Monday, July 13, 2026

2026

Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - 19 Juli 2026

Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - 19 Juli 2026

 MENJADI ANAK-ANAK ALLAH (Rm. 8:12-25)

Bacaan lainnya: Mat. 13:24-30, 36-43; Kej. 28:10-19a; atau Yes. 44:6-8; Mzm. 139:1-12, 23-24 atau Mzm. 86:11-17

 

Pendahuluan

Kita tahu bahwa banyak orang Kristen yang belum memahami arti sebagai pengikut Kristus. Pola kehidupannya sering kali belum mencerminkan maksud dan kehendak Tuhan Yesus dalam hidupnya sebagai anak-anak Allah, dan masih banyak yang hidup dengan pola manusia lama. Hal itu bisa tampak dari hal sederhana, misalnya, masih hidup dalam ketakutan: takut pada kegelapan, takut akan hari esok dan lainnya, sampai yang paling “berat” yakni wajib peduli dan berbuat baik terhadap orang lain. Firman-Nya berkata: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak. 4:17). Hal itu mungkin didasari belum dipahaminya rencana Allah dalam hidupnya dan juga janji pasti yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepada kita. Melalui nas minggu ini kita diberi pengajaran tentang hidup sebagai anak-anak Allah dan sekaligus pewaris kerajaan-Nya saat ini hingga di kekekalan nanti.

 

Pertama: Kita adalah orang berhutang (ayat 12-13)

Kita tahu banyak orang yang merokok. Adanya keharusan pemerintah mencantumkan gambar-gambar yang menyeramkan di bungkus rokok dan tulisan "Merokok Membunuhmu" dengan tujuan untuk memberi kesadaran dan rasa takut kepada pembeli, tampaknya tidak efektif. Kenaikan pita cukai juga tidak terlalu menolong, meski dianggap terlalu kecil sehingga harga jual rokok masih murah dibanding di luar negeri. Oleh karena itu jumlah perokok di Indonesia terus bertambah dan bahkan sudah merembet ke dunia remaja muda. Industri rokok pun semakin jaya dengan keuntungan semakin besar. Para pemilik pabrik rokok menjadi orang-orang terkaya di Indonesia. Alasan orang tetap menjadi perokok jelas, yakni susah menghentikan sebab telah adanya racun di dalam tubuh (darahnya) berupa zat adiktif nikotin yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah yang menyebabkan kecanduan. Setiap saat racun ini meminta kembali nikotin yang memaksa perokok untuk kembali ingin mengepulkan asap rokok demi untuk memenuhi kebutuhan racun tadi. Dengan demikian dapat dikatakan, seolah-olah seorang perokok merasa berhutang bagi tubuhnya, bagi dagingnya, sehingga perlu "membayar" pada saat yang dibutuhkan. Kecanduan memenuhi keinginan tubuh dan daging bukan hanya merokok, hal lainnya bisa kita lihat pada kecanduan narkoba, alkoholisme, kecanduan seksual, makan berlebih yang berakibat menjadi mudah lapar, termasuk kecanduan yang bukan tubuh seperti judi, menonton film porno, dan lainnya.

 

Anehnya, semua orang tahu bahwa merokok tidak baik, banyak minum alkohol (berlebih) tidak baik, narkoba itu tidak baik. Namun tetap saja orang memulai dan akhirnya terjerat dalam hutang ketergantungan kepada daging. Mereka mungkin melupakan awalnya, bahwa memulai itu berarti membuat hutang pada tubuh. Betul ada jalan pemulihan, seorang perokok dapat menghentikan kebiasaannya dengan komitmen penuh. Kalau ada yang mengatakan tidak bisa, maka sebenarnya hanya belum memiliki komitmen kuat. Lain lagi, memulihkan seseorang yang terjerat alkoholisme, ini memerlukan biaya yang besar. Sama dengan narkoba, biasanya harus masuk panti khusus pemulihan yang membutuhkan biaya besar dan menjalani proses "siksaan" pada tubuh untuk menetralisir tubuh yang sudah terkontaminasi racun-racun yang ada di dalam darah. Untuk masuk dalam proses pemulihan itu pun memang perlu ada "kesadaran" sehingga proses pemulihan menjadi lebih mudah dan tidak merasa terlalu berat. Seseorang harus proaktif dalam memenangkan peperangan yang dipakai iblis melalui kedagingan kita. Dalam hal ini "kerjasama" dibutuhkan antara tubuh dengan roh (kesadaran) untuk proses pemulihan.

 

Namun banyak yang membuktikan, kesadaran dan kekuatan dari roh (kecil) kita saja tidak cukup untuk dapat melawan mematikan racun-racun tubuh itu. Seorang perokok atau pecandu narkoba biasanya bisa berhenti sebentar namun kumat lagi. Orang yang merokok kalau tidak sadar tujuan hidupnya, akan mudah kembali kecanduan. Demikian juga dengan kecanduan lainnya, sehingga yang dilakukan dalam pemulihan sering tidak efektif. Oleh karena itu, panti pemulihan alkohol dan narkoba yang dilengkapi dukungan kerohanian dengan memperkenalkan Tuhan Yesus biasanya lebih efektif. Seseorang yang mengenal Tuhan Yesus tentunya memahami bahwa mengikuti keinginan dengan membayar hutang kepada tubuh dan daging adalah sesuatu yang sia-sia dan membawa kita pada kematian. Juga perlu dibayangkan, berapa nilai rokok yang kita bayar, harga narkoba dan alkohol yang kita harus beli, semua hanya membentuk hutang kepada tubuh, yang kita harus membayarnya setiap saat sebelum dipulihkan. Ini masih ditambah dengan kerusakan tubuh. Apalagi, untuk membeli semua kebutuhan yang merusak itu harus mengorbankan keperluan yang lebih penting, untuk anak, keluarga, berobat dan lainnya. Dalam hal ini bukan saja kematian fisik yang terjadi, tetapi juga kematian secara rohani, sebab kita melakukan hal yang tidak berkenan kepada Tuhan (Gal. 5:16-18; Ef. 6:12; 1Pet. 2:11). Oleh karena itu, hanya Roh Allah yang bekerja dalam kesadaran dan komitmen (roh kita) yang dapat menghentikan semua kecanduan itu. Nas minggu ini menuliskan, "jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." Roh itulah yang menghidupkan seseorang pecandu dari penyakit yang merusak dan sekaligus memahami arti kehidupan ini untuk tidak dijalani dengan sia-sia, hanya memuaskan diri sendiri, dan tidak peduli dengan orang lain.

