan jalan itu dan membuat keputusan yang bijak. Rasul Paulus merasa itu perlu dijelaskan dengan tegas bahwa tidak cukup akal pikiran dan hikmat manusia untuk dapat menggantikan atau melampaui apa yang dilakukan oleh Yesus di atas kayu salib. Sebab kalau memakai akal pikiran, maka hanya orang-orang pintar dan berpendidikan saja yang memahami, bukan orang-orang biasa atau anak-anak. Dan inilah yang dikatakan dalam nas ini, “Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.” Serupa dengan jemaat di Korintus, kita harus mengingat bagaimana keadaan kita saat dipanggil: “Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang” (ayat 26).

 

 

 

Ini juga yang dikatakan dalam ayat 27: “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat.” Allah memilih orang-orang bodoh di Korintus yang menerima tawaran keselamatan dari Yesus, mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil, tetapi justru mereka adalah orang-orang yang paling berhikmat dari semua orang, dan mereka akan menerima hidup yang kekal itu. Kebangunan kembali kerajaan Daud atau pengetahuan Socrates tidak akan dapat memberikan hidup yang kekal. Dunia ini memang menyembah kekuasaan, pengaruh dan kekayaan. Tetapi Yesus datang dengan kerendahan hati, pelayan yang miskin, dan menawarkan kerajaan-Nya bagi mereka yang percaya kepada-Nya, bukan kepada orang yang melakukan perbuatan baik untuk mendapatkan imbalan dan kehormatan. Ini tampak sebagai suatu kebodohan bagi dunia. Akan tetapi Kristus adalah kuasa bagi kita, satu-satunya jalan untuk kita bisa diselamatkan. Mengenal Yesus secara pribadi adalah hikmat terbesar yang pernah diberikan dan kita miliki (Kol. 2:1-3, Rm. 1:16).

 

 

 

Keempat: Jangan ada seorang pun yang memegahkan diri (ayat 28-31)

 

Rasul Paulus melihat orang Yahudi dan Yunani di Korintus sangat sukar untuk mengenali kelemahan dan dosa mereka. Ketrampilan dan hikmat manusia tidak membawa mereka ke dalam kerajaan Allah; akan tetapi sebagaimana dijelaskan di atas, melalui iman yang sederhana kita dapat melakukannya. Orang yang percaya pada Kristus yang disalibkan, akan lebih mudah mengenali dosa mereka, kelemahan dan kekurangannya sebagai manusia, dan itu adalah jalan untuk masuk dan berada di dalam kerajaan-Nya. Kerendahan hati dan penyerahan diri seperti ini membenarkan yang dikatakan pada ayat 28, “dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti.” Jadi di sini hikmat yang diberikan Allah bukanlah menyangkut perbuatan, melainkan lebih kepada status dan keadaan, yakni rencana Allah untuk keselamatan kita.   

 

 

 

Kasih Allah adalah sumber dan dasar hubungan pribadi kita yang hidup dengan Yesus. Segala pengetahuan, pengertian dan kebijaksanaan, berkat dan karunia-karunia rohani, dan anugerah keselamatan itu adalah pemberian Allah melalui Tuhan Yesus. Kita dipilih dari ketidakberdayaan untuk menjadi alasan bagi dunia bahwa hal yang berharga di dunia ini adalah berbeda dengan di mata Allah. Kesatuan kita dengan-Nya dan identifikasi kita di dalam Kristus berbuah dalam hikmat dan pengetahuan tentang Allah di dalam diri kita (Kol. 2:3; Rm. 4:1-dab), memiliki posisi berdiri kita yang benar di hadapan Allah (2Kor. 5:21), dikuduskan (1Tes. 4:3-7; 2Tes. 2:13-15), dan kita mendapatkan penebusan dosa dari-Nya (Mrk. 10:45; Rm. 3:24; Ef. 4:30). Semua yang lama menjadi tidak berarti dan dilepaskan karena yang mulia telah diberikan kepada kita (Flp. 3:8-9).

 

 

 

Akankah kita bermegah dan sombong? Bagaimana kita bisa bermegah dan sombong? Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk memperoleh keselamatan, kecuali hanya menerima hikmat Allah dan percaya pada hal Yesus lakukan bagi kita. Kita diminta tidak lupa diri, bahwa keberadaan dan keselamatan kita di dalam Kristus adalah anugerah pemberian Allah semata melalui kematian Kristus, sehingga tidak seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah. Jadi jangan seorang pun yang bermegah dan menyombongkan diri bahwa itu atas usahanya atau prestasinya ia memperoleh kehidupan kekal. Kita dapat bermegah karena keberadaan kita yang baru, sebagai manusia baru yang diselamatkan dan bagian dari kerajaan sorga yang kekal. Kita bermegah bukan di hadapan Dia, tetapi di dalam Dia dengan berbuah melalui pemberitaan Injil bagi kemuliaan nama-Nya. Segala puji dan hormat bagi-Nya.

