Monday, September 21, 2026

Khotbah (3) Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026

Khotbah Minggu XVIII Setelah Pentakosta – 27 September 2026 – Opsi 3

  PERBAHARUILAH HATIMU (Yeh. 18:1–4; 25–32)

  ”Oleh karena itu Aku akan menghukum kamu masing–masing menurut tindakannya” (Yeh. 18:30a)

Ada tiga pertanