2026
2026
Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga – 14 Mei 2026
Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga – 14 Mei 2026
YESUS ADALAH PENGGENAPAN PERJANJIAN LAMA (Luk. 24:44-53)
Bacaan lainnya menurut Leksionari: Kis. 1:1-11; Mzm. 47; Ef. 1:15-23
Pendahuluan
Pada hari ini kita memperingati peristiwa besar dalam kehidupan orang Kristen, yakni naiknya Tuhan Yesus ke sorga. Alkitab menceritakan bahwa saat naiknya Tuhan kita itu, ada banyak orang yang melihat dengan kasat mata bagaimana Yesus terangkat ke sorga yang merupakan kejadian luar biasa. Kesaksian itulah yang mereka tuliskan dalam kitab-kitab yang menjadi pegangan kita saat ini. Sebelum terangkat, Yesus memberi pesan-pesan penting yang sebagian kita baca sebagai nats renungan minggu ini. Dari bacaan itu kita mendapatkan beberapa hal sebagai berikut.
Pertama: Penggenapan firman dalam perjanjian lama (ayat 44-45)
Tuhan Yesus mengatakan semua yang ada tertulis tentang Dia dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur harus digenapi. Artinya, apa yang ditulis dalam kitab Perjanjian Lama (PL) yang pada saat itu sudah dikanonkan (dibukukan) digenapi di dalam Tuhan Yesus Kristus. Yesus hadir dalam kitab-kitab PL itu. Hal itu terlihat dalam nubuatan di PL tentang Tuhan Yesus, seperti kedatangan-Nya sebagai nabi (Ul. 18:15-19), penderitaan-Nya (Mzm. 22; Yes. 53), dan tentang kebangkitan-Nya (Mzm. 16:9-11; Yes. 53:10,11). Oleh karena itu, ketika kita membaca kitab PL, sebenarnya kita harus membaca dan mengerti dengan mata dan pikiran yang tertuju kepada Tuhan Yesus.
Pernyataan yang ditulis dalam 44 ini (dan ayat 43 sebelumnya) diduga tidak berupa kejadian yang berlangsung dalam sesaat, melainkan dalam beberapa hari, sebab Tuhan Yesus bersama murid-murid-Nya terlebih dahulu pergi ke Galilea dan kembali lagi sebelum Ia naik ke sorga (Mat. 28:16; Yoh. 21). Dalam kebersamaan dan percakapan itulah para murid lebih memahami apa sebenarnya yang telah terjadi pada diri Tuhan Yesus dan keberadaan-Nya dalam kaitannya dengan Perjanjian Lama, dan juga tentang maksud kedatangan-Nya ke dunia yang kemudian dituliskan dalam Perjanjian Baru (PB). Kitab PB ditulis oleh murid-murid yang rela memberikan nyawanya bagi kebenaran yang diajarkan oleh Yesus. Mereka tentu tidak akan mau mengambil resiko untuk menulis tentang Yesus jikalau mereka tidak yakin akan kebenaran dan ke-Allah-an Tuhan Yesus (band. 1Kor. 15:12-19).
Demikian juga dengan kita. Kebersamaan dengan Tuhan Yesus akan membuat kita semakin memahami apa yang telah dilakukan-Nya dalam hidup kita dan kemudian tentang rencana Allah dalam hidup kita ke depan. Pembacaan firman dan kebersamaan dengan Tuhan Yesus melalui firman-Nya yang sepintas lalu dan terpotong-potong, akan menyulitkan dalam memahami maksud dan rencana kebaikan-Nya dalam hidup kita. Sebab, untuk memperoleh pikiran yang terbuka dan pengertian Kitab Suci, itu hanya terjadi kalau beroleh pertolongan dari Allah belaka. Itulah mengapa kita harus memohon pertolongan Roh Kudus bila ingin membaca dan mengerti Firman Tuhan. Roh Kudus bekerja bagi kita hanya bila kita bertekun dan berkesinambungan untuk membuka semua itu (2Kor. 3:14-16). Pertanyaannya adalah: apakah kita pernah mengalami kesulitan dalam memahami firman Tuhan dalam kaitannya dengan hidup kita? Bagaimana kerasnya usaha kita untuk bisa memahaminya, baik melalui bertanya kepada hamba Tuhan, membaca buku-buku, dan berdoa agar Roh Kudus membuka tabir pemahaman itu, sehingga kita dapat bersuka cita karena tersibaknya dan memahami rencana Allah yang indah dalam hidup kita.
Kedua: Penderitaan dan pengampunan harus diberitakan (ayat 46-48)
Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita sebagai murid dan pengikut-Nya haruslah menjadi saksi. Nubuatan dalam Perjanjian Lama dan tulisan para murid dalam Perjanjian Baru adalah kesaksian tentang penderitaan Tuhan Yesus untuk penebusan dan pengampunan dosa-dosa kita. Perjanjian Lama mengajarkan bahwa pengampunan dosa harus dilakukan dengan membawa korban penghapus dosa atau penghapus salah. Darah hewan yang dibawa oleh umat Yahudi sebagai persembahan korban penebusan dosa kemudian dipercikkan sebagai tanda dosa mereka telah diampuni. Tetapi kini kita tidak perlu melakukan hal itu, sebab melalui penderitaan-Nya yang berat darah Yesus telah tercurah dan terpercik sebagai jalan penebusan dan pengampunan atas dosa-dosa kita. Ia telah menggantikan kita dengan membayar lunas semua hutang-hutang dosa kita.
Ini adalah sebuah revolusi cara berpikir dan tindakan tentang pengampunan. Tuhan Yesus mengatakan semua itu melalui murid-Nya untuk mereka yang berbahasa Yunani. Yesus menginginkan bahwa pesan itu tidak dibawa kepada bangsa Yahudi saja, tetapi kepada seluruh dunia, bahwa penebusan dan pengampunan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus itu berlaku bagi semua orang. Tidak hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga otang Yunani dan semua bangsa. Allah menginginkan semua orang bertobat, berhenti dan berbalik dari jalan yang salah, dan menjadi murid-Nya sehingga dapat bersekutu dengan Dia dalam sukacita yang baru.
Para murid tidak boleh memberitakan pengampunan dosa tanpa tuntutan pertobatan. Ini sangat penting. Pengampunan hanya ada kalau didahului pertobatan dan meninggalkan cara hidup yang lama. Pengkhotbah yang menawarkan keselamatan atas dasar iman yang gampang, atau menawarkan keselamatan tanpa adanya suatu penyerahan diri untuk taat kepada Kristus dan Firman-Nya, itu adalah pemberitaan injil yang palsu. Pertobatan meminta agar kita meninggalkan dosa; ini selalu merupakan unsur yang penting.
Penebusan dan pengorbanan itu juga sekaligus membawa persekutuan dan damai sejahtera yang baru. Tidak ada lagi kecurigaan dan hasutan. Tidak perlu ada lagi kekerasan dan pemaksaan agar orang perlu bertobat. Beritakan saja penderitaan Tuhan Yesus itu dan tawarkan pengampunan yang diberikan-Nya. Terus dukung dalam doa. Biarlah Roh Kudus yang bekerja apakah mereka terpanggil atau mau membuka diri untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya, dalam kehidupan kini dan kelak nanti. Semua orang hanya perlu tahu, tidak ada yang lebih besar di dunia ini dari anugerah diampuninya dosa-dosa kita dan diangkat menjadi anak-anak-Nya, serta akan hidup kekal bersama dengan Dia dalam berkat damai sejahtera sorgawi.