 

 

 

Penutup

 

Melalui nas minggu ini kita diingatkan bahwa pengetahuan, pengertian dan hikmat manusia tidak ada artinya dibandingkan dengan hikmat dari Allah. Keduanya berbeda total, sebab hal yang dipandang berharga oleh manusia, seperti pikiran dan keyakinan akan umat pilihan Allah pada orang Yahudi, atau keunggulan akal pikiran dan diskusi perbantahan bagi orang Yunani, bukanlah hikmat Allah. Hikmat Allah ada dalam penyelamatan manusia melalui kematian Yesus di kayu salib sebagai penebusan dosa dan maut bagi manusia. Hal ini memang kelihatan begitu sederhana, seolah-olah sebuah kebodohan, yang melihat kematian adalah kekalahan bagi mereka, end of the story. Sebaliknya nas minggu ini menekankan bahwa jalan untuk keselamatan begitu sederhana bagi mereka yang ingin memahaminya, mudah bagi yang bodoh, namun menjadi sulit bagi yang memiliki dan memelihara kebenaran yang lama, bagi mereka yang mengandalkan akal pikiran dan kehebatan ilmu dan filsafat. Semua itu diberikan bagi kita yang diberi anugerah dan karunia, yang dipanggil dan merespon untuk menjalankan pemberitaan Injil, dengan pertolongan kuasa Roh Kudus agar kerajaan-Nya kekal semakin luas dan semakin banyak yang diselamatkan serta nama-Nya semakin ditinggikan.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026

Khotbah Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026 – Opsi 2

 

 UCAPAN BAHAGIA (Mat. 5:1-12)

 

Firman Tuhan bagi kita Mat. 5:1-12, menuliskan tentang Ucapan Bahagia Tuhan Yesus. Ini merupakan bagian pertama dari lima bagian Khotbah di Bukit. Kita bisa membayangkan Tuhan Yesus naik ke bukit, diikuti oleh para muridnya. Kemudian Ia duduk, dan kebiasaan para murid akan tetap berdiri mendengarkan. Situasi ini juga seakan menggambarkan saat Nabi Musa menerima Hukum Taurat dari Allah di bukit Sinai (Kel. 19-26).

 

 

Khotbah di Bukit merupakan pengumandangan gagasan pola hidup baru bagi mereka yang mengikut Dia. Gagasan utama diawali dengan tawaran kebahagiaan yang berbeda dengan kebahagiaan pemahaman dunia. Beberapa versi Alkitab menggunakan kata "Berbahagialah" tetapi ada yang memakai kata "Diberkatilah" (misal NIV), meski sama maknanya. Gagasan kebahagiaan dalam nas ini diikuti dengan pengenalan diri sendiri, yakni sebagai terang dan garam dunia (ayat 13-16). Kemudian Tuhan Yesus menegaskan keberadaan hukum Taurat (ayat 17-19), dan memperlihatkan cara pandang baru dalam melakukannya. Ini sekaligus memberi koreksi atas pemahaman para ahli Taurat dan orang Farisi yang berlaku saat itu (ayat 20-dab).

 

 

Kebahagiaan yang dimaksud oleh Tuhan Yesus didasari oleh rasa telah memiliki Kerajaan Sorga (ayat 3, band. ayat 10 dan 12). Ada cara pandang dan karakter pribadi yang dihendaki Tuhan Yesus sebagai syarat agar dapat merasakan kebahagiaan tersebut, yakni:

 

 

 

·      *   miskin di hadapan Allah (ayat 3), bermakna rendah hati, tidak sombong, dan takut akan Allah;

 

·      *   berdukacita (ayat 4), bermakna peduli dan prihatin terhadap situasi sekelilingnya, masyarakat dan bangsanya; jadi bukan (hanya) yang berdukacita secara umum;

 

·     *    lemah lembut (ayat 5), bermakna sikap penuh kasih, sopan santun, tidak kasar dan mementingkan diri sendiri;

 

·      *   lapar dan haus akan kebenaran (ayat 6), yakni kiasan terhadap mereka yang mencari hakekat segala sesuatu, tidak hanya terpesona pada kulit atau bungkus, penampilan, tetapi dalam dan makna sesungguhnya kehendak Tuhan;

 

·     *    murah hati (ayat 7), karena akan memperoleh kemurahan. Ini sama dengan "berilah dan kamu akan diberi" (Luk. 6:38), menjadi berkat dan akan diberkati;

 

·    *     suci hatinya (ayat 8), tidak dipengaruhi iblis dan ego sehingga mereka akan mudah melihat Allah, dalam pengertian Allah ikut bekerja dalam dirinya;

 

·      *   membawa damai (ayat 9), dalam arti yang dipimpin Roh Allah (Rm. 8:14) mereka akan disebut anak-anak Allah.

 

 

 

Bagian kedua (ayat 10-12) nas ucapan bahagia terkait dengan derita penganiayaan yang diterima oleh mereka yang membela kebenaran, atau difitnah oleh mereka yang jahat. Para nabi-nabi dan rasul mengalami hal ini, tetapi semua itu upahnya besar di sorga. Sebagai pengikut Kristus, mari kita ubah cara pandang sehingga kita benar-benar memiliki kerajaan sorga di dunia ini dan merasakan kebahagiaan sejati. Kita Bahagia dan Tuhan pun senang. Dan inti sebenarnya adalah mengakui anugerah dan kasih Allah.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati, amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 25 Januari 2026

Kabar dari Bukit

 

 MANDIRILAH DAN BEKERJALAH (1Tes. 4: 9-12)

 

 ”Ku tahu benar ‘ku dipegang erat, di gunung tinggi dan samudera; di taufan g’lap ‘ku didekap. Bapa sorgawi t’rus menjagaku" (Lirik NKB 128)

 

 

Perjalanan hidup kadang tidak seperti yang kita harapkan. Hambatan dan tantangan bisa saja muncul tiba-tiba, bagai tamu tak diundang. Masalah menjadi lebih besar jika iman sebagai benteng pertahanan masih lemah, dalam arti belum berpondasi kuat. Akhirnya sering terjadi lari dari masalah, bahkan berpikir mengambil jalan pintas mengambil yang gampangnya atau ingin mati saja.

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah 1Tes. 4: 9-12. Nas ini menjelaskan tentang situasi jemaat Tesalonika yang baru bertumbuh. Mereka belum lama menjadi pengikut Kristus. Ternyata ketika mereka memperlihatkan identitasnya sebagai orang Kristen, muncul masalah besar dalam kehidupan mereka, baik secara sosial, ekonomi maupun psikis.

 

 

 

Mereka dikucilkan di bidang sosial dengan dianggap tidak setia pada komunitas, membawa ajaran atau pemikiran baru, dicurigai dan dituduh sebagai pengganggu ketertiban. Dalam bidang ekonomi mereka dipersulit di pekerjaan, hubungan bisnis terputus, diboikot yang membuat sulit mencari nafkah. Tentu hal ini tidaklah mudah, malah membawa ke masalah psikis dalam keseharian mereka karena disebut anti-sosial. Apalagi, terkadang datang perlakuan buruk dengan kekerasan (Kis. 17:1–9).

 

 

 

Tentunya kita juga bisa mengalami hal yang serupa saat ini, terlebih kita minoritas di tengah umat mayoritas. Atau di situasi lain, masalah yang datang serasa sedemikian beratnya sehingga kita berpikir tidak mampu lagi mengatasinya; ingin lari menjauh atau mati saja.

 

 

 

Firman Tuhan melalui Rasul Paulus memberi pedoman yang sangat baik menghadapi situasi seperti ini. Yang pertama ditekankan supaya tetap menjaga pola hidup yang berkenan kepada-Nya dan bahkan lebih bersungguh-sungguh (ay. 1-8). Kedua, perlunya kasih persaudaraan diperkuat. Di sini pentingnya mengikuti persekutuan dan bergereja sehingga permasalahan yang ada tidak dihadapi sendirian. Bangunlah kebersamaan dalam kasih persaudaraan dan lakukan lebih bersungguh-sungguh; Itulah bentuk kasih mengasihi dari Allah (ay. 9-10).

 

 

 

Hal ketiga berusahalah untuk mandiri. Ada banyak cara dan jalan untuk dapat bertahan hidup. "Anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tanganmu, seperti yang telah kami pesankan kepadamu"  (ay. 11). Tidak perlu grasak-grusuk apalagi mengganggu dan menyulitkan orang lain. Tuhan memberi kita tubuh, tangan, kaki, mata dan lainnya termasuk talenta. Hambatan kemalasan, ego dan kesombongan mesti disingkirkan. Kemandirian adalah kehormatan dan sebuah kebanggaan. Ingat firman Tuhan yang berkata: "Jika seseorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan (2Tes. 3:10b).