 

Kedua: Kita tidak dipimpin roh perbudakan (ayat 14-17a)

Rasul Paulus menggunakan kata adopsi sebagai ilustrasi hubungan baru orang percaya dengan Tuhan. Ia menggunakan kata Yunani hiuos yang berarti "anak yang sudah diangkat secara sah." Di dalam budaya Romawi, seseorang yang diadopsi oleh keluarga lain, maka hak-haknya pada keluarga lama akan hilang, namun akan mendapatkan hak-hak dari keluarga yang baru. Dengan demikian ayat yang dipakai dalam nas ini menggambarkan posisi orang percaya, ketika menjadi orang Kristen dan lahir baru kita diangkat menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12; 3:4-5), maka kita pun memiliki hak penuh dan istimewa sebagai anak (Gal. 3:26; 4:5; Ef. 1:5). Salah satu keistimewaan menjadi anak-anak Allah adalah hubungan kita dengan Allah Bapa menjadi begitu dekat. Kita dapat memanggil dengan panggilan akrab, yakni: Abba, yang berarti Bapa. Kata Abba berasal dari bahasa Aram yang sering digunakan pada saat kehidupan sehari-hari Tuhan Yesus. Perkataan "ya Abba, ya Bapa" juga merupakan seruan Tuhan Yesus tatkala Ia berdoa di bukit di Getsemani (Mar. 14:36; Gal. 4:3-9).

 

Dengan hubungan yang dekat dan mesra antara kita anak-anak-Nya dengan Allah, kita tidak lagi menjadi budak-budak yang was-was dan takut (2Tim. 1:7); melainkan kita adalah anak-anak "Tuan Besar". Sungguh alangkah menyenangkan, roh perbudakan itu telah lenyap. Roh perbudakan pada dasarnya adalah akibat pemahaman hukum Taurat yang membangkitkan rasa takut dan mencoba menyenangkan Allah dengan cara-cara yang sia-sia. Allah telah memberikan kita hadiah kasih karunia terbesar dalam hidup kita, yakni: Yesus Kristus, pengampunan, dan kemerdekaan. Dengan menerima Yesus, kita masuk ke jalan kemenangan dan kehidupan kita dipimpin oleh Roh Kudus (Gal. 4:5-6), serta kita dimampukan mematikan perbuatan-perbuatan tubuh dan menganggap kecenderungan dan kuasa dosa di dalam tubuh sudah mati (band. Rm. 6:11; Gal. 5:24). Kita menjadi tahu tentang makna dan hakekat kehidupan yang sebenarnya, yakni kasih karunia. Kita memiliki tujuan hidup yang sekaligus menjalankan misi Allah sambil mengucap syukur, sambil terus mematikan keinginan daging sebagai bagian ketaatan kita pada-Nya (Rm. 1:5). Nilai sebuah kemenangan sangat tinggi sesuai dengan perjuangan yang kita korbankan. Konsekuensi positif lainnya, secara sadar kita dapat mengabaikan pencobaan kedagingan yang sering dimanfaatkan iblis (Gal. 6:8).

 

Keistimewaan lainnya sebagai anak yang sah, kita menjadi pewaris dari keluarga kerajaan Allah. Kita mendapat hak penuh sebagai pewaris dari keluarga sorgawi (Gal. 4:7; Ef. 3:6). Kita memperoleh bagian dari kekayaan sorga bersama orang percaya lainnya, berhak menerima janji-janji Allah. Kasih Bapa kepada kita sebagai anak-anak-Nya sama dengan kasih bagi Anak-Nya yang tunggal yakni Yesus Kristus (Yoh. 14:21, 23; 17:23). Mungkin kadang kala kita tidak merasa bahwa kita adalah anak-anak Allah. Iblis akan mengganggu dan menggoyang iman kita, namun Roh Kudus adalah saksi atas sikap dan keberadaan kita. Kehadiran-Nya di dalam hati mengingatkan (kembali) siapa kita dan menguatkan diri kita dengan kasih Allah Bapa (Rm. 5:5; Tit. 2:11-12). Ia menjamin kehidupan yang kekal, dan meneguhkan kita atas setiap permintaan kebutuhan sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.

 

Ketiga: Kita masih mengeluh dan menderita (ayat 17b-23)

Sebagai ahli waris kerajaan Allah, cobaan dan penderitaan tidak otomatis lepas dari kehidupan kita. Orang percaya harus menghadapi berbagai jenis penderitaan yang mungkin terjadi. Kadang pencobaan datang tidak terduga dan terselami seperti yang dialami Ayub. Pada awal abad pertama, orang Kristen menghadapi pencobaan berupa pengucilan dan penyiksaan yang berdampak dalam kehidupan sosial ekonomi, bahkan termasuk risiko kematian. Demikian juga kita saat ini harus siap menghadapi risiko yang akan datang, dan siap membayar harga untuk itu. Di beberapa belahan dunia ini, ada tekanan-tekanan yang harus diterima oleh orang Kristen, dalam kegiatan dan karier di pemerintahan atau perusahaan, termasuk dalam pekabaran Injil. Kita di Indonesia yang mengaku sebagai negara yang memiliki toleransi tinggi, juga mengalaminya di beberapa daerah. Kekristenan tidak otomatis menjadi mulus dan langsung memuaskan. Namun itu tidak boleh menghentikan pola hidup sebagai orang Kristen yang harus melayani sesama, membela ketidakadilan, membela nilai-nilai hakiki yang universal, yang selalu mempunyai harga. Namun betapa pun beratnya, perlu kita ingat beban itu tidak akan melebihi yang ditanggung oleh Yesus pada masa pelayanan-Nya untuk dapat membela dan menebus kita dari dosa dan penderitaan kekal.