Ketiga: Menantikan Roh Kudus dengan setia (ayat 49, 53)
Tubuh Yesus telah terangkat dan para murid melihatnya dengan jelas. Ada dua sikap yang muncul saat itu, yakni ketidak jelasan akan apa yang terjadi dan pengharapan yang kuat akan janji Tuhan. Yesus mengatakan bahwa Penolong itu akan datang, tetapi tidak ada gambaran kapan, bagaimana, dan dimana akan datangnya. Tetapi akhinya para murid percaya janji Tuhan dan mengikuti perintah-Nya dengan memilih tinggal di kota itu untuk menantikan diperlengkapinya mereka dengan kuasa dari tempat tinggi (ayat 49; band. Yoel 2:28). Apa yang dijanjikan Bapa yakni agar "diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi", tentu menunjuk kepada pencurahan Roh Kudus yang dimulai pada hari Pentakosta. Para murid bertekun dalam doa sementara mereka menunggu penggenapan janji itu (Kis. 1:14).
Kepergian Tuhan Yesus ke sorga juga dapat dilihat merupakan perubahan cara berfikir orang Yunani, yang lebih mementingkan aspek spritual dan tidak memahami makna spiritual dari dunia realitas ini. Bagi mereka orang Yunani, hal spiritual lebih penting dan utama dari pada segala aspek fisik dan tubuh. Tetapi apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, yakni menjadi manusia dengan tubuh sejati dan sekaligus Allah sejati, merupakan penjungkir balikan atas pemahaman itu.
Ia pergi dan pekerjaan penyelamatan Yesus telah selesai dan kini Dia duduk di sebelah kanan Allah Bapa dengan penuh kuasa atas bumi dan sorga untuk menjadi hakim bagi semua orang. Bagi kita yang utama adalah seberapa besar usaha kita dalam penantian kuasa pertolongan Tuhan Yesus dalam realitas keseharian kita. Sebagai manusia biasa, kita pasti ada pergumulan dan kerinduan. Di sinilah pentingnya penantian itu sebagai wujud kesetian kita kepada-Nya. Dalam penantian itu tentu kita tidak diam berpangku atau berlipat tangan, melainkan berupaya untuk terus menerus lebih baik dan lebih berkarya bagi Dia. Untuk bisa mengetahui apakah kita sudah maksimal dalam upaya penantian dan pencarian itu, maka hidup Yesus merupakan keteladanan yang layak untuk diikuti.
Keempat: Menyembah Dia dan terus bersukacita (ayat 50-52)
Ketika Yesus naik ke sorga, tubuh-Nya adalah tubuh immortal yakni tubuh kemuliaan. Tubuh itu bisa kelihatan dan bisa tidak kelihatan. Hal yang membuat kita bersuka cita adalah Tuhan Yesus mengatakan tubuh kita saat dibangkitkan nanti dari kematian akan sama dengan tubuh kemuliaan itu (1Kor. 15:42-50). Ini memberikan gambaran bahwa nantinya ada saat tubuh kita itu bisa tampak secara kasat mata, tetapi ada kalanya tubuh kita itu nantinya tidak perlu tampak nyata, sebagaimana tubuh Tuhan Yesus ketika berbicara dengan dua murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus (Luk. 24:13-33).
Peristiwa kenaikan itu mungkin "mengherankan" dalam arti bagaimana tubuh Yesus itu terangkat naik ke sorga dan hilang dibalik awan. Janji Yesus, begitu jugalah Dia akan datang ketika saatnya nanti kita juga diangkat ke sorga bersama-sama dengan Dia. Yohanes Calvin pernah berkata, pengertian sorga janganlah diasosiasikan dengan sebuah tempat, melainkan lebih kepada suatu “keadaan”, yakni situasi yang penuh kedamaian, keindahan dan kesejahteraan. Tuhan Yesus tidak lagi bersama-sama dengan para murid dan juga kita dalam pengertian fisik, tetapi "keberadaan-Nya" dalam keadaan yang baru itu lebih memungkinkan kita semua untuk dapat bersama-sama dengan Dia. Yesus hadir dan berada "di sini dan di sana" dan dengan sabar dan setia menantikan seruan dan permohonan kita.
Hal yang penting saat ini adalah bagaimana kita mampu menjadi saksi yang baik bagi Kristus. Yesus telah menjawab dengan tidak tergoyahkan atas keraguan kita, bahwa Ia telah mengampuni dosa bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Waktu kita sangat terbatas, namun kalau memiliki keinginan dan motivasi, Roh Kudus akan memampukan kita untuk menjadi saksi dan memaksimalkan akar dan motivasi kita itu. Untuk itu kita layak untuk terus menyembah Dia dan terus ada dalam sukacita karena Ia akan memampukan perjuangan kita.
Kesimpulan
Dalam memperingati hari kenaikan Tuhan Yesus Kristus ini, melalui pembacaan dan perenungan nats yang diberikan, kita mendapatkan gambaran bahwa Yesus adalah penggenapan dari kitab Perjanjian Lama. Kita harus membaca kitab PL itu dengan pikiran yang tertuju pada Yesus Kristus. Nubuatan akan Dia ada di sana dan itu digenapkan dengan penderitaan-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Ini yang harus diberitakan dan sekaligus kita dalam penantian akan kuasa pertolongan Roh Kudus untuk memampukan kita sebagai saksi dan berkat bagi orang lain. Dalam penantian itu kita terus memuji dan menyembah-Nya sambil tetap bersuka cita akan anugerah yang sudah diberikan-Nya.
Selamat beribadah dan merayakan kenaikan-Nya ke surga.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (2) Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga – 14 Mei 2026
Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga – 14 Mei 2026 (Opsi 2)
SEGALA SESUATU TELAH DILETAKKAN DI BAWAH KAKI KRISTUS
(Ef. 1:15-23)
Bacaan lainnya: Kis. 1:1-11; Mzm. 47 atau Mzm. 93; Luk. 24:44-53
Pendahuluan
Pada minggu ini kita diberi gambaran tentang kekuasaan dan kemuliaan Kristus sebagaimana Rasul Paulus telah melihat karya nyata-Nya di dalam jemaat Efesus. Ini semua didahului oleh rasa syukur dan dukungan doa terus menerus bagi jemaat tersebut dan adanya pengharapan pada setiap panggilan-Nya. Panggilan itu datang dari Kristus Raja yang telah duduk di sebelah kanan Allah Bapa dan semua telah diletakkan di bawah kaki-Nya. Melalui bacaan minggu ini kita diberi pengajaran sebagai berikut:
Pertama: Doa syukur atas pengenalan Allah yang benar (ayat 15-17)
Bagaimana kita mengetahui tentang orang lain? Apakah dengan membaca riwayat hidup atau keterangan lain tentang dia? Tentu itu membantu informasi tentangnya, tetapi kita tetap tidak mengenali orang tersebut dengan sesungguhnya. Jika kita ingin mengetahui seseorang, kita harus menghabiskan waktu yang cukup dengan orang itu, sebab tidak ada jalan singkat. Kita orang percaya bagaikan sebuah buku terbuka yang dapat dilihat dan dibaca orang lain dengan mudah. Semua tercatat dan dapat dinilai (dan kelak oleh Kristus). Bagi mereka yang tidak suka isi buku itu meski dengan alasan yang tidak jelas, mereka tidak belajar menarik manfaat dan malah menjelek-jelekkan. Ini cara pandang yang jelas salah. Tetapi bagi mereka yang menyukai hal yang tertulis, akan bersikap bersyukur dan mengambil manfaat dari isi buku itu. Itulah pelajaran universal pada kehidupan.