 

 

 

Terakhir, nas ini meminta untuk tetap menjadikan hidup sebagai sebuah kesaksian. Kasih kepada Allah harus terlihat dalam kasih kepada sesama (1Yoh. 4:20). Kerohanian yang bersih hendaklah seirama dengan etos kerja dan etika sosial. Itulah sikap seorang Kristen sejati, yang ingin memuliakan Tuhan dalam hidupnya. Di mana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Tuhan tidak pernah membiarkan mereka yang terus mencari dan mencari. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar. Akan tetapi, kejahatanmulah yang memisahkan antara kamu dari Allahmu, dan dosamulah yang membuat wajah-Nya tersembunyi dari kamu, sehingga Ia tidak mendengar" (Yes. 59:1-2). Tetap semangat, jangan mudah menyerah.

 

Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026

Khotbah Minggu IV Setelah Epifani, 1 Februari 2026 – Opsi 3

 

 KELUHAN TUHAN (Mi. 6:1–8)

 

 Umat–Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku! (Mi. 6:3)

 

 

Salam dalam kasih Kristus.

 

 

Tuhan mengeluh? Bagaimana bisa? Ia kan Mahakuasa? Ya, betul. Namun itulah yang disampaikan oleh Nabi Mikha dalam nas bacaan hari Minggu ini dari Mikha 6:1–8. Ayat 3 menunjukkan betapa Tuhan kecewa melihat umat-Nya Israel saat itu. “Sebab Tuhan mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya dan Ia beperkara dengan Israel” (ay. 2b).

 

Tuhan Yesus Kristus adalah Roh dan Pribadi. Alkitab menjelaskan bahwa sebagai Pribadi Ia memiliki perasaan, seperti rasa suka dan senang (Hosea 6:6; Imamat 1:9 dan ayat lainnya), benci terhadap orang fasik (Mazmur 11:5; 45:7; Amsal 6:16). Allah juga kadang merasa menyesal melihat perbuatan jahat manusia (Kejadian 6:5–6; 1 Samuel 15:11). Ia dapat murka (Roma 1:18) dan menghukum (Roma 5:9). Allah memiliki kehendak (Roma 9:15–16), memilih (Efesus 1:4) atau menolak (Roma 11:2).

 

 

 

Namun Allah adalah Mahakasih dan Mahasetia. Ia rela berkorban (Yohanes 3:16; 2 Petrus 3:9) dan setia (Ulangan 7:9; Mazmur 89:2; 106:1). Allah bahkan bersumpah ketika mengikat janji (Ibrani 6:13). Ia Mahakuasa sehingga janji-Nya pasti. Dalam kaitan itu Allah memiliki akal dan pikiran untuk membuat rencana (Mazmur 92:5; Yesaya 55:8; Efesus 1:9), menyelidiki, memeriksa, dan mengerti (Mazmur 139:1–3). Ia adalah Pencipta (Kejadian 1:1–31) dan Mahatahu (Mazmur 139:2; 147:4–5; Yesaya 40:13–14; Ibrani 4:13).

 

Kita layak bersyukur atas keberadaan dan sifat Allah tersebut. Ia mengetahui hati dan perasaan kita, harapan, dan pergumulan. Itu mendorong kita untuk lebih mengenal-Nya, menaruh hormat dan takut, sebab dengan cara itu Ia akan mengasihi kita dan memenuhi segala pengharapan yang seturut dengan rencana serta kehendak-Nya.

 

 

 

Dalam nas minggu ini disebutkan bahwa Tuhan kecewa dan mengeluh terhadap bangsa Israel, umat yang dibentuk-Nya, dipilih, diselamatkan dari perbudakan Mesir, diberi pemimpin Musa, Harun, dan Miryam, serta dilindungi dari musuh (ayat 4–5). Namun bangsa Israel melakukan kekejian terhadap Dia dengan menyembah berhala, bahkan mempersembahkan anak-anak mereka sebagai korban (ay. 7b).

 

 

 

Karena itu Allah menuntut dan hendak menghukum mereka. “Maka Aku pun mulai memukul engkau, menanduskan engkau oleh karena dosamu. Engkau akan makan tetapi tidak menjadi kenyang dan perutmu tetap mengamuk karena lapar. Engkau akan menabur tetapi tidak menuai, mengirik buah zaitun tetapi tidak berurap dengan minyaknya, juga mengirik buah anggur tetapi tidak meminum anggurnya” (ay. 13–15).

