Monday, May 25, 2026

Khotbah (2) Minggu Trinitas – 31 Mei 2026

 Khotbah Minggu Trinitas – 31 Mei 2026 – Opsi 2

 

 AMANAT KEHIDUPAN (Mat. 28:16–20)

 

 “Kamu harus lulus dari ITB! Meski harus kuliah puluhan tahun, saya siap membiayai, sebab itulah tujuanmu ke Bandung” (Ayahku, Abel Kaswol Sihaloho)

 

 

Itulah amanat ayah saya ketika berkunjung ke penjara saat saya ditahan karena melawan pemerintahan Soeharto pada awal tahun 1978. Saat itu saya baru tingkat dua, perjalanan kuliah masih panjang, bahkan belum jelas berapa lama saya akan dipenjara. Namun puji Tuhan, setelah dua tahun hilang waktu kuliah (setahun dipenjara dan setahun mengikuti pengadilan), saya fokus dan lebih serius belajar, lalu lulus dengan baik dari ITB. Amanat itu tuntas. Ayah dan ibu hadir saat wisuda, dan saya melihat betapa bahagianya mereka.

 

Firman Tuhan di Minggu Trinitas hari ini, Mat. 28:16–20, kita kenal sebagai perintah untuk memberitakan Injil atau Amanat Agung Tuhan Yesus. Kita pasti pernah mendapat amanat: dari orang tua, atasan di kantor, keluarga, bahkan teman. Orang yang berpikir positif dan punya daya juang biasanya senang menerima amanat karena itu tanda kepercayaan, dan ia dianggap mampu melaksanakannya. Orang yang bertanggung jawab akan menyelesaikan amanat sampai tuntas dan merasakan kepuasan. Sebaliknya, mereka yang tidak bertanggung jawab cenderung mengerjakannya setengah hati. Bila tidak selesai, tidak merasa bersalah. Mereka mudah menyusun alasan atau mencari kambing hitam. Tidak becus, itulah istilahnya.

 

Ketika kita menjadi pengikut dan murid Kristus serta mengakui-Nya sebagai Juruselamat pribadi, Penebus dosa-dosa kita, dan Pemimpin serta Junjungan kita, maka sesungguhnya kita telah menjadi bagian dari diri-Nya: menyatu. "Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku..." (Gal. 2:20a).

 

Karena itu, untuk Amanat Agung Tuhan Yesus, marilah kita berusaha menyelesaikannya sesuai talenta dan kemampuan yang ada. Amanat-Nya jelas: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku..." (ay. 19a). Menjadikan segala bangsa murid berarti memberitakan Injil kepada mereka yang belum menerima Yesus Kristus.

 

Kongres Penginjilan Sedunia di Lausanne tahun 1974 menetapkan bahwa penginjilan berarti menyebarkan Kabar Baik. Penginjilan bukan khotbah di mimbar gereja pada hari Minggu, melainkan memberitakan ke luar gereja. Bentuknya dapat berupa diakonia yang hadir memberi bantuan kasih kepada mereka yang sedang dalam kesusahan. Ada juga marturia, yaitu proklamasi dan persuasi melalui penginjil atau evangelis yang diutus.

 

Apakah kita sudah mengambil bagian? Melalui doa, pikiran, tenaga, waktu, atau uang, apakah kita telah turut terlibat dalam penginjilan ke luar gereja? Perintah-Nya jelas: setiap orang harus mengambil bagian dalam amanat dan misi itu. Kita tidak bisa lari atau berkelit. Tidak boleh pula ragu-ragu, seperti sebagian murid saat itu (ay. 17), sehingga Tuhan Yesus perlu menegaskan, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi" (ay. 18b).

 

Alangkah sedih bila kelak Tuhan Yesus berkata kepada kita, "Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku..." (Mat. 7:23; 25:41). Kesempatan masih ada. Ikutlah, agar Tuhan Yesus bersukacita, seperti ayah saya yang berbahagia melihat saya diwisuda. Finish well. Mission completed.

 

Selamat beribadah dan selamat melayani.

 

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 16 guests and no members online

Statistik Pengunjung

13916480
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
2125
3470
5595
13881759
111967
154006
13916480

IP Anda: 216.73.217.10
2026-05-25 16:20

Login Form