 

Betul, Allah telah menciptakan dunia dan alam semesta ini dalam keadaan amat baik (Kej. 1:31). Kejatuhan Adam ke dalam dosa merusakkan semua konsep dan ciptaan. Dosa menyebabkan seluruh ciptaan menjadi jauh dari nilai-nilai hakiki saat awal Tuhan menciptakan. Manusia hanya makan dari buah-buahan pohon dan dedaunan di Taman Eden (Kej. 2:9, 16), kemudian boleh makan daging hewan setelah peristiwa penyelamatan Nuh dengan air bah (Kej. 9:3-4). Ini mungkin konsekuensi keserakahan. Akibatnya, semua mengalami kerusakan nilai-nilai hakikinya akibat dosa Adam hingga peristiwa Nuh. Alam semesta juga semakin menanggung berbagai kerusakan akibat bencana alam, seperti gempa, tsunami, ledakan gunung, kekeringan, banjir, dan kerusakan lingkungan hidup lainnya. Memang semua ini masih dalam kendali kehendak-Nya akibat ketidaktaatan manusia. Semua makhluk mengeluh dalam pengertian ketidak puasan, namun harus menyadari keluhan sebagaimana orang bersalin pasti menghasilkan hidup baru dan kelegaan. Alam dan manusia mengharapkan pelangi baru sebagai tanda kasih Allah. Dunia mengalami kefrustasian dan terbelenggu dalam kelemahannya, sehingga tidak dapat memulihkan hakekat nilai asli sesuai dengan tujuan Tuhan.

 

Orang Kristen perlu melihat dunia ini sebagaimana adanya, dunia yang semakin melorot dan secara rohani dosa telah merasuk. Alkitab yang kita imani mengatakan suatu saat Tuhan pasti memulihkan semua ciptaan-Nya, terbebas dan ditransformasikan. Bersamaan dengan masa yang datang itu, semua berharap adanya pemulihan anak-anak Allah dibangkitkan. Namun kita orang percaya tidak perlu pesimis, sebab ada pengharapan kemenangan di masa depan. Sementara itu, orang Kristen di dunia ini terus bersaksi dan berbuah dengan menyembuhkan penyakit masyarakat, baik fisik, ekonomi, sosial maupun jiwa-jiwa yang masih haus akan kedamaian dan sukacita yang telah dirusak oleh iblis. Kita juga akan dibangkitkan dengan tubuh kemuliaan sebagaimana tubuh Yesus setelah kebangkitan-Nya yang saat tinggal di sorga (1Kor. 15:25-58). Pembebasan tubuh kedagingan berarti bebas dari rasa sakit dan penderitaan akan berlalu bagi setiap orang percaya. Perubahan lengkap tubuh dan kepribadian kita kelak akan dinyatakan setelah kehidupan saat ini, ketika kita menjadi serupa dengan Kristus (1Yoh. 3:2). Kita telah mendapatkan "karunia sulung" berupa pemberian pertama atau uang muka yakni Roh Kudus sebagai jaminan semua pembebasan itu (2Kor. 1:22; 5:5; Ef. 1:14).

 

Keempat: Mengharapkan yang tidak dilihat (ayat 24-25)

Rasul Paulus dalam bab-bab sebelumnya telah menyodorkan ide yang berdasarkan pandangan hidup di dunia Romawi saat itu, bahwa keselamatan ada di masa lampau, di masa kini, dan di masa mendatang. Di masa lampau kita diselamatkan pada saat kita pertama kali mengaku Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Kehidupan kita yang baru yakni jaminan hingga kekekalan dimulai pada saat pengakuan itu (Rm. 3:24-25; 5:8-11; 8:1). Pada saat ini kita tetap diselamatkan dalam sebuah proses berkelanjutan dan pengudusan. Kekalahan sesaat kita terhadap iblis tidak menghapus janji dan jaminan keselamatan, sepanjang kita memperlihatkan sikap penyesalan dalam dan pertobatan. Di saat yang sama kita akan menerima penggenapan seluruh upah dan berkat dari keselamatan yang menjadi milik kita, ketika nanti kerajaan Kristus dinyatakan utuh sempurna sepenuhnya. Ini merupakan keselamatan kita di masa mendatang. Kita berkeyakinan penuh atas seluruh keselamatan itu, teguh memandang dengan penuh pengharapan dan iman. Pengharapan adalah sauh yang kuat untuk menjaga agar kita tidak terombang-ambing dalam menghadapi pergumulan hidup sehari-hari (Ibr. 6:19), dengan demikian kita diberi jalan yang menyelamatkan melalui pengharapan.

 

Namun, tetap kita perlu memahami pertanyaan dasarnya: Apa yang kita nantikan dalam menyongsong pasca hidup kita di dunia ini? Sesuatu yang kita lihat saat ini bukanlah pengharapan melainkan realitas yang dihadapi tanpa perlu keluhan. Sejatinya, sesuai dengan gambaran yang diberikan Alkitab, kita mengharapkan tubuh yang baru, keluarga dan rumah yang abadi, sebuah bumi baru dan langit baru, kedamaian dan kelimpahan berkat, ketiadaan dosa dan penderitaan, dan yang terutama kita dapat bertatap muka dengan Tuhan Yesus sebagai sumber pengharapan kita! Seperti gambaran kitab Wahyu, kita/mereka "tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Sebab Anak Domba yang di tengah-tengah takhta itu, akan menggembalakan mereka dan akan menuntun mereka ke mata air kehidupan. Dan Allah akan menghapus segala air mata dari mata mereka" (Why. 7:16-17). Kita melihat ke depan menunggu pada bumi baru dan langit baru sebagaimana yang Allah janjikan, bebas dari perbuatan dan konsekuensi dosa. Gambaran itu tidak bisa kita uraikan sebagaimana dikatakan firman-Nya: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (1Kor. 2:9). Semua ditaklukkan melalui pengharapan.

 

Adalah sesuatu yang alamiah untuk seorang anak mempercayai penuh orangtuanya, meskipun kadang kala orangtuanya tidak bisa memenuhi janjinya karena keterbatasan tertentu. Tetapi, Bapa sorgawi kita, bagaimanapun, tidak akan pernah mengabaikan janji yang diberikan-Nya (Ibr. 6:13; 2Pet. 3:9). Namun daripada berlaku seperti anak yang tidak sabar menunggu semua dinyatakan di dunia ini, lebih baik kita tetap meletakkan iman di dalam hikmat dan kebaikan Allah. Betul, kadangkala, waktu yang diberikan-Nya jauh dari pengharapan kita. Rencana-Nya tidak terselami dan bisa jauh dari perkiraan kita. Namun kita percaya rencana-Nya adalah yang terindah. Kita diberi berbagai peristiwa untuk menguji kesabaran kita, ketaatan kita, dan terutama ketekunan kita dalam penantian itu (2Tim. 2:12; 1Pet. 4:13). Ketidaksabaran seorang anak harus diisi dengan menjalankan tugas panggilan, bukan dengan keluhan atau gerutuan. Itulah yang membuktikan bahwa kita adalah anak-anak sejati yang berhak atas tubuh kemuliaan menggantikan tubuh fana ini. 