 

 

 

Umat Israel menyadari kesalahannya. Mereka mencoba menebusnya dengan membawa korban persembahan berupa domba dan minyak (ayat 6–7). Namun pengakuan bersalah saja tidak cukup. Tuhan lebih berkenan pada tindakan nyata. “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan daripadamu selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (ay. 8).

 

 

 

Pesan firman Tuhan ini sangat jelas bagi kita. Ia tidak hanya mengharapkan kita sekadar percaya atau memuji melalui ritual dan seremoni. Tuhan berkenan kepada kebenaran dan kesetiaan. Ia ingin kita melakukan tiga kebaikan (ayat 8), yaitu bertindak adil terhadap sesama, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Dengan murah hati memberi kebaikan untuk menolong orang lain, selalu rendah hati di hadapan Allah dan sesama, serta saling menghormati dan mendahulukan kepentingan orang lain (Filipi 2:3–4). Mereka yang tidak mengasihi manusia yang dilihatnya tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya (1 Yohanes 4:20). Itulah kunci dan parameternya.

 

Semoga Tuhan menuntun kita melakukan kehendak-Nya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

 

 

Khotbah Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026

 Khotbah Minggu III Setelah Epifani, 25 Januari 2026

  SALIB ADALAH KEKUATAN ALLAH (1Kor. 1: 10-18)

 Bacaan lainnya: Mat. 4:12-23; Yes. 9:1-4; Mzm. 27:1, 4-9;

 

 Pendahuluan

 

Bacaan di atas merupakan respon Rasul Paulus setelah mendapat laporan dari utusan keluarga Kloë yang mungkin adalah anggota jemaat di Korintus tentang terjadinya perpecahan di antara jemaat. Sebagai orang yang pernah tinggal di sana dan membimbing banyak jemaat, Paulus memberikan nasihat dan ini menjadi pelajaran dan teladan kepada kita, bagaimana potensi-potensi perpecahan dalam gereja perlu dikenali, diungkapkan, dan kemudian diarahkan agar gereja tidak menghabiskan energi hanya untuk mengurusi hal seperti itu. Pusat perhatian gereja hanyalah kepada Tuhan Yesus Kristus, dan kita dipanggil untuk menjadi kekuatan Allah. Melalui nas bacaan ini, kita diberikan pelajaran sebagai berikut.

 

 

 

Pertama: Jangan ada perpecahan di jemaat (ayat 10-12)

 

Ungkapan “Bersatu kita teguh dan bercerai kita runtuh” merupakan pepatah atau adagium yang bisa diterima semua orang. Contoh sapu lidi sangat umum untuk menggambarkan hal ini. Barisan yang teratur dan saling terkait dan menopang, pasti menjadi pertahanan atau benteng yang kuat dan bagus. Kesatuan tembok batu bata atau simpul tali/kawat yang dipilin pasti akan lebih kuat. Demikian pula ungkapan kalau menggapai mimpi lebih baik dilakukan berdua/bersama dibandingkan dengan dilakukan sendiri-sendiri. Istilah sinergi adalah istilah generik yang memang manfaatnya tidak bisa terbantahkan. Namun, kalaupun ada yang berpikir bahwa sebuah lidi juga bisa bermanfaat, atau bermimpi juga bisa dilakukan sendirian, atau sinergi juga membawa efek samping, ya semua sah-sah saja. Namun dengan kesatuan dan kebersamaan dalam mencapai tujuan, dipastikan lebih efektif dan hasilnya jauh lebih baik.

 

 

 

Tetapi mengapa orang tidak mudah bersatu? Mengapa orang mau berselisih dan tidak melihat contoh di atas dan lebih memilih berpisah, bercerai atau perpecahan (schisma)? Orang lebih suka berpisah dan membangun sesuatu yang baru dengan kembali ke titik nol, dibandingkan dengan tetap bersinergi bersama-sama membangun yang sudah ada dan saling mendukung. Sepertinya semua hanya karena EGO atau EGOISME. Ini sifat yang lebih mementingkan diri sendiri, atau dorongan untuk menguntungkan diri sendiri dibandingkan dengan kepentingan orang lain. Fokus utamanya adalah kepuasan diri sendiri dan bukan menyenangkan orang lain, yang dalam hal ini menyenangkan hati Tuhan juga (Band. Gal. 5:20). Mereka melihat dirinya lebih utama dan penting sehingga bertindak lebih baik sendiri, dengan kadang berprinsip lebih baik jadi raja kecil daripada serdadu raja besar. Merasa diri penting sangat berbahaya, seperti kata T.S. Eliot, “Separuh rasa sakit yang terjadi di dunia ini hanya karena seseorang merasa dirinya penting.”