Demikianlah halnya dengan Rasul Paulus. Ia tinggal di Efesus bersama jemaat selama tiga tahun dan kemudian saat ia berada di penjara ketika surat ini ditulis, ia mendapat laporan bahwa jemaat Efesus semakin bertumbuh iman mereka dengan baik dan memberikan buah kasih yang nyata (band. Kol. 1:4). Buah iman ini diwujudkan dalam bentuk dukungan mereka bagi orang-orang kudus, yakni mereka yang sudah percaya kepada Yesus tetapi membutuhkan dukungan materi dan juga pelayanan. Ini kepedulian Rasul Paulus terhadap jemaat binaannya. Sebab itu Rasul Paulus mengatakan, ia bersyukur apa yang dilihatnya, bersyukur atas apa yang telah Allah lakukan untuk jemaat Efesus tersebut. Demikian juga dengan dengan pengenalan kita akan Allah. Membaca Alkitab, belajar teologi yang bagus, atau membaca brosur-brosur yang mengesankan, semua itu tidak dapat menggantikan pengenalan dengan berjalan dalam kehidupan bersama Pribadi Allah. Alkitab, buku teologi dan brosur atau informasi apapun juga, tidak bisa menggantikan Pribadi Allah yang perlu kita kenal lebih dalam, yakni dengan cara berinteraksi dengan-Nya.
Sikap bersyukur akan lebih baik bila didukung dengan berdoa bagi pertumbuhan yang lebih baik lagi bagi mereka. Doa syafaat Rasul Paulus dalam nas ini adalah untuk kesejahteraan rohani orang percaya agar mereka lebih mengenal Allah (band. Ef. 3:16). Pengenalan pertama yang diharapkannya yakni Pribadi Allah tersebut dalam Yesus Kristus. Pengenalan Pribadi ini sangat penting untuk mengetahui hal lainnya yang terdapat dalam Pribadi tersebut. Kini pertanyaannya, bagaimana dengan kita? Apakah kita mengenal Pribadi Allah? Atau kita hanya mengetahui tentang Dia? Perbedaannya pengenalan ini terletak pada berapa banyak waktu yang kita berikan untuk bersekutu dengan Allah (band. Ayb. 42:5. Belajar tentang Yesus melalui kehidupan-Nya sebagaimana dituliskan dalam Alkitab, tentang apa yang dikatakan dan dilakukan-Nya selama tiga tahun di dunia ini sekitar 2000 tahun yang lalu, akan membuka jalan bagi kita untuk mengenal Pribadi Allah lebih dekat dan menerima berkat-berkat atau kekayaan Ilahi-Nya. Lakukanlah pengenalan awal melalui doa saat ini juga. Pengenalan yang benar tentang Tuhan Yesus pasti mengubah hidup kita selamanya.
Kedua: Pengharapan dalam panggilan-Nya (ayat 18-20a)
Doa Rasul Paulus kedua bagi jemaat Efesus yakni agar mereka mengenal panggilan Allah. Panggilan Allah dalam hal ini adalah pengharapan untuk mengikut Kristus. Pengharapan yang kita miliki bukanlah suatu perasaan yang samar-samar bahwa masa depan kita baik, melainkan suatu jaminan kemenangan pasti di dalam Allah yang hidup. Kepastian yang utuh datang pada kita melalui Roh Kudus yang bekerja di dalam hati kita. Oleh karena itu, Rasul Paulus meminta agar Tuhan membuka mata hati mereka menjadi terang, yakni tempat pusat pengolahan perasaan batin, pikiran, dan kemauan yang terang pada setiap orang percaya. Mata hati yang gelap tidak mampu melihat karya Allah bagi dunia ini dan bagi setiap insan manusia melalui sejarah dan Tuhan Yesus (2Kor. 4:6; Ibr. 6:4). Pengharapan itu sangat penting sebab pengharapan yang memberikan dorongan kepada kita untuk hidup penuh semangat dan berdaya juang (tentang pengharapan ini dapat dibaca juga pada Rm. 8:23; Ef. 4:4; Kol. 1:5; 1Tes. 1:3; 1Pet. 3:15).
Selanjutnya doa Rasul Paulus meminta agar jemaat mengenal kekayaan Allah yakni kemuliaan yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus (Flp. 1:9; Kol. 1:9-10). Dalam mengenal kekayaan tersebut, yakni janji masa depan yang indah pada akhir zaman dan kekekalan. Janji tersebut bahkan sudah berwujud sejak kita mengaku Yesus adalah Juruselamat dengan pemberian Roh Kudus di dalam hati kita yang memiliki kuasa demikian besar, khususnya berupa damai sejahtera dan kekuatan serta penghiburan dalam menjalani kehidupan ini (Rm. 5:5; 2Kor. 1:22; Gal. 4:6). Kekayaan Allah berupa hikmat dan janji itu akan digenapkan nanti dalam kemuliaan yang sudah diterima oleh Tuhan Yesus dan juga menjadi bagian orang percaya. Gambaran kemuliaan ini tidak dapat terpikirkan oleh manusia, sebagaima dalam firmam-Nya: "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia" (1Kor. 2:9).
Doa keempat atau yang terakhir untuk jemaat Efesus dari Rasul Paulus adalah agar mereka dapat mengenal kuasa Allah. Perihal kuasa ini kadang ada sebuah ironi. Dunia ini takut terhadap kekuatan bom atom, yang sebenarnya atom adalah bagian alam semesta milik dan ciptaan Allah. Sementara kuasa Allah tidak terbatas bahkan meliputi pengendalian alam raya semesta dan kuasa ini juga yang dipakai untuk membangkitkan Yesus dari kematian; kuasa kebangkitan-Nya itu juga yang diberikan pada kita sebagai ahli waris-Nya. Memang masih banyak orang takut akan kematian sebab masih berpikir itu sebagai misteri dan kegelapan, namun dengan kebangkitan yang dijanjikan dan telah terbukti pada Yesus, maka setiap orang percaya tidak perlu lagi takut sebab "kematian" itu bersifat sementara dan jalan menuju ke kehidupan kedua yakni kekekalan (band. 1Pet. 1:5). Kuasa Allah yang tak terbandingkan ini juga tersedia bagi orang percaya untuk menolong kita dalam menghadapi setiap kesulitan, sehingga tidak ada yang terlalu sulit bagi Dia.
Ketiga: Duduk di sebelah kanan Allah (ayat 20b-21)
Kuasa Allah yang kedua setelah membangkitkan Yesus adalah mendudukkan Kristus di sebelah kanan-Nya (band. Mrk. 16:19). Pengertian duduk di sebelah kanan dalam hal ini ekspresi alegoris orang Yahudi sebagai simbol kekuasaan dan bukan dalam pengertian fisik orientasi seperti Allah Bapa bersebelahan di sebelah kiri Tuhan Yesus, sebab Allah adalah Roh dan mengatasi segala tempat. Pengertian duduk memiliki dua makna: Pertama, sebagai metafora "Kepercayaan" atau "Wakil" dalam melaksanakan kuasa dan Pribadi Allah menghadapi seluruh ciptaan Allah sekaligus ungkapan kemuliaan dan penghormatan. Istilah populernya Yesus sebagai “Tangan Kanan”. Pengertian duduk di sebelah kanan ini sekaligus penguatan hal yang dinyatakan dalam kitab Perjanjian Lama, "Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu" (Mzm. 110:1). Dalam Mzm. 80:18, dituliskan "Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu". Dengan kedudukan di sebelah kanan itu maka Yesus sebagai Anak Allah menjadi Representasi Pribadi Allah yang Maha Tinggi untuk menjadi Penguasa dan Pemerintah atau Raja di dunia dan alam semesta ini.