 

Penutup

Melalui nas minggu ini kita diingatkan kembali tentang hak-hak kita sebagai anak-anak Allah, yakni kita tidak perlu berhutang (lagi) kepada tubuh dan kedagingan, melainkan kita berhutang kepada Yesus yang telah menyelamatkan hidup kita. Kita tidak perlu lagi berhutang wajib memenuhi keinginan tubuh sehingga ada ketergantungan, keterikatan, kecanduan yang membuat kita sebagai budak dari tubuh. Sebagai anak-anak Allah yang sudah dimerdekakan dan diberi kuasa Roh Kudus, kita tidak lagi memiliki roh perbudakan, bahkan kita adalah ahli waris yang sah dari Allah Bapa. Namun, dalam menanti penggenapan warisan kerajaan sorga itu, kita masih perlu berkorban dan bahkan menderita di dunia ini, yang hal itu sebagai ujian ketaatan dan kasih kita kepada Bapa. Ujian juga dimaksudkan agar hal yang kita akan terima nanti memang merupakan sesuatu yang istimewa, yang kita sendiri tidak bisa bayangkan dan gambarkan keistimewaannya. Yang jelas, warisan kerajaan sorga itu pasti melebihi gambaran dan penglihatan yang kita miliki, sebab kalau kita sudah melihatnya di dunia ini, maka itu bukan lagi pengharapan. Namun untuk semua itu, kita perlu bertekun dalam segala ujian dan pengharapan itu, disertai rasa syukur sehingga kita terbukti adalah anak-anak Allah yang sejati.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (2) Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - 19 Juli 2026

Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - 19 Juli 2026 – Opsi 2

 

 LALANG DAN GANDUM (Mat. 13:24-30, 36-40)

 

 ”Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku" (Mat. 13:30)

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita dari Mat. 13:24-30, 36-40. Bagian pertama menceritakan perumpamaan Tuhan Yesus tentang lalang yang tumbuh di antara gandum, dan bagian kedua berisi penjelasannya. Ternyata di antara benih gandum yang ditabur, sering tumbuh lalang. Dan itu adalah kerja Iblis si jahat, musuh yang menaburkan benih lalang yang sengaja mengganggu benih yang ditaburkan Tuhan.

 

 

 

Kita hidup di dunia yang tidak steril, tidak terisolasi. Taburan yang beragam nilai datang dari segala penjuru, melalui berbagai cara dalam dinamika kehidupan: di rumah, gereja, lingkungan, media, buku, film dan lainnya; semua akan ikut mempengaruhi dan tidak mudah untuk membendungnya. Sejarah juga penuh dengan tindakan perbuatan baik, tetapi selalu disertai adanya perbuatan jahat dari pihak lain. Ya, kadang ada juga perbuatan baik yang berbungkus niat jahat. Tentu yang dilihat adalah akhirnya, tetaplah itu jahat.

 

 

 

Oleh karena itu kunci dari semuanya kembali ke manusianya, diri kita sendiri. Kitalah yang membuat diri kita seperti apa gambar dan rupa kita. Kita ingin bertumbuh bagaimana, dan menjadi apa? Kita yang mengelola informasi dan pengaruh yang masuk ke dalam hati dan pikiran kita. Dan, kita juga yang memilih mengambil setiap tindakan dan keputusan, yang semua berdampak bagi diri kita sendiri dan bagi orang lain. Untuk itu jadilah seperti murid yang terus bertanya tentang maksud Tuhan (ayat 36).

 

 

Saya jadi ingat pesan bos saya dulu di Bukaka. Dia bilang, “kalau kamu berteman dengan orang pintar, maka kamu akan bertambah pintar. Berteman dengan orang kaya, kamu ikut menjadi kaya. Bila berteman dengan orang bebal dan bodoh, ya pasti tahulah hasilnya akan serupa dengan dia.” Saya juga selalu ingat pesan ayah saya sewaktu mau bersekolah ke Bandung: “Kamu akan bertumbuh dan menuju untuk ditempa menjadi emas. Jadilah emas, sehingga kalau pun kamu nanti jatuh ke lumpur atau ke selokan, kamu akan tetap emas. Tinggal siapa yang menemukan saja, sehingga melihat dirimu memang sangat berharga.” Kita belajar dari kehidupan, semua ada hikmah dan tujuannya.

 

 

Hidup yang berharga adalah hidup yang tumbuh dari benih yang baik, dirawat dan dipupuk dengan baik, dan terus berbuah terutama bagi orang lain. Untuk terus berbuah, kita memilih hal yang baik untuk diri kita. Iblis selalu bekerja sangat agresif mempengaruhi, melalui orang lain, atau cara lainnya. Tanpa berprasangka dan menghakimi, tidak semua orang juga ingin melihat kita bertumbuh dan berkembang. Maka pintar-pintarlah memilih hal yang masuk ke hati dan pikiran. Pintar memilih teman, pergaulan dan lingkungan, semua hal yang kita lihat, kita dengar, baca, sentuh. Itu semua pilihan kita. Sebuah tantangan dan perjuangan untuk dapat menyenangkan hati Tuhan.

 

 

Kita yang dipanggil dan percaya Tuhan Yesus, dasarnya adalah benih yang baik. Kita ini di ladang dunia, dan Tuhan membiarkan orang jahat kerja si iblis tetap ada bersama kita (ayat 30). Semua pasti untuk kebaikan, agar kita menjadi kuat. Tetaplah waspada dan berjaga, bila lalang yang tumbuh di sekitar kita justru semakin banyak dan mengganggu, tidak mustahil kita yang akan mati dan lalang si jahat semakin meluas.

 

 

Mari kita anak-anak Allah, orang percaya dari benih yang baik, teruslah berbuah lebat, menabur benih, dan mengalahkan lalang. Kita yang menang kelak akan dipisahkan, bersorak-sorai menikmati, dan bercahaya dalam kerajaan sorga (ayat 42, Mzm. 126:5-6). Sementara mereka yakni lalang yang jahat, nanti akan dikumpulkan dan dibakar. Ah, mengerikan, apalagi bila mereka itu keluarga kita, sahabat kita, atau bahkan orang lain yang tidak kenal. Maka lakukanlah sesuatu untuk menolongnya.