 

 

 

Itulah yang terjadi di jemaat Korintus. Keragaman anggota jemaat membuat adanya kelompok-kelompok, dan masing-masing kelompok ini berpendapat bahwa kelompoknyalah adalah yang terbaik, termasuk adanya kelompok Yahudi dan non-Yahudi. Mereka juga mendasarkan kelompoknya pada siapa yang membaptis, karunia yang mereka miliki, kaya miskin, sekelompok orang yang masih terlibat dengan masalah moralitas lama, dan sebagainya sehingga menimbulkan perpecahan dalam jemaat. Semua merasa dirinya utama dan penting. Padahal, perpecahan mendatangkan ketidaknyamanan bagi seluruh anggota lainnya, menjadi kelemahan, celaan (Mat. 12:26) dan batu sandungan, membawa kepahitan (Ibr. 12:15), dan kehancuran (Mat. 12:35). Mereka ikut dalam pertempuran di lapangan tetapi sebenarnya mereka tidak bertujuan memenangkan peperangan. Seseorang yang mengutamakan dirinya sendiri sebaiknya melihat dulu dosa-dosa yang sudah dilakukannya, dan bagaimana Yesus telah mati bagi dirinya dengan merendahkan diri dan menerima siksaan yang berat. Bagi Paulus, sikap perpecahan ini menyedihkan dan itulah dasar dari suratnya.

 

 

 

Kedua: Baptisan dan keutamaan denominasi (ayat 13-16)

 

Pada waktu surat ini ditulis, memang belum ada kitab Perjanjian Baru sebagai sebuah kitab suci referensi bersama. Jadi semua orang sangat tergantung kepada pengajar masing-masing. Ada yang merasa kalau murid Kefas (nama Petrus dalam bahasa Aram) adalah rasul yang paling berwibawa saat itu, ada yang merasa murid Paulus (sebab ia pernah tinggal disana), ada yang merasa murid Apolos dari Aleksandria yang pandai berpidato dan mengeluarkan kata-kata “berhikmat” dan senang pada keanggunan sastra (band. Kis. 18:24; 19:1), dan ada pula yang merasa menjadi murid Kristus langsung. Kemungkinan juga mereka ini dibaptis oleh masing-masing gurunya tersebut sehingga membedakan baptisan-baptisan yang ada dan mereka memiliki karunia-karunia yang berbeda kualitasnya. Dengan demikian mereka menjadikan Kristus yang terbagi-bagi, tidak lagi dalam satu tubuh-Nya.

 

 

 

Bagaimana pun Kristus tidak dapat terbagi-bagi berdasarkan baptisan dan guru atau pengajar, bahkan rasul sekalipun. Namun bagi jemaat Korintus mereka berpikiran adanya hubungan khusus antara yang membaptis dan mereka yang dibaptis. Mereka merasa pembaptislah yang menjadi pemilik hidupnya (karena berlatar belakang pemikiran budak), seolah-olah kewibawaan atau “kebesaran” nama dan kepintaran berpidato oleh orang membaptis itu menjadi sebuah keistimewaan dalam baptisan, semacam memiliki kekuatan rohani yang berbeda. Jelas ini cara berpikir yang salah. Bahkan mereka juga menjelek-jelekkan baptisan orang lain, bahwa baptisan oleh pihak lain itu tidak sah, tidak berwibawa, kurang memiliki Roh yang kuat, dan sebagainya, sementara baptisan mereka adalah yang penuh wibawa, penuh Roh, dan berdasarkan hikmat yang lebih besar, dan sebagainya. Inilah yang membuat mereka menempatkan diri sebagai kelompok eksklusif dan menjadi biang keladi perpecahan jemaat. Padahal, tujuan dibaptis adalah sesuai dengan perintah Kristus dan mencirikan mereka bukan manusia lama, dan mereka yang sudah dibaptis ke dalam Kristus akan menjadi manusia baru (band. Rm. 6:1-11).

 

 

 