Arti kedua duduk adalah tinggal atau bersemayam (band. Luk. 24:49 dan Ams. 20:8 yang memakai kata Yunani yang sama - kathizo). Pengertian duduk berarti Tuhan Yesus tinggal secara kekal dalam kebahagiaan Allah Bapa (band. Mzm 16:11). Dengan Yesus sudah merupakan Representasi dan tinggal bersama Allah, kita tidak perlu takut pada seorang diktator, sebuah bangsa, atau pada kematian dan bahkan pada setan. Kekuasaan Yesus tidak terbatas dan jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut. Kita tahu tentang penguasa dunia atau raja-raja seperti Nebukadnesar, Daud, Rhiza Pahlevi dan lainnya, bahkan presiden yang sangat berkuasa seperti Suharto, demikian juga dengan dinasti-dinasti di Tiongkok atau Jepang, namun semua itu tidak ada yang abadi, runtuh tidak berbekas. Kerajaan dan kekuasaan mereka tidak kekal sebagaimana kerajaan Yesus yang bertahan dan terus meluas hingga saat ini (Flp. 2:9, 10).
Kuasa Allah yang dinikmati oleh orang percaya di dunia ini tidak berhenti disini saja. Segala kuasa di surga maupun di bumi telah dilimpahkan kepada Yesus (Mat. 28:18-20). Kekuasaan manusia sebagaimana disebutkan di atas pasti berakhir. Dunia baru dengan bumi dan langit baru memerlukan pemerintahan dan kuasa yang abadi dan tidak sama dengan dunia yang kita lihat dan diami saat ini. Semua ini merupakan paket dalam perjanjian ketika kita menerima Tuhan Yesus dan menjadikan-Nya sebagai Juruselamat dan Raja dalam hidup kita. Yesus yang dihakimi di dunia 2000 tahun lalu akan menjadi Hakim yang dipilih Allah untuk mengadili yang hidup dan yang mati dan kita akan menjadi orang yang dibela dan dibenarkan sesuai dengan janji-Nya. Perjanjian telah dimeteraikan; kita hanya sesaat untuk menunggu penenuhannya. Rasul Paulus mengatakan, sebagaimana juga pada kitab Rm. 8:37-39, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Allah dan kasih-Nya.
Keempat: Segalanya diletakkan di bawah kaki-Nya (ayat 22-23)
Musuh yang paling kuat bagi manusia adalah iblis dengan segala bentuk pengikutnya. Meski dikatakan tubuh dan daging juga disebut sebagai musuh, namun banyak orang telah berhasil mengalahkan keinginan daging dan tubuh dengan cara puasa, tapa atau selibat. Namun sejak awal dikisahkan bahwa manusia dapat mudah mengalahkan keinginan tubuh, namun begitu menghadapi godaan hati, manusia sangat lemah dan mudah jatuh. Kisah Hawa yang digoda iblis dalam bentuk ular dan kemudian Adam, Kain, dan ratusan kisah manusia terbukti dikalahkan oleh iblis sehingga akhirnya jauh dari Allah. Oleh karena itu satu-satunya kuasa yang dapat mengalahkan iblis hanyalah kuasa dari Allah. Apabila manusia menghadapi iblis dengan kekuatannya maka pasti takluk, akan tetapi apabila menghadapinya bersama dengan kuasa Allah, maka pasti menang (Kol. 2:10). Pengertian bersama dengan kuasa Allah ini bukan harus dalam bentuk tengkingan, berteriak, melainkan sikap hidup sehari-hari dengan tunduk berserah dipimpin Roh Kudus dan menatap lurus ke depan tanpa tergoda ke kanan atau ke kiri (Yos. 1:7).
Dalam Mzm. 110: 1 di atas juga disebutkan, "sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu", arti yang sama dengan “meletakkan semuanya di bawah tapak kaki-Nya.” Ungkapan ini berasal dari sikap seorang Raja atau pemenang yang menempatkan kakinya di atas leher atau kepala orang yang ditaklukkannya dalam sebuah perkelahian atau pertempuran. Dengan sikap ini, artinya, segala yang mengaku kuasa dan pemerintahan, harus tunduk bertekuk lutut di bawah kuasa dan pemerintahan Kristus (Mat. 22:44; 1Kor. 15:25-27; Ibr. 2:8). Yesus adalah Mesias; Ia Yang Diurapi. Dia adalah Allah yang ditunggu umat Israel, Allah yang membangun kembali dunia mereka yang sudah hancur. Sebagai orang Kristen, kita harus percaya bahwa Allah pasti menang dalam peperangan akhir dan mengendalikan segalanya di bawah kuasa-Nya. Demikian pula dengan kuasa-kuasa kegelapan dalam bentuk tahyul, setan, sinkretisme, dan alat-alatnya semua pasti takluk dengan penguasa tertinggi alam semesta.
Setelah dibangkitkan dari kematian, kuasa diberikan pada Kristus sebagai Kepala Gereja. Yesus Kristus adalah Pendiri Gereja (Mat. 16:18) dan siapapun yang percaya adalah bagian dari tubuh-Nya. Gereja dalam hal ini bukanlah bangunan atau denominasi, melainkan setiap orang yang telah menempatkan iman mereka pada Yesus Kristus untuk keselamatan hidupnya (Yoh. 3:16; 1Kor. 12:13). Dalam keseharian, kumpulan orang ini disebut dengan gereja lokal dan kemudian menjadi sebuah gereja universal sedunia dengan Yesus sebagai Kepala. Kedudukan Kepala bukan sekedar gelar kemuliaan atau kehormatan umum tetapi mengandung arti penuh dalam kepemimpinan yang berhubungan dengan sistem, pemerintahan, dan kuasa-Nya dalam tubuh Gereja (1Kor. 11:3; Ef 4:15; 5:23; Kol 1:18; 2:10). Tubuh tidak berdaya tanpa kepala demikian pula Gereja tidak akan berdaya tanpa Kristus. Sebagai Kepala, Kristus memenuhi jemaat dan kepenuhan ini mengacu pada pemberian karunia-karunia rohani dan berkat-berkat pada gereja (band. Yoh. 1:16; 1Kor. 12:11; Ef. 3:19; 4:10). Kepenuhan Dia untuk memenuhi semua dan segala sesuatu (Ef. 3:19; 4:13), Kristus sungguh-sungguh memberdayakan dan mengarahkan gereja dan untuk itu pula gereja harus mengekspresikan sepenuhnya Kristus. Dengan demikian maka gereja menempatkan Kristus sebagai Raja yang kita peringati dan teguhkan melalui nas minggu ini.
Penutup
Doa sejati penuh dengan ucapan syukur dan dapat melihat dengan mata hati yang terang tentang karya Tuhan Yesus dalam hidupnya atau hidup orang lain serta jemaat-Nya. Doa yang lebih dalam adalah kepedulian akan sesama orang percaya untuk terus diberikan jalan pengenalan Allah yang benar, sehingga mampu berkarya melalui kuasa Roh Kudus. Roh kebenaran ini kemudian memberi hikmat untuk memahami rencana Allah dan menerapkannya demi pengharapan dalam panggilan-Nya. Yesus sebagai Raja dan pemegang otoritas memimpin dan memerintah dan Ia duduk di sebelah kanan Allah, tinggal dan berkuasa atas surga dan bumi saat ini dan dalam kekekalan. Dengan kedudukan dan kuasa itu maka segala kuasa yang ada baik yang ada di bumi dan di awan-awan dan angkasa telah diletakkan di bawah kaki Yesus yang telah menjadi Pemenang. Inilah yang menjadi doa dan pengharapan kita, agar kita sebagai anggota tubuh-Nya semakin mengenal melalui mata hati yang terang akan Allah yang benar dalam Kristus yang telah menjadi Raja, sehingga kekayaan Allah dalam hikmat dan berkat merupakan penggenapan janji nyata yang kita terima dalam pengalaman hidup sehari-hari.