 

 

Selamat beribadah dan selamat melayani 

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Kabar dari Bukit, Minggu 19 Juli 2026

Kabar dari Bukit

  FIRMAN TUHAN YANG TIDAK SIA-SIA (Yes. 55:10-13)

  ”Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia" (Yes. 55:11a)

 

Selamat pagi.

Hati saya kadang masygul bila setelah berkhotbah, melihat perilaku jemaat setelah ibadah selesai. Ada yang berdesakan keluar, padahal baru saja dikhotbahkan tentang orang yang sabar dan mengalah lebih diberkati Tuhan. Demikian juga membuang sampah sembarangan, padahal tadi khotbahnya tentang perilaku yang berkenan kepada Tuhan: Jangan bikin susah orang lain (Mat. 7:12), harus dibersihkan. Mengapa firman yang baru saja disampaikan tidak berdampak?

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Yes. 55:10-13. Nas ini merupakan bagian dari perikop "Seruan untuk turut serta dalam keselamatan yang dari Tuhan." Pada nas sebelumnya Nabi Yesaya meminta agar umat Israel ingat panggilan dan pilihan Tuhan atas mereka sebagai saksi bagi bangsa-bangsa. Tetapi umat Israel telah melenceng jalannya dan akibatnya mereka menderita. Maka Nabi Yesaya memerintahkan, "Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!... Baiklah ia kembali kepada Tuhan, maka Dia akan menyayanginya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya" (ay. 1-9).

 

 

 

Nas berlanjut dengan janji Tuhan akan kepastian dan manfaat firman: "Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, tetapi mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tanaman, memberikan benih kepada penabur dan makanan kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia" (ay. 10-11a). Pada bagian lain Alkitab dijelaskan bahwa firman dan ibadah memiliki kuasa (Ibr. 4:12; Mzm. 33:9; 2Tim. 3:5).

 

 

 

Pertanyaannya, sesuai cerita pembuka di atas, mengapa orang yang baru saja mendengar khotbah, tidak langsung berdampak dalam sikap kesehariannya? Nah, ini ada beberapa faktor yang diperlukan agar firman tersebut memiliki kuasa dan tidak kembali dengan sia-sia. Pertama, yang mendengar mesti memiliki rasa haus dan mau datang kepada Yesus (ay. 1-2). Jika perasaan ini tidak ada, maka firman yang disampaikan hanya berupa informasi semata, tidak menjadi hikmat yang berbuahkan transformasi. Kedua, mesti ada keinginan hati berubah dan menyadari jalan yang ditempuh selama ini tidak berkenan kepada Tuhan; keinginan bertobat dan melakukan perbaikan diri (ay. 7-8).

 

 

 

Ketiga, iman yang belum bulat dan kuat. Hatinya masih mengandalkan diri sendiri dan belum sepenuhnya percaya Tuhan ikut menentukan dalam perjalanan hidupnya. Keempat, faktor pemberita firman memang ikut menentukan, seberapa baik hidupnya selama ini dikenal oleh pendengarnya. Keteladanan sangat penting, namun hal ini semestinya tidak mempengaruhi firman yang disampaikan.

 

 

 

Pesan nas minggu ini sama dengan perumpamaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus, tentang firman adalah benih dan ditabur pada berbagai jenis tanah: jatuh di pinggir jalan maka burung akan memakannya; ditabur di tanah yang berbatu-batu, maka ketika matahari datang langsung layu dan menjadi kering; benih ditabur di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Tetapi benih firman yang ditabur di tanah yang baik akan berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat (Mat. 13:3-8; Luk. 8:4-15). Kini, semua tergantung kita, bagaimana mempersiapkan diri dan kemauan untuk berubah. Doa memohon Roh Kudus dan membuka hati, sangat menentukan dampaknya terhadap hidup kita.

 

Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah (3) Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - 19 Juli 2026

 Khotbah Minggu VIII Setelah Pentakosta - Minggu 19 Juli 2026 – Opsi 3

  MITOS, MIMPI DAN TANTANGAN (Kej. 28:10–19a)

  ”Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya" 

 (Kej. 28:16b)

 

Setiap bangsa atau suku bangsa biasanya mempunyai mitos. Mitos ini sering dipakai untuk memberi motivasi kepada anak cucu tentang kehebatan leluhur mereka. Tentu hal itu baik dan sah-sah saja. Yang menjadi masalah adalah ketika mitos dijadikan tameng kebanggaan untuk mendapatkan keistimewaan, padahal tidak ada usaha maupun prestasi nyata.

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 28:10–19a. Judul perikopnya: "Mimpi Yakub di Betel." Latar belakangnya, Yakub setelah menipu Esau, abangnya, tentang hak kesulungan, akhirnya melarikan diri karena ketakutan. Dalam pelarian itulah ia bermimpi, melihat sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu. Berdirilah TUHAN di sampingnya dan berfirman: “Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya, ..., olehmu serta keturunanmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat” (ay. 12–14). Ini janji Tuhan yang merupakan pengulangan janji berkat kepada kakeknya, Abraham (Kej. 12:1–3; 15:5; 17:1–8).

 

Kita percaya umat Yahudi sangat diberkati. Mereka terbukti banyak penerima hadiah Nobel, seperti Einstein, Niels Bohr, Freud, serta menjadi orang-orang pintar dan terkaya di dunia saat ini. Lihat saja Mark Zuckerberg, Larry Ellison, Albert Bourla, Roman Abramovich, Len Blavatnik, Rochelle Walensky, dan lainnya. Inilah yang kemudian menimbulkan mitos bahwa orang Yahudi pintar-pintar. Hal ini sama seperti mitos orang Batak pintar menyanyi dan main catur, orang Padang pintar berdagang, orang Makassar pandai melaut, dan sebagainya.

 

Dalam Kamus KBBI, mitos adalah cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu yang mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa itu sendiri, yang diungkapkan dengan cara gaib. Ada aspek kebenarannya, tetapi kadang dilebihkan. Contohnya, mitos Si Raja Batak adalah manusia pertama di bumi yang keturunan dewa-dewi. Hal itu jelas tidak benar, karena sejarah umat manusia sudah ribuan tahun sebelum Raja Batak mendiami kawasan Danau Toba.

 

Melalui nas ini, kita melihat Yakub bermimpi, salah satu cara penyataan Allah memperlihatkan diri-Nya. Ada janji berkat kepadanya serta penyertaan dan tuntunan Allah (ay. 15). Mimpi itu kini terwujud dalam dua aspek, yaitu umat Yahudi masih diberkati dan keturunan Abraham melalui imannya diikuti oleh miliaran penduduk bumi.