Hal ini juga yang menjadi pergumulan umat Kristen saat ini. Masih banyak gereja-gereja yang mengaku bahwa baptisannya (selam) sah dan baptisan yang lain (percik) tidak sah. Ada yang bahkan mengaitkan baptisan (selam) dengan syarat keselamatan sehingga mewajibkan baptisan ulang, yang berarti mengabaikan dan menihilkan baptisan sebelumnya. Mereka ini menyatakan bahwa baptisan kepada bayi dan anak-anak tidak sah. Sikap seperti ini jelas bukan meneladani Kristus dan para rasul yang merendahkan diri demi untuk pelayanan. Hal yang lebih mengkhawatirkan juga akibat dari pandangan ini, jemaat masa kini banyak yang menjadi lebih berpihak pada manusia (gembala, pendeta) yang menahbiskannya, bersedia bertengkar demi mengikuti pandangan yang “salah” tersebut, dan bukan berpihak pada Kristus, sumber kuasa Roh dalam baptisan. Ini bahayanya kalau orang hanya mendengar khotbah tanpa membaca ulang firman-Nya, akan ada fanatisme buta. Pesan pengkhotbah tidak lebih utama dan benar dari firman. Kekuatan bukan pada yang bercerita, tetapi pada ceritanya (get the story, not the storyteller). Kebanggan kita bukan pada pengkhotbah melainkan pada Tuhan Yesus. Inilah yang ditekankan oleh Firman-Nya melalui Rasul Paulus, agar kita tetap dalam kasih dan kesetiaan kita kepada Allah, berfokus pada Sumbernya yakni Tuhan Yesus, berfokus pada misi-Nya, dan bukan pada orang yang membaptis kita di dunia ini. Firman Tuhan berkata, membanggakan kelompok sesuai baptisan menunjukkan bahwa kamu adalah manusia duniawi yang bukan rohani (1Kor. 3:4).

 

 

 

Ketiga: Kita dibaptis untuk diutus (ayat 17)

 

Meski Paulus menyatakan bahwa dia dipanggil bukan untuk membaptis, baptisan bukan berarti tidak perlu. Tuhan Yesus memerintahkan baptisan (Mat. 28:19) dan juga dikhotbahkan oleh para rasul (Kis. 2:41). Baptisan sebagai “pengganti” dan sejajar dengan sunat merupakan pemersatu kita dengan Kristus. Pemersatuan itu disimbolkan dengan adanya air, baik itu dalam bentuk percikan maupun dalam bentuk diselamkan. Memang kata baptis berarti diselamkan, akan tetapi diselamkan dalam pengertian diselamkan secara rohani ke dalam Roh, bukan hakekatnya ke dalam air, sebab air itu hanyalah tindakan simbolis saja.  Pengertian dibaptis atau diselamkan dalam hal ini diutamakan dipersatukan ke dalam kematian Tuhan Yesus dan kebangkitan-Nya. Baptisan juga tidak ada hubungannya dengan pengudusan dan juga dengan keselamatan, sebab keselamatan itu hanya melalui pertobatan, iman, ketaatan, dan kasih karunia saja (band. Kis. 2:38). Itu hanya merupakan tanda dipersekutukan dan tidak ada salahnya bila dipakai sebagai persyaratan keanggotaan gereja tertentu, namun bukan pada keselamatan.

 

 

 

Rasul Paulus sendiri tidak terlalu berminat dalam membaptis sehingga ia katakan hanya membaptis beberapa orang saja. Tugas itu lebih ia berikan kepada pihak lain yang secara teologis memang siapa saja orang percaya dapat melakukannya, meski aturan gereja kadang menyebutkan harus dilakukan oleh hamba Tuhan yang ditahbiskan (Pendeta). Rasul Paulus lebih menekankan tugas dan pelayanannya dalam pemberitaan Iniil, sebab menurutnya untuk itulah dia dipanggil, bukan dipanggil untuk membaptis. Dalam pandangannya, sepanjang baptisan itu di dalam nama Tuhan Yesus (beserta Allah Bapa dan Roh Kudus), maka semua baptisan itu sudah sah dan mempersatukan kita dengan Dia. Dengan demikian, firman Tuhan yang disampaikannya lebih menempatkan kedudukan baptisan pada pengertian yang sebenarnya, bukan diartikan menjadi sesuatu yang membuat perbedaan baik dalam cara maupun dalam kualitas berkat dan karunia yang diterimanya. Oleh karena itu Rasul Paulus sebagai pembimbing mereka, dalam kekecewaannya dengan perpecahan karena baptisan ini sampai mengatakan: "Apakah yang kamu kehendaki? Haruskah aku datang kepadamu dengan cambuk atau dengan kasih dan dengan hati yang lemah lembut'?" (1Kor. 4:21).