Selamat beribadah dan merayakan kenaikan-Nya ke surga.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Kabar dari Bukit, Minggu 10 Mei 2026
Kabar dari Bukit
KASIH YANG TERBESAR (Yoh. 15:9-17)
"Inilah perintah-Ku kepadamu: Hendaklah kamu saling mengasihi." (Yoh. 15:17)
Saya menyukai kata “Kasih” dalam bahasa Indonesia. Menurut KBBI, kasih (nomina/kata benda) memiliki arti perasaan sayang, cinta, atau suka kepada seseorang. Selain itu, "kasih" juga dapat berarti memberi (dalam konteks percakapan/verba). Dalam Webster Dictionary juga dijelaskan Loved (kasih) diartikan sebagai peduli. Jadi kasih hakekatnya adalah memberi. Kasih berarti memberi pengorbanan untuk kepentingan dan kebahagiaan orang lain.
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu VI Paskah yang berbahagia ini adalah Yoh. 15:9-17. Ini lanjutan dari nas populer yakni Yesus adalah pokok anggur yang benar (ay. 1-8), dan kita adalah carang-carangnya. Jika tidak menyatu dengan pokoknya, maka carang akan kering dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Nas minggu ini adalah lanjutannya, mengutarakan selain berbuah juga supaya kita saling mengasihi.
Apa dasar kita supaya saling mengasihi? Menurut nas minggu ini, yang pertama "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikian juga Aku telah mengasihi kamu” (ay. 9). Secara paralel Yesus membuktikan, tinggal di dalam kasih-Nya berarti, “seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (ay. 10). Kasih yang mengalir dan menurun.
Hubungan Bapa dengan Yesus inilah yang dijadikan model teladan bagi kita. Pengertian tinggal berarti hidup menetap, melekat seperti carang kepada batang, hidup dalam hubungan yang berkelanjutan. Kita perlu memahami bahwa ketaatan bukan syarat supaya Tuhan mulai mengasihi kita, melainkan bukti bahwa kita sungguh hidup dalam kasih-Nya. Kasih yang sejati menghasilkan ketaatan, dan ketaatan yang benar lahir dari kasih.
Kedua, kasih yang mengalir ini akan membawa dampak dalam hidup kita, yakni kita akan hidup dalam sukacita penuh (ay. 11). Sukacita ini berasal dari hubungan erat dengan Kristus, hidup dalam kehendak-Nya dan memiliki hati yang selaras dengan rencana-Nya. Ini tidak tergantung situasi atau keadaan, melainkan hubungan yang menyatu yakni tinggal dan bertumbuh dalam Dia.
Ketiga, kita diminta mengasihi dengan standar yang tinggi. Tadi dijelaskan bahwa kasih itu adalah memberi. Oleh karenanya Yesus menyebutkan, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (ay. 13). Ini pengorbanan tertinggi. Namun tidak semua situasi menghendaki seperti itu, kadang bisa dengan standar yang lebih rendah, seperti mengutamakan orang lain (Flp. 2:3-4), mengampuni (Mat. 18:21-22; Kol. 3:13), melayani (Gal. 5:13; 1Pet. 4:10-11) dan tetap setia sampai mati meski kita diancam dan disakiti (Why. 2:10; 2Tim. 4:7-8).
Hidup berkorban bagi orang lain adalah bukti kita mengasihi yang menjadikan kita sahabat Tuhan Yesus (ay. 14-15). Kita tidak lagi hamba yang melakukan karena “keharusan” tetapi karena “kesadaran” bahwa mengasihi itu lebih baik dan produktif. Kita ingat firman Tuhan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima (Kis 20:35).
Bagian terakhir nas minggu ini menyebutkan bahwa Yesus mengasihi kita karena Ia telah memilih kita, dengan bertujuan supaya pergi dan menghasilkan buah dan buahnya itu tetap (ay. 16a). Kita diminta menjadi duta-duta Kristus dengan menebar kasih. Melalui kasih kepada sesama, maka kita akan diberi keistimewaan, “supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu” (ay. 16b).
Inilah dasar dari perintah-Nya yakni agar kita saling mengasihi (ay. 17). Sebagaimana dinyatakan pada 1Kor. 13:13, “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, tetapi yang paling besar di antaranya ialah kasih.” Teruslah berkarya dalam kasih.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah (3) Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga – 14 Mei 2026
Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga – 14 Mei 2026 (Opsi 3)
HADIR DAN BERMAKNA (Mzm. 47:1-10)
Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala (Mzm. 47:6)
Firman Tuhan bagi kita di hari perayaan kenaikan Tuhan Yesus, diambil dari Mzm. 47:1-9. Judul perikopnya: Allah, Raja seluruh bumi. Pengertian raja di zaman dahulu sangat berbeda dengan raja di masa kini. Kita tahu masih banyak negara-negara di dunia memiliki raja, namun secara umum fungsi dan kekuasaannya lebih kepada seremoni, simbol dari masa lalu. Memang masih ada yang memiliki hak-hak khusus di beberapa negara seperti Thailand, Monaco dan lainnya, termasuk di wilayah Afrika yang masih sama dengan raja zaman dahulu.
Pengertian raja di masa Mazmur ini ditulis sangat berbeda. Kewenangannya penuh dan mutlak, sepanjang dalam wilayah yang dikuasainya. Ia bebas menarik pajak, mengangkat para panglima dan pejabat, memilih istri dan selir hingga ribuan, bahkan hidup mati seseorang meski tanpa alasan yang jelas. Raja terbesar di masa PL adalah Daud, kemudian diikuti oleh Salomo, dan beberapa lainnya yang takut kepada Tuhan, seperti Uzia atau Azaeya, Omri, Yerobeam II, Hizkia, Yosia, Yosafat dan lainnya.
Raja umumnya diperoleh dari warisan keturunan. Tetapi banyak kisah di Alkitab raja dinobatkan karena kepahlawanannya, dan juga perlawanannya bagi kekuasaan yang zolim dan jahat terhadap rakyat. Rakyat pun menerima dan mengakuinya. Tindakan penobatan biasanya dilakukan dengan pengurapan oleh para ahli agama, sebagai simbol restu dari Allah, meski pada akhirnya semua kembali kepada manusianya. Kita tahu kisah Daud yang telah diurapi nabi Samuel, tetap menunggu hingga Saul meninggal bunuh diri.
Nas minggu ini menyebutkan tentang model raja yang dipuja oleh rakyat Israel. Ia mampu menaklukkan bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa, memilih tanah pusaka sebagai tanah kebanggaan leluhur dan rakyatnya (ayat 4-5). Bagi umat Israel, mereka dapat melihat Allah Abraham, Isak dan Yakub memang TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi. Oleh karena itu layak untuk mengajak dan berkata: Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai! (ayat 2-3).
