Monday, October 05, 2026

Khotbah (2) Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026

Khotbah Minggu XX Setelah Pentakosta – 11 Oktober 2026 (Opsi 2)

  TAHAN UJI DAN PENGHARAPAN (Kel. 32:1–14)

  ”Dan menyesallah  TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya” (Kel. 32:14)

Seseorang kadang dapat kehilangan pengharapan, dan hal itu wajar. Pengharapan memiliki dua bentuk: yang direncanakan dan sengaja, serta yang muncul dari watak, yang mudah rapuh dan berubah. Karena itu, pengharapan memerlukan motivasi yang kuat. Menurut Moltmann dalam bukunya Theology of Hope: On the Ground and the Implications of a Christian Eschatology, pengharapan perlu diletakkan pada perspektif eskatologis, yaitu hal-hal yang bersifat surgawi.

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah Kel. 32:1–14. Ini kisah umat Israel dalam perjalanan pulang ke Kanaan. Mereka tidak sabar menanti Musa yang naik ke gunung bertemu dengan Allah dan tidak mengetahui kabar dari beliau. Karena itu, mereka mendesak Harun agar membuat allah dari anak lembu emas yang akan memimpin perjalanan selanjutnya. Harun terpengaruh, setuju, dan meminta umat mengumpulkan anting-anting emas untuk dijadikan tuangan anak lembu emas (ay. 1–4).

Umat Israel kemudian menyembah patung emas itu, mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, makan, dan minum bersukaria. Allah mengetahui hal ini, lalu meminta Musa segera turun dan berpesan akan menghukum serta membinasakan mereka, menyatakan murka-Nya (ay. 6, 10).

Namun Musa mencoba melunakkan hati Tuhan, beralasan bahwa Tuhan telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, mengapa kini menimpakan malapetaka dengan membunuh mereka? Musa juga mengingatkan janji Tuhan kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, serta janji kepada dirinya sendiri. Lalu Tuhan menyesal atas malapetaka yang direncanakan bagi umat-Nya (ay. 11–14).

Dari nas ini, kita memperoleh beberapa pengajaran penting. Pertama, manusia memiliki daya tahan terbatas dalam menghadapi permasalahan dan pergumulannya. Namun solusi tetap harus dihadapi dan tidak lari. Ketika menurut akal pikiran tidak mampu, kembali kepada iman. Hidup kita tidak berjalan sendiri, sebab ada Allah yang Mahabaik menyertai. Kepada-Nya kita berserah dengan berlandaskan iman dan pengharapan. Jangan berpaling kepada allah lain, karena hal itu sia-sia.

Ahli psikologi menyatakan bahwa seseorang dapat mengatasi kesulitan jika mengubah pola pikir, misalnya dengan memecah persoalan menjadi bagian kecil atau belajar dari pengalaman orang lain. Kesabaran dunia ada batasnya dan bisa hilang. Kesabaran dalam pengharapan tidak terbatas, sebab seperti kata Moltmann, “segala sesuatu bukanlah akhir.” Pengharapan adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa (Ibr. 6:19).

Kedua, Allah tidak memandang sepele jika diduakan. Ini poin penting dalam Sepuluh Perintah Allah yang menghukum keras orang yang menyembah illah lain hingga keturunan ketiga dan keempat. Allah kita cemburu; tidak boleh ada Allah lain, termasuk mengagungkan pikiran, uang, kuasa, harga diri, keinginan daging, atau bentuk lainnya.

Ketiga, melalui hamba-Nya Musa, Allah bersikap kasih dan Mahaadil; ada ruang dialog dan penjelasan, intinya memohon pengampunan. Tuhan bisa marah dan berniat menghukum, tetapi ketika ada permohonan ampun dan penjelasan yang kuat, seperti menunjukkan pertobatan, siap menjadi manusia baru, dan melayani, Allah dapat mengubah keputusan-Nya (ay. 14). Kita juga mengingat Raja Hizkia yang meminta umurnya diperpanjang, dan Tuhan mengabulkannya (2Raj. 20:1–7).

Terakhir, ada janji Allah bagi mereka yang setia. Janji pemeliharaan dan berkat-Nya berlaku juga bagi anak cucu kita. Musa menyampaikan janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub, bahkan kepada dirinya sendiri. Janji inilah yang menjadi pertimbangan Allah untuk tidak menghukum, sepanjang ada pertobatan dan hidup sebagai manusia baru.

Nah, bagaimana dengan kita? Mari belajar dari keempat pengajaran tersebut. Tetaplah setia, sebab pengharapan surgawi tersedia bagi kita dan anak cucu kita. Inilah indahnya buah ketekunan dalam pergumulan, tahan uji, dan pengharapan yang tidak mengecewakan (Rm. 5:3–5). Haleluya.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 74 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14611711
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
1414
4831
13171
14554997
32004
149364
14611711

IP Anda: 216.73.217.20
2026-10-06 05:14

Login Form