Khotbah (3) Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026
Khotbah Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026 - Opsi 3
JODOH DAN TUHAN (Kej. 24:34–67)
”Dan mereka memberkati Ribka, kata mereka kepadanya: "Saudara kami, moga–moga engkau menjadi beribu–ribu laksa" (Kej. 24:60a)
Kisah perjalanan hidup Abraham, Ishak, Yakub, hingga Yusuf dijual ke Mesir rasanya masih melekat di kepala saya sejak guru sekolah minggu menceritakannya. Kisah ini menarik dan penuh petualangan, dengan berbagai kisah cinta serta dinamika kehidupan. Bagaikan sinetron berseri, setiap minggu kita penasaran dengan kelanjutannya, membuat sekolah minggu menjadi kegiatan yang dinanti-nantikan.
Firman Tuhan hari Minggu yang berbahagia ini adalah Kej. 24:34–67. Ini menceritakan Abraham mencari istri untuk Ishak, anaknya. Sara baru meninggal. Seperti orang Batak zaman dahulu, orang Israel lebih mengutamakan mencari istri dari kerabatnya. Abraham pun mengutus hambanya, Eliezer, untuk mencari pasangan bagi Ishak, dengan sumpah agar tidak melenceng dari petunjuk Tuhan.
Setelah menempuh perjalanan jauh, Eliezer merasa kehausan dan menemukan sumur. Ia kemudian meminta tanda dari Tuhan dan berdoa: “Apabila seorang gadis datang ke luar untuk menimba air dan aku berkata kepadanya: Tolong berikan aku minum air sedikit dari buyungmu itu, dan ia menjawab: Minumlah, dan untuk unta–untamu juga akan kutimba air, – dialah kiranya isteri yang telah TUHAN tentukan bagi anak tuanku itu” (ay. 43–44).
Seorang gadis, Ribka, memenuhi tanda tersebut. Ribka pun menjadi pilihan Eliezer setelah diajak bermalam di rumah ayahnya, Betuel. Keluarga Ribka tidak menolak dan mempercayai petunjuk Tuhan. Maka Eliezer memberi perhiasan emas dan perak serta pakaian kebesaran sebagai mahar, lalu membawa Ribka pulang (ay. 53–59). Ishak dan Ribka menikah dan memperoleh anak, salah satunya adalah Yakub. Keturunan Yakub ada 12 orang yang menjadi induk suku bangsa Israel.
Pernikahan adalah lembaga pertama yang dibentuk Allah, sesuai firman-Nya, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang SEPADAN dengan dia” (Kej. 1:18). Allah juga memberi perintah agar manusia beranak cucu dan memenuhi bumi (Kej. 1:28; 9:1). Menjadi seorang penolong, kita percaya jodoh ada di tangan Tuhan, apakah berdasarkan dorongan daging dan godaan iblis, bertumbuh karena cinta yang kuat seperti maut dengan nyala api (Kid. 8:6–7), atau melalui perjodohan keluarga sebagaimana nas ini.
Ajaran Kristiani menjaga perkawinan dengan mulia: “Keduanya itu menjadi satu daging.... mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia” (Mat. 19:5b–6). Dalam perkawinan memang kadang ada masalah, tetapi dalam kasih dan iman kita percaya masalah selalu dapat diselesaikan, lambat atau cepat, semuanya soal kesabaran dan menghilangkan ego.
Bagaimana dengan mereka yang tidak menikah? Alkitab berkata, “Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga" (Mat. 19:12).
Jadi ada tiga penyebab seseorang tidak menikah. Pertama, lahir demikian dari rahim ibunya, misalnya karena keterbatasan fisik atau genetik, seperti hormon yang mengarah kepada orientasi berbeda. Kedua, karena dijadikan demikian oleh orang lain, misalnya akibat patah hati, trauma dari keluarga, atau pengalaman masa lalu.
Faktor ketiga adalah orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri. Ini panggilan hidup seperti Rasul Paulus, dan Alkitab membenarkannya: “Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya, dan melayani Tuhan tanpa gangguan” (1Kor. 7:32, 35).
Selain itu, ilmu sosial menyebut faktor lain, seperti mengejar karir, ingin hidup mandiri, tidak prioritas, dan sebagainya. Namun jika seseorang tidak menikah, perlu refleksi diri. Jangan karena ego dan kekhawatiran berlebihan, seperti takut cerai, tidak sanggup membangun keluarga, atau kesombongan dengan standar tinggi dalam mencari pasangan. Semua ini hanyalah alasan manusia, bukan dari Tuhan. Semoga kita dan anak-anak kita memahaminya. “Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti” (Mat. 19:12b).
Selamat beribadah dan selamat melayani.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.
Berita Terbaru
Khotbah
-
Khotbah Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026Khotbah Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026 PERJUANGAN...Read More...
-
Khotbah (2) Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026Khotbah Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026 – Opsi...Read More...
-
Khotbah (3) Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026Khotbah Minggu VI Setelah Pentakosta - Minggu 5 Juli 2026 - Opsi...Read More...
- 1
- 2
- 3
- 4
Renungan
-
Khotbah Utube Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1Membalas Kebaikan Tuhan Bagian 1 Khotbah di RPK https://www.youtube.com/watch?v=WDjALZ3h3Wg Radio...Read More...
-
Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015 Badan Pengurus Sinode Gereja Kristen...Read More...
-
Khotbah Minggu 19 Oktober 2014Khotbah Minggu 19 Oktober 2014 Minggu XIX Setelah Pentakosta INJIL...Read More...
- 1
Pengunjung Online
We have 32 guests and no members online