Allah di dalam Yesus adalah Allah yang sama dengan Allah Israel. Allah Anak dan Bapa adalah Satu bersama Roh Kudus. Alkitab bercerita tentang Yesus yang lahir bukan dari benih laki-laki. Ia diurapi dan diteguhkan oleh Allah Bapa saat dibaptis Yohanes, dan saat dimuliakan di atas gunung (Mat. 3:17; 17:5). Kuasa-Nya dahsyat dengan berbagai mukjizat termasuk membangkitkan orang mati, dalam arti pemberi kehidupan. Ia diteguhkan menjadi Raja langsung oleh Allah Bapa, bukan oleh nabi-nabi.
Pelayanan Tuhan Yesus hanya 3,5 tahun di dunia. Tetapi hal yang dilakukan-Nya sungguh luar biasa. Tidak bisa kita mengatakan itu terjadi karena Dia Tuhan dan Anak Allah. Yesus juga manusia yang sama seperti kita. Banyak hal yang dapat kita teladani dari hidupnya, bukan dari kuasa-Nya. Ia selalu taat pada Bapa/perintah. Ia selalu rendah hati. Ia rajin berdoa. Hatinya penuh belas kasihan. Selalu mengutamakan orang lain dan bukan diri-Nya. Semua hal itu tidak ada hubungannya dengan kuasa Allah. Tetapi semua masih merupakan natur manusia yang kita juga mestinya mampu melakukannya, meski kadang tidak sempurna.
Hal lainnya yang kita lihat dari Tuhan Yesus, kerajaan yang dibangun-Nya adalah kerajaan rohani, bukan kerajaan dunia. Sebesar dan sekuat apapun Raja Daud di masanya, tetap terbatas wilayah dan masanya. Tetapi Yesus membangun Kerajaan Allah bagi seluruh dunia dan abadi. Nama Yesus tidak akan pernah hilang dari muka bumi. Untuk itu kita layak berseru bagi DIA: “Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah, bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! Sebab Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! (ayat 7-8).
Melalui Mazmur minggu ini, nubuat dan peneguhan tentang Yesus terlaksana. “Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan diiringi bunyi sangkakala” (ayat 6). Alkitab mengatakan Yesus telah naik kembali ke sorga dan hari ini kita peringati dan rayakan. Ia kini memerintah sebagai Raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus (ayat 9). Mari kita teladani hidup-Nya dengan hadir di tengah-tengah komunitas, keluarga, masyarakat dengan selalu memberi makna. Kehadiran kita memberi warna dalam arti menjadi berkat bagi sesama. Dengan begitu Tuhan Yesus akan senang dan nama-Nya semakin dimuliakan (ayat 10).
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026
Khotbah Minggu VI Paskah 2026 – 10 Mei 2026
SIAP SEDIALAH MEMBERI PERTANGGUNGJAWABAN (1Pet. 3:13-22)
Bacaan lainnya: Kis. 17:22-31; Mzm. 66:8-20; Yoh. 14:15-21
Pendahuluan
Rasul Petrus melalui nas minggu ini menekankan kembali kerelaan Kristus untuk menderita bagi kita yang berdosa, dan kemenangan-Nya menjadi dasar dan kekuatan bagi orang Kristen yang menderita bagi-Nya. Kita diselamatkan untuk menerima panggilan tugas dengan meninggalkan semua keinginan nafsu jahat dan melakukan perbuatan baik. Ada banyak dasar yang membuat manusia berdosa, akan tetapi penderitaan karena Kristus dan kebenaran-Nya sangat menyenangkan bagi Allah, terlebih melalui hati nurani yang murni. Melalui nas minggu ini kita juga diberikan pengajaran tentang kesiapan dalam memberi pertanggungjawaban baik kepada Allah maupun sesama manusia. Pokok pemikiran dan teladannya sebagai berikut.
Pertama: Menderita karena kebenaran (ayat 12-15a)
Ada peribahasa Indonesia yang cukup dikenal mengatakan, “Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih.” Makna dari peribahasa ini adalah: nasib buruk tidak dapat dihindari, akan tetapi nasib baik juga tak dapat dicari-cari. Kehidupan yang ada di depan kita semua adalah rahasia Tuhan; kemalangan atau keuntungan bisa datang secara tidak terduga tanpa disangka-sangka. Istilah kemalangan dan penderitaan bisa sama, tetapi juga bisa berbeda, yakni kemalangan sering diasosiasikan dengan penderitaan yang tidak seharusnya dia tanggung. Kita tahu bahwa penderitaan dalam hal ini bisa berasal dari tiga sumber: Pertama, memang itu sudah menjadi bagian dari kemanusiaan kita (human nature), bahwa kita bisa lelah, ngantuk, lapar dan haus, sakit bahkan renta karena faktor usia. Kedua, penderitaan oleh karena perbuatan atau ulah kita sendiri. Seseorang yang boros, pengaturan keuangan lebih besar pasak dari tiang, maka suatu saat ia pasti menderita karena hutang. Seseorang yang tidak banyak beraktivitas fisik atau berolah-raga tetapi makan banyak dengan cara tidak sehat, maka janganlah heran suatu saat ia akan sakit jantung atau stroke. Semua itu ada sebab akibat, ada kausalitasnya, bahkan kadang muncul casus belli atau pemicu sehingga proses penderitaan itu terjadi lebih cepat.
Orang percaya diminta berbuat kebaikan dan hal itu jangan dianggap sebagai beban. Nas minggu ini mengatakan kalau kita berbuat baik maka sangat jauh kemungkinan ada yang mau berbuat jahat kepada kita. Kebaikan biasanya berbuah kebaikan. Pohon yang baik akan berbuah yang baik. Tetapi faktor ketiga yang menjadi kemungkinan lain dari dua hal di atas, bisa saja penderitaan itu datang karena niat baik yang dijalankan secara salah, sehingga timbul salah pengertian, akibatnya muncul pertentangan dan bahkan kekerasan yang berakhir dengan penderitaan. Dari tiga hal di atas, dapat dikatakan bahwa penyebab semua itu adalah manusia sendiri, bukan karena kehendak Allah. Adapun faktor keempat yang dinyatakan dalam nas ini adalah ketika kita menjalankan perintah Kristus dalam kehidupan kekristenan kita, dan ternyata datang penderitaan, maka itu adalah kehendak Allah (1Pet. 2:19, 20; 4:16). Hal demikian bisa datang ketika kita memberitakan Injil dengan cara yang bijak, mempertahankan iman dan prinsip kebenaran kita sehingga mendapat pengucilan karena tidak mau berkomplot berbuat kejahatan, atau adanya kejadian yang tidak terduga tanpa sebab-musabab yang jelas timbul penderitaan. Itu semua adalah misteri dan hikmat Allah. Allah berkehendak. Firman dalam nas ini mengatakan, yang penting janganlah kita menjadi takut dan gentar, sebab semua dalam kendali Allah dan Ia tidak akan membiarkan kita menjalaninya sendirian dan berputus asa. Kita ingat saja perkataan Kristus, "Janganlah kamu khawatir akan apa yang harus kamu katakan, tetapi katakanlah apa yang dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga, sebab bukan kamu yang berkata-kata melainkan Roh Kudus" (Mrk. 13:11). Oleh karena itu, dalam menghadapi penderitaan itu, tetaplah bersandar pada-Nya.
Hal yang utama ditekankan adalah kita harus tetap menguduskan diri dalam pengertian berusaha hidup dalam kebenaran dan jauh dari niat dan perbuatan jahat. Pengudusan itu dimulai dari hati sebab dari hatilah semua bermula. Dengan hidup kudus maka kita memberi apresiasi dan sikap hormat pada Kristus Yesus sebagai Tuhan, “yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik” (Tit. 2:14). Kita memelihara kehadiran Roh Kudus dalam hati, menjaga hati tidak tercemar. Banyak orang Kristen berpendapat bahwa iman adalah hal personal dan merupakan urusan pribadi masing-masing. Kenyataannya tidak seperti itu. Kita dipanggil untuk memberitakan iman dan pengharapan kita dalam hidup ini. Pertanyaannya: apakah orang lain dapat melihat pengharapan kita dalam Kristus? Bagaimana kita memperlihatkan iman, kasih dan pengharapan itu? Apakah kita siap dalam menceritakan yang dilakukan oleh Kristus dalam kehidupan kita? Kita adalah saksi nyata bagi Kristus dan yang menuntun orang lain kepada-Nya. Orang lain menaruh pengharapan pada kita, melihat diri kita sebagai cermin atau Alkitab yang terbuka bagi mereka.
Kedua: Karya dan teladan Kristus (ayat 15b-18a)
Sebagai duta Kristus dan buku yang terbuka, kita harus siap sedia pada segala waktu untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban dari kita tentang pengharapan pada Kristus. Semua itu dalam sikap atas anugerah yang telah diberikan dan panggilan yang dipercayakan pada kita untuk memberitakan Injil dan memuliakan nama-Nya (2Ti. 4:17). Memang benar bahwa dalam membagikan iman dan kasih, kita tidak perlu secara heboh bombastis pencitraan atau ingin dipuji, atau bahkan dengan cara menjengkelkan, atau bersikap sombong. Akan tetapi, kita harus selalu siap dalam memberi jawaban dengan lembut dan penuh kasih, ketika orang lain melihat dan bertanya tentang iman kita, pengharapan dan kehidupan kita, atau visi kehidupan kristiani kita. Jadi, pertanggungjawaban dalam hal ini bukan hanya kepada Allah saja, tetapi juga kepada sesama kita di dunia, sehingga jangan sampai hal yang kita imani dan katakan ternyata tidak sama dengan sikap dan perbuatan kita (band. Kol. 4:6). Artinya, kita NATO (No Action Talk Only), tidak memiliki integritas, yakni satunya perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu yang harus kita perlihatkan adalah sikap hormat dengan hati yang tulus murni. Sikap itu membuat orang lebih mudah percaya pada Kristus. Jangan sampai orang mencemoh apalagi membenci kita yang seharusnya menjadi teladan bagi mereka.
Tentu, dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin tidak dapat menghindari ketika orang lain memfitnah diri kita. Akan tetapi setidaknya kita dapat menghentikan memberi orang lain kesempatan dan amunisi-amunisi peluru untuk menyerang diri kita, melalui tindakan kita yang konyol dan tidak layak. Kita harus memegang prinsip, sepanjang kita melakukan hal dan cara yang benar, tuduhan-tuduhan mereka akan kosong tidak berguna. Kita ingat ketika Tuhan Yesus melalui hidupnya yang saleh, tetap mendapatkan penderitaan. Akan tetapi semua itu akhirnya mempermalukan diri mereka sendiri sebagaimana nas minggu ini menjelaskan. Oleh karena itulah, jauhkan diri kita dari sikap yang mengundang kritik atau cela. Kalau pun kita menderita karena Kristus dan kebenaran, penderitaan itu pasti atas seizin Allah untuk maksud dan rencana yang baik, dan itu lebih baik, sebab bukan karena buah perbuatan jahat atau tindakan yang memalukan Kristus dalam hidup kita.
Dengan mengikut teladan Kristus dan menjadikan Dia sebagai idola (role model), maka kita memberi jalan masuk bagi orang lain menuju Allah Bapa. Kita nyatakan dengan perbuatan bahwa Ia telah menebus kita dengan tersalib di Golgota dan itu menjadi pengganti diri kita yang layak mati karena dosa dan kejahatan kita. Kita juga dapat memperlihatkan Kristus yang memperoleh anugerah Allah Bapa dengan dibangkitkan. Allah Bapa menjanjikan kemenangan pada Kristus sama seperti janji-Nya kepada kita yang ikut menang kalau setia mengikut Dia. Kita lihat teladan Stafanus yang mati dilempari batu oleh orang-orang yang membenci Kristus, tetapi ketika ia hendak mati, rohnya melihat Yesus Kristus berdiri di sebelah kanan Allah Bapa, menyambutnya. Sungguh merupakan kebanggan bagi kita orang percaya agar bisa sama dengan Stefanus (Kis. 7:54-60). Stefanus membuat Tuhan Yesus sebagai teladan dan sumber kekuatannya. Ia sadar dan ingat Yesus telah menderita baginya. Dalam kerangka itulah, penderitaan yang demikian bukanlah hukuman dari Allah, melainkan sebuah kesempatan pengorbanan yang diperkenankan oleh Allah untuk memurnikan iman umat yang dikasihi-Nya (band. 1Pet. 1:7-9; Kis. 23:1).
Ketiga: Pemberitaan Injil ke dunia orang mati (ayat 18b-20)
Kita tahu bahwa Yesus mati dibunuh dan dibangkitkan pada hari yang ketiga. Akan tetapi ayat 19 pada nas ini menyebutkan kalau Yesus "di dalam Roh Ia memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara." Ini kalimat yang susah dipahami. Ahli-ahli teologi sendiri memiliki pendapat yang beragam tentang hal ini. Penafsiran tradisional mengatakan bahwa pemberitaan Injil dilakukan Yesus setelah mati disalibkan, yakni pada masa antara tiga hari sebelum kebangkitan-Nya, Ia turun ke dunia orang mati dan memberitakan kasih karunia kepada roh-roh yang dipenjara di dunia orang mati. Hal ini dimungkinkan sebab meski tubuh-Nya mati, Roh Kristus itu tetap hidup dan berkuasa dalam melakukan pemberitaan penebusan bagi mereka yang terlebih dahulu mati (band. Mat. 27:52, Ibr. 11:39 dst.; Ib.r 12:23). Ini sejalan juga dengan 1Pet. 4:6 yang menyatakan Injil diberitakan kepada orang-orang mati. Memang dalam hal ini ada beberapa pertanyaan: kepada siapa Kristus memberitakan keselamatan di dunia orang mati itu? Apakah mereka yang belum selamat dan mendapatkan kasih anugerah Allah? Atau kepada mereka yang setia pada Allah yang mati pada zaman Perjanjian Lama, yakni orang-orang benar yang menanti-nantikan keselamatan melalui Mesias yaitu Yesus sendiri.
Penafsiran lain khususnya ayat 20 mengatakan bahwa Roh Yesus khusus pergi memberitakan kepada mereka yang tertawan dalam dosa (atau ada di neraka) pada zaman Nuh. Pada saat itu yang diselamatkan hanya delapan orang saja (Kej. 8:1-dab), untuk itu Allah tetap menanti dengan sabar. Tafsiran lainnya ialah bahwa Kristus oleh Roh Kudus memberitakan suatu peringatan melalui mulut Nuh (band. 2Pet. 2:5) kepada angkatan Nuh yang tidak taat, dan kini berada di Hades menantikan penghakiman terakhir. Penafsiran ini lebih sesuai dengan pernyataan Rasul Petrus bahwa Roh Kristus berbicara di masa lalu melalui para nabi termasuk Nuh (2Pet. 1:20-21). Sementara yang lain mengatakan bahwa Kristus pergi ke dunia alam maut (Hades) untuk menyatakan kemenangan-Nya sebagai sebuah proklamasi secara umum, pemberitaan dan pengumuman, dan menyatakan penghukuman final kepada para malaikat-malaikat yang jatuh dihukum sejak masa Nuh (2Pet. 2:4). Jadi bisa dikatakan bahwa semua pemberitaan itu merupakan kesempatan kedua yang belum sempat mendengar penebusan Kristus sebagai anugerah khusus Allah, di mana Yesus memberitakan kepada mereka kemenangan-Nya atas kematian dan Iblis (ayat 1Pet. 3:22). Namun, beberapa penafsir mengatakan bahwa nas ini lebih baik ditafsirkan sesuai dengan konteks kebenaran yang ada pada seluruh Alkitab saja.
Mengingat rumitnya penafsiran itu dan sesuai anjuran terakhir, ada baiknya nas ini ditafsirkan sebagai bukti yang memperlihatkan bahwa Kabar Baik keselamatan dan kemenangan Kristus itu tidak terbatas. Kabar baik itu melampaui dunia orang hidup dan dunia orang mati. Melalui nas ini kita menemukan poin penting, yakni:
(1) Allah berbicara. Kita tidak perlu berteka-teki atas apa, di mana, dan bagaimana, namun kita dapat melihat bahwa Allah berbicara kepada dunia orang hidup dan dunia orang mati (band. 1Pet. 4:6).
(2) Allah menang. Kemenangan Kristus diwartakan, memperlihatkan kuasa-Nya, pengendalian-Nya, dan penguasaan-Nya atas seluruh ciptaan.
(3) Allah menyelamatkan. Allah berusaha untuk menyelamatkan mereka yang berharap kepada-Nya.
Misteri firman ini menceritakan kepada kita, dan itu lebih dari cukup sebagai bagian dari keyakinan (syahadat) iman, yang menjadi isi pengakuan iman Rasuli dengan kalimat, "yang turun ke dalam kerajaan maut", dan saat ini duduk di sebelah kanan Allah Bapa (1Pet. 3:22) untuk menantikan penghakiman bagi orang yang hidup dan yang mati ( 1Pet. 4:5; Ibr. 9:27).
Keempat: Diselamatkan oleh hati nurani yang baik (ayat 21-22)
Rasul Petrus menuliskan bahwa penyelamatan Nuh oleh air (bah) adalah simbol dari pembaptisan. Maka bagi kita orang percaya, pengertiannya adalah bahwa melalui baptisan air kita ungkapan pertobatan dan komitmen hidup baru, sekaligus iman kita bersandar kepada Kristus yang kita jadikan sebagai Juruselamat dan gembala hidup kita. Baptisan sebagai kiasan atau simbol, di dalamnya kita mengidentifikasi Yesus Kristus yang menarik kita dari kondisi sesat dan terhilang dan memberi kita hidup dan hubungan baru. Kesaksian iman pada saat kita dibaptis itulah yang mendatangkan keselamatan dari Kristus, jadi bukan ritualnya atau airnya yang menyelamatkan. Kehadiran air sesungguhnya hanya simbol dari iman kita bahwa Kristus telah mati dan bangkit dan ritualnya sama: dicelupkan dan diangkat. Dengan demikian, baptisan adalah sebagai simbol pembersihan hati orang-orang percaya dan jelas bukan pembersihan tubuh jasmani (Rm. 6:3-5; Gal. 3:27; Kol. 2:12).
Melalui pengakuan dan baptisan, kita juga memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah, yang secara pribadi kita sudah ditahirkan oleh kebangkitan Yesus Kristus (zaman dahulu baptisan sering dilayankan pada masa Paskah), untuk menyerahkan hidup kita seluruhnya dalam kendali-Nya. Penyerahan diri dalam hal ini adalah kerjasama ikhlas sukarela satu sama lain: pertama, kasih dan rasa hormat bagi Allah; dan kedua, kasih dan rasa hormat kepada sesama. Penyerahan diri atau rasa takluk dalam hal ini memiliki empat dimensi: (1) Bersifat fungsional, yakni membedakan peran dan panggilan tugas. (2) Bersifat hubungan, yakni pengakuan kasih terhadap yang lain sebagai pribadi (3) Bersifat timbal balik, yakni memperlihatkan saling menguntungkan dan kerjasama dengan kerendahan hati satu sama lain. (4) Bersifat universal, yakni pengakuan oleh gereja atas ketuhanan dari Yesus Kristus. Inilah hal utama yang membawa orang percaya kepada Kristus, dan karena itu pula penyerahan diri bagi orang yang tidak percaya menjadi hal yang sulit.
Dalam hal penyerahan diri, kita tidak dipanggil untuk mengkompromikan hubungan dengan orang yang tidak percaya, yang membuat kita berkompromi atas hubungan kita dengan Kristus. Melalui kebangkitan-Nya yang saat ini duduk bertakhta di sebelah kanan Allah Bapa, setelah Tuhan Yesus naik ke sorga dan segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan-Nya (Mat. 28:18; Mrk. 16:19). Ia melewati kemenangan atas penderitaan dan kematian, dan itu merupakan sumber kekuatan bagi keselamatan kita, sekaligus menjadi teladan yang harus kita ikuti. Oleh karena itu, kita perlu membuka segala kesempatan untuk melayani-Nya dengan rendah hati atas pertolongan kuasa Roh Kudus. Kerelaan berkorban bagi orang-orang yang tidak benar, meski harus menerima penderitaan, itu adalah sikap yang menyenangkan Allah. Kesediaan berkorban dan menderita adalah ciri dan karakteristik orang percaya. Kita tidak perlu takut sebab tidak ada yang bisa mengubah kemenangan dan memisahkan kita dari Kristus (Rm. 8:38-39). Dengan mengidentifikasikan diri kita dengan Kristus (termasuk melalui baptisan), ini menjaga diri kita dari pencobaan untuk meninggalkan iman, dan kita yang menerima firman Allah melalui surat Rasul Petrus, semakin dikuatkan dan tidak murtad meski dalam tekanan penderitaan. Inilah tujuan yang semuanya berdasar pada hati nurani yang baik.
Penutup
Melalui bacaan minggu ini kembali kita sebagai orang percaya ditegaskan bahwa ada kalanya kita menderita karena kebenaran Kristus, meski kita juga harus waspada atas penderitaan yang disebabkan oleh kebodohan kita sendiri. Prinsip utamanya, berkelakuan baik akan berbuah baik dan jangan menganggap itu sebagai beban. Untuk itu kita harus melihat dan bersandar pada karya dan teladan Kristus yang bersedia mati untuk membela orang-orang yang tidak benar. Penderitaan demi kebenaran Kristus adalah jalan kemenangan. Yesus dengan segala kuasa-Nya terbukti mengasihi semua orang, baik yang hidup dan yang mati. Pada saat kematian-Nya, Ia turun ke dalam kerajaan maut untuk memberitaan Injil ke dunia orang mati agar tidak seorang pun yang binasa. Inilah gunanya kita memandang kepada Kristus. Dengan baptisan sebagai peneguhan dan komitmen, kita diselamatkan oleh hati nurani yang baik dari Yesus Kristus melalui Roh Kudus, untuk siap setiap saat mempertanggungjawabkan iman kita kepada-Nya.
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga – 14 Mei 2026Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga – 14 Mei 2026 YESUS...Read More...
-
Khotbah (2) Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga – 14 Mei 2026Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus ke Surga – 14 Mei 2026 (Opsi 2) SEGALA...Read More...
-
Khotbah (3) Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga – 14 Mei 2026Khotbah Kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga – 14 Mei 2026 (Opsi 3) HADIR...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 25 guests and no members online