 

Namun, kita juga perlu melihat dari sisi tantangan dan perjuangan yang mereka hadapi, bukan sekadar mitos. Perjalanan hidup Abraham dan Yakub serta tantangan imannya sangat berat. Abraham berjalan jauh dari Tanah Ur–Kasdim menuju Kanaan. Yakub harus menghadapi tantangan alam, tidur berbantalkan batu, serta perjuangan menghadapi Laban untuk memperoleh istrinya (Kej. 31:40).

 

Oleh karena itu, melalui nas ini kita memperoleh beberapa pelajaran hidup. Pertama, Allah ingin umat-Nya diberkati. Hal ini sesuai janji Tuhan Yesus, “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup ... dalam segala kelimpahan” (Yoh. 10:10). Kedua, Tuhan memberi ujian dan tantangan, baik jasmani maupun rohani, dan hanya mereka yang tangguh mampu melewatinya yang dipakai Tuhan. Bangsa Yahudi telah melewati masa penderitaan lebih panjang daripada seluruh sejarah manusia. Dari berbagai buku diketahui bahwa orang Yahudi sejak kecil dididik dengan keras dalam pelajaran dan ketaatan, yang membuat mereka unggul dalam berbagai prestasi.

 

Ketiga, dalam mengarungi kehidupan, kadang kita tersandung. Yakub menyadari kesalahannya dan berkorban berpisah dari saudara, ibu, dan ayahnya. Namun Allah setia pada janji-Nya, hadir, dan memberi tanda (ay. 16). Kini tergantung kepada kita bagaimana meresponsnya. Jangan lari, melainkan seperti Yakub yang berkata: "Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga.” Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala, mendirikannya menjadi tugu, dan menuangkan minyak di atasnya. Hal ini menunjukkan rasa hormat dan kesiapan diri.

 

Apakah kita bermimpi sesuatu dan berharap lebih diberkati saat ini? Apakah kita mendapat janji dari membaca firman-Nya? Jangan hanya percaya pada mitos, tetapi persiapkan diri dalam ketiga hal berikut: mau diberkati, tangguh, dan merespons positif atas rencana Allah. Inilah yang diminta-Nya dan semoga kita siap melakukannya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026

Khotbah Minggu VII Setelah Pentakosta - Minggu 12 Juli 2026 

 

HIDUP MENURUT DAGING DAN MENURUT ROH (Rm. 8:1-11)

Bacaan lainnya: Kej. 25:19-34; atau Yes. 55:10-13; Mzm. 119:105-112 atau Mzm. 65:1-8, 9-13; Mat. 13:1-9, 18-23

 

Pendahuluan

Pokok yang diuraikan dalam bagian Surat Roma ini adalah jalan keselamatan yang diberikan Allah untuk melepas perbudakan dosa atas manusia. Manusia tidak mampu membebaskan dirinya dari hal tersebut, termasuk untuk hidup dalam kebenaran. Hanya pertolongan Roh Kudus yang diam dan berkuasa dalam hati orang percaya yang mampu membebaskannya. Roh Kudus sebagai jaminan keselamatan orang Kristen, dalam kasih dan karunia Allah.

 

Pertama: Roh yang memerdekakan (ayat 1-2)

Setiap orang yang “merasa bersalah” namun membenci dan menyesali perbuatannya dalam suatu pengadilan pasti mengharapkan putusan hakim: "Tidak Bersalah, bebas". Keputusan bebas itu tentu bisa keluar sebab ada dasar pertimbangan-pertimbangan hakim yang meringankan. Demikian juga pengharapan kita semua tatkala nanti di akhir zaman saat pengadilan Allah dilaksanakan. Kita juga berharap kata-kata tersebut yang diberikan, sehingga kita benar-benar bebas selamat dan masuk ke dalam kehidupan kekal, bukan dalam penghukuman yang menyakitkan. Meski kenyataannya bahwa semua umat manusia seharusnya memperoleh penghukuman karena dosa-dosa yang dilakukannya, ada dasar pertimbangan Hakim Agung yaitu Yesus Kristus, iman dan penyerahan diri kita kepada-Nya, sehingga kebebasan dan keselamatan diberikan berdasarkan kasih anugerah. Itulah sebabnya kita bersyukur dan berterima kasih kepada Allah yang telah memberikan jalan penebusan dan pembebasan melalui anak-Nya Yesus Kristus.

 

Dasar pertimbangannya sangat jelas. Roh dalam kehidupan ini ada tiga wujud: roh manusia sendiri dengan segala kebutuhan jiwa dan rohani termasuk keinginan daging dan ekspresi eksistensinya. Kedua, roh jahat atau ibils dengan segala wujud dan tipu liciknya, dan ketiga, Roh Allah yang penuh kuasa dengan kasih yang besar. Roh Allah ini juga merupakan Pribadi yang ada dalam penciptaan alam semesta (Kej. 1:2) dan juga kuasa yang membuat orang percaya menjadi lahir baru, baik melalui sidi maupun pertobatan. Kuasa ini diberikan kepada kita orang percaya untuk mampu hidup seturut dengan kehendak-Nya (band. Yoh. 3:6; Kis. 1:3-5). Sementara daging yang dalam pengertian Rasul Paulus dalam nas ini lebih kepada pengertian manusia, tubuh, dengan segala keinginan dan hasratnya, pandangan dunia, yang semuanya dikendalikan oleh roh manusia tadi, namun dengan kuasa yang lemah. Bilamana keinginan daging dominan dan mengalahkan roh, maka manusia itu hidup menurut daging, yang hakekatnya dikuasai oleh tabiat dan kecenderungan dosa yang ada pada diri manusia. Kalau kita melihat daftar yang ditulis oleh Rasul Paulus dalam Gal. 5:19-21, maka daftar ini sungguh panjang, meliputi dosa seksual, dosa hati yang jahat, dosa kesombongan dan kepentingan diri sendiri, bahkan termasuk dosa mengkhianati Allah dengan penyembahan berhala. Semua perbuatan kedagingan akan lebih menonjol saat bersatu dengan roh iblis yang jahat dengan tujuan melawan Allah dan membawa manusia dalam kebinasaan bersama mereka yang sudah menjadi seteru Allah.

 

Oleh karena itu, kekuatan roh iblis dan sinergi jahatnya dengan keinginan daging, hanya dapat dikalahkan oleh Roh Allah yang Mahakuasa. Roh manusia dengan segala usaha dan jerih payahnya mungkin bisa berusaha dalam batas tertentu untuk menyenangkan Allah melalui hukum Taurat, akan tetapi godaan iblis dan keinginan daging dengan mudah mengalahkan itu semua. Akhirnya harus ada hukum lain yang bisa menyelesaikan segalanya, yakni hukum anugerah atau hukum kasih karunia. Hukum ini (disebut hukum karena pengaruh yang terus-menerus dalam tindakan) berdasar pada kebenaran dan kekudusan Allah (band. Rm. 3:31; 6:15; 7:21-22). Hukum kasih karunia dikendalikan oleh Roh Allah, yang diberikan kepada setiap orang yang mengaku Yesus adalah Anak Allah yang telah menebusnya. Tuhan Yesus telah menolongnya dan membiarkan Roh Kudus diam dan berkuasa di dalam hatinya untuk jauh dari kedagingan tadi serta melakukan hal yang sesuai dengan keinginan roh tadi (Gal. 5:16, 24). Di sini pentingnya iman dalam memperoleh Roh yang memerdekakan itu untuk mendapatkan kemenangan dan keselamatan. Oleh karena itu, ketika seseorang jatuh dikuasai oleh iblis dan bertobat, maka dasar pertimbangan Allah adalah pemberian anugerah kasih karunia itu yang membuat kita dinyatakan: “Bebas, tidak bersalah.”

 

Kedua: Allah yang menjadi manusia (ayat 3-4)

Allah mengutus anak-Nya sendiri menjadi daging dan manusia tentu dilatarbelakangi oleh hikmat dan rencana yang sangat dalam. Kalau dalam penjelasan terdahulu disebutkan bahwa inkarnasi Allah menjadi manusia sebagai konsep penebusan, maka pertimbangan lain Allah menjadi manusia adalah karena Allah ingin berbicara kepada manusia. Dengan Allah menjadi manusia maka komunikasi dan penggambaran maksud Allah terhadap manusia menjadi lebih mudah. Kita akan kesulitan berkomunikasi dengan makhluk lain, misalnya ikan, sebab keinginan baik kita berupa pemberian makanan ikan kadang ditafsirkan salah dan ikan akan melengos menjauh. Kita juga tidak tahu bagaimana mengatakan kepada ikan agar mendekat meski kita ingin memberinya makan. Akhirnya komunikasi menjadi buntu dan melelahkan. Oleh karena itu, ketika Allah ingin menyatakan kehendak-Nya kepada manusia, maka wujud inkarnasi Allah yang paling efektif adalah manusia. Allah bisa saja berwujud yang tampak lebih "hebat" atau “serba wah” seperti naga, elang rajawali, gajah, atau wujud lainnya, namun sasarannya bukanlah mereka, melainkan manusia yang berakal budi, namun berdosa dan perlu diselamatkan.

 

Hal lainnya membuat Allah berinkarnasi menjadi manusia dalam wujud Yesus, untuk membuktikan manusia Yesus juga bisa tidak berdosa. Kehidupan Yesus yang tidak berdosa sebagai manusia dalam perbuatan dan sikap digambarkan sedemikian jelas, yang diawali dari ketaatan orangtuanya pada tradisi-tradisi Yahudi, seperti melaksanakan sunat, berkunjung ke Yerusalem, bekerja, dan hal lainnya. Oleh karena itu, kalau ada yang mengatakan tradisi adalah sesuatu yang buruk, terkecuali dalam wujud sinkritisme, maka itu jelas tidak sesuai dengan kehidupan Yesus. Demikian juga kehidupan Yesus dalam mengembangkan intelektualitas-Nya yakni dengan rajin belajar tentang Taurat dan tradisi Yahudi. Hal yang paling ingin diperlihatkan melalui kehidupan Yesus adalah kerendahan hati-Nya (Flp. 2:7), sikap taat dan berserah dalam melewati pencobaan, dan puncaknya adalah pelayanan dengan kesediaan berkorban dan mengutamakan tugas misi Allah Bapa. Yesus yang dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus menggunakan seluruh hidupnya untuk pelayanan bagi kerajaan dan kemuliaan Allah Bapa yang mengutusnya.

 

Oleh karena itu dikatakan dalam bagian nas ini, apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah melalui Anak-Nya dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa. Jadi intinya, tidak ada perbedaan kedagingan Yesus yang tidak berdosa dengan kedagingan kita, dalam arti sama-sama memiliki keinginan dan kebutuhan. Di lain pihak, Allah juga ingin memperlihatkan bahwa kedagingan Yesus tetap takluk pada hukum alam kedagingan, yakni harus melewati kematian daging. Namun kita ketahui bahwa kematian daging akhirnya dikalahkan oleh Roh dengan kebangkitan Tuhan Yesus di hari yang ketiga. Semua ini jelas maksudnya, yakni supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang hidup tidak menurut daging, tetapi menurut Roh, semua akan memperoleh kemenangan di dalam kebangkitan kelak dan memperoleh upah dan mahkota yang disediakan bagi kita yang setia. Inilah maksud dan tujuan Allah menjadi manusia melalui Yesus, menjadi teladan yang sempurna bagi kita, bukan dengan maksud meniadakan hukum Taurat melainkan untuk menggenapinya (Mat. 5:17).

 

Ketiga: Memikirkan hal-hal yang dari Roh (ayat 5-8)

Firman Tuhan dalam nas ini menggolongkan secara sederhana dua tipe manusia: manusia yang didominasi oleh sifat-sifat berbuat dosa dan manusia yang dikendalikan oleh Roh Kudus. Setiap kita cenderung menjadi manusia tipe pertama sebagaimana dijelaskan dalam nas minggu lalu, yakni adanya kecenderungan untuk berbuat dosa dan kesenangan terhadap dosa, di samping adanya pandangan kesombongan yang meremehkan dosa. Manusia daging berpusat pada diri sendiri dan hanya memikirkan kepentingan kedagingan yang hakekatnya kepuasan diri sendiri. Mereka tidak merasa ada pengaruh perbuatannya kelak dan yang paling utama adalah hidupnya penuh ambisi dengan puncaknya kesenangan yang sesuka hati. Mereka menjadi seteru dengan menyepelekan penghakiman Allah sehingga sebenarnya itu merupakah langkah menuju maut dan kematian kekal. Sayangnya hukum Taurat tidak bisa melakukan apa-apa terhadap situasi ini. Hukum Taurat bukan dimaksudkan sebagai penyelamat dan hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri (Ibr. 10:1a).

 

Akan tetapi hal yang diberikan Allah melalui Yesus Kristus merupakan jalan keluar sehingga kita dapat menjadi manusia tipe kedua yakni yang dikuasai dan dipimpin Roh. Perlu ada sebuah jembatan untuk mendekatkan teladan yang sempurna dalam kedagingan Yesus dengan kedagingan kita. Pemulihan harus dilakukan dengan tatanan kuasa yang baru dan bukan lagi berdasarkan hukum Taurat melainkan dengan prinsip kasih karunia. Status baru perlu mengalami perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan menurut daging yang tadinya memikirkan hal-hal tubuh dan keduniawian kini harus diganti dengan kehidupan menurut Roh yang berpikir tentang hal-hal yang rohani dan sorgawi. Sebagaimana dikatakan juga dalam firman-Nya, bahwa “kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 4:22-24; band. Kol. 3:5-10).

 

Pada saat kita mengatakan "Ya" kepada Yesus, maka kita diberi kasih karunia dan dipenuhi dengan keinginan untuk terus mengikuti Dia, sebab kita tahu jalan-Nya adalah jalan penuh damai sejahtera dan membawa kita kepada kehidupan yang benar dan abadi. Hidup di dalam Roh berarti memahami tidak hidup menurut daging sebab keduanya tidak mungkin menjadi satu. Apabila seseorang menggemari dan bahkan mengulang-ulang dengan sadar keinginan daging yang dibenci Allah, sebenarnya ia belum hidup menurut Roh atau yang lahir baru. Ia sebenarnya masih manusia lama dan menjadi seteru Allah (Yak. 4:4). Setiap hari kita harus dengan "sadar" memilih untuk memusatkan perhatian dan tujuan hidup kita bagi kemuliaan Allah melalui Yesus. Hal itu akan menjadi efektif bila kita menyukai firman Allah dengan rajin membaca Alkitab atau renungan harian, mendapatkan petunjuk dan mengikuti dengan taat. Di dalam situasi yang kadang membingungkan dan komplek, bertanyalah pada diri sendiri: "Apa yang Yesus ingin saya lakukan?" Apakah yang saya lakukan hari ini menyenangkan hati Allah? Dengan bertanya, maka Roh Kudus akan memberi inspirasi dan petunjuk yang benar dan langkah itu yang seharusnya langsung dilakukan (Yoh. 16:13-15; 2 Tim. 3:16-17). Dengan demikian kita hidup akan lebih memikirkan hal-hal yang rohani saja dalam menjalani tujuan akhir hidup yakni masuk sorga (band. Flp. 3:10; Kol. 3:1-2).

 

Keempat: Roh yang menghidupkan (ayat 9-11)

Pernahkan kita merasa atau bertanya, apakah kita ini sudah menjadi Kristen sejati? Sesungguhnya seorang kristen sejati adalah mereka yang hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus dengan menempatkannya sebagai Raja di hatinya. Apabila kita memang percaya bahwa Yesus telah mati untuk menebus dosa kita, dan menjadikan Dia sebagai Tuan dan Tuhan, maka secara otomatis Roh Kudus akan diam di hati setiap orang yang mengaku demikian. Kita tidak akan tahu apakah Roh Kudus sudah hadir apabila kita menanti-nanti tanda-tanda atau perasaan khusus, tetapi yakinilah bahwa Roh Kudus telah hadir dan diam sebab Tuhan Yesus menjanjikan-nya. Jadi janjinya yang dipegang, bukan suasana hati atau tanda-tanda. Apabila kita menjalani kehidupan ini dengan pimpinan Roh Kudus tadi, maka kita akan memahami beberapa hal, yakni:

 

a.     bahwa Yesus adalah Anak Allah dan kehidupan kekal datang daripada-Nya (1Yoh. 5:5);

b.    kita akan berperilaku seperti Kristus (Rm. 8:5; Gal. 5:22-23);

c.     kita akan mendapatkan pertolongan dalam pergumulan hidup setiap hari (Rm. 8:26-27);

d.    kita akan dimampukan untuk melayani Allah dan melaksanakan kehendak-Nya (Kis. 1:8; Rm. 12:6 dab);

e.     kita akan menjadi bagian dari rencana Allah untuk membangun gereja dan kerajaan-Nya (Ef. 4:12-13)

 

Sebagaimana manusia yang sama dengan Adam telah berdosa, maka demikian jugalah kehendak Allah melalui Rasul Paulus menyatakan manusia harus sama dengan (manusia) Yesus yang mempersembahkan kehidupan yang sempurna  yakni dengan penyerahan diri dan pengutamaan keinginan Allah Bapa. Manusia yang telah tercemar melalui dosa Adam kini hanya bisa diselamatkan melalui kuasa Tuhan Yesus. Roh Kudus adalah janji dan jaminan Allah untuk kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada Yesus. Roh Kudus diam di hati hanya dengan dasar iman dan dengan iman ini kita hidup bersama Kristus selamanya (band. Rm. 8:23; 1Kor. 6:14; 2Kor. 4:14; 1Tes. 4:14). 

 

Penutup

Sebagai orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi, janganlah hidup menurut daging. Itu jalan menuju ke neraka, karena buahnya menghasilkan dosa dan membelenggu kita. Roh Kudus telah diberikan kepada kita dan memerdekakan kita dari belenggu tersebut dan bekerja pada orang percaya untuk menghasilkan buah-buah Roh. Semua itu terjadi karena Allah mengasihi manusia dan tidak menginginkan kebinasaan, sehingga memberikan Anak-Nya menjadi manusia sebagai tebusan bagi dosa-dosa kita. Dengan hidup menurut Roh, maka kita juga memikirkan hal-hal yang dari Roh dan semuanya itu dalam sukacita, berbeda dengan kuasa iblis dan kuasa dosa yang membawa kita kepada keadaan yang menyedihkan dan sengsara serta berujung pada maut. Hidup dalam Roh juga akan menghidupkan sebab mendapat kekuatan baru untuk mendorong kita ke arah kerajaan kekal dan bersama Tuhan dan para malaikat selama-lamanya.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan memberkati kita sekalian, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 21 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14109123
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
503
3138
7082
14075849
44919
128572
14109123

IP Anda: 216.73.216.177
2026-07-14 05:05

Login Form