 

 

 

Oleh karena itu seyogianya bagi kita yang diberi karunia berkata-kata dalam hikmat seperti Apolos dalam pengertian pandai berkhotbah, jangan melupakan bahwa fokus utama panggilan kita adalah untuk terus memberitakan Injil, bukan dengan membangun gereja yang baru, kelompok baru, menghimpun anggota untuk kepentingan diri sendiri, sehingga tujuan utama pemberitaan Injil menjadi terpinggirkan atau tidak fokus. Itulah sebabnya Rasul Paulus tidak mau terjebak dalam pidato atau khotbah yang menggebu-gebu, berkata-kata dengan bunga rampai hikmat duniawi, melainkan ia mengandalkan kekuatan Roh dalam pemberitaan Injil, agar semakin banyak orang yang bertobat, percaya, dan taat agar menerima kasih karunia itu (1Kor. 2:1, 4). Bagi dia, pemberitaan Injil dan Kristus yang disalib dan bangkit kembali merupakan hal yang utama, bukan mempersoalkan baptisan, bukan perbedaan karunia rohani, sebab hal demikian membuat salib Kristus menjadi sia-sia atau kosong kehilangan tujuannya.

 

 

 

Keempat: Pemberitaan salib itu kekuatan Allah (ayat 18)

 

Ada banyak makna salib bagi banyak orang. Ada yang membuat salib sebagai perhiasan di baju, digantungkan di leher; ada yang membuat sebagai hiasan di dinding rumah; ada yang membuat sebagai senjata atau bahkan menjadi tiang jemuran; tapi secara umum salib adalah simbol kekristenan, sebab Yesus mati di kayu salib dan curahan darah-Nya itulah yang menjadi penebusan dosa umat manusia. Alkitab berkata bukan lagi persembahan hewan dan percikan darahnya di bait Allah di Yerusalem yang dapat menghapuskan dosa manusia, melainkan hanya dengan mengakui dan percaya bahwa Yesus menderita dan telah mati bagi dia, kita sudah ditebus oleh-Nya, darah-Nya yang kudus telah menguduskan kita, dan bertobat serta taat akan firman-Nya, maka salib itu memiliki makna khusus dalam hidup kita.

 

 

 

Bagi mereka yang mengutamakan penggunaan akal pikiran dalam mencerna penebusan Yesus di salib, itu tampak seperti hal yang tidak masuk akal. Kesannya, bagaimana mungkin seseorang mati di kayu salib bisa menggantikan segala dosa-dosa yang kita lakukan. Bagi mereka, yang terus mengutamakan penggunaan akal dan mengandalkan semua logika duniawi, ini dipandang sebagai kebodohan. Kesombongan intelektual mereka membuat mereka menolak, tetapi ketidakpercayaan itulah yang membuat mereka menjadi binasa. Nas minggu ini mengatakan, pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka. Mereka tidak sadar bahwa justru itulah keunikan dan kekhususan kekristenan, dengan kebenaran pengampunan dan keselamatan hanyalah kasih karunia dan anugerah.

 

 

 

Tetapi sebaliknya bagi kita yang percaya pada penebusan Yesus, mengakui salib itu adalah kekuatan Allah. Salib itu adalah tempat Allah memperlihatkan kasih-Nya dengan bersedia menderita dan menerima siksaan hingga mati demi untuk menebus dosa-dosa yang percaya kepada-Nya. Salib bagi kita bukan (hanya) ornamen, hiasan, atau simbol, namun salib sudah menjadi hakekat penebusan. Dengan demikian, pemberitaan salib menjadi kekuatan Allah, sebab apabila kita memberitakan penderitaan Tuhan Yesus, yang mati di kayu salib, dan kuasa-Nya berupa kebangkitan dan naik ke sorga, maka itu menjadi kekuatan bagi mereka yang belum mengenal Dia. Pemberitaan salib memberi hikmat dan kebenaran dengan kuasa yang menyertaiNya, menjadi pintu penerimaan bagi mereka yang belum merasa pasti selamat.

 

 

 

Penutup

 

Melalui nas minggu ini, kita diminta untuk terus bersatu dan saling membahu dalam mengabarkan Injil dan salib. Pemberitaan salib adalah kekuatan Allah. Kita tidak perlu berpisah dan menjadi terpecah, berdebat soal baptisan atau karunia-karunia rohani yang terbesar di hadapan Allah. Kita harus sepenuh hati memberikan kontribusi sesuai dengan yang diberikan Allah dalam hidup kita, yakni karunia-karunia tersebut. Rasul Paulus menekankan bukan indahnya kata-kata dalam khotbah, ajaran yang glamor, tetapi kembali ke tugas pokok dengan pertanyaan: Apakah diri kita dan gereja kita terus menginjili ke luar? Berjuanglah mendapatkan keharmonisan, jauhkan perdebatan yang tidak perlu dalam kelompok. Kristus yang utama dan nama ini yang ditekankan berulang-ulang pada surat Paulus ini.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 45 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13337235
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
2065
3015
5080
13308755
96034
141921
13337235

IP Anda: 216.73.216.175
2026-01-26 14:33

Login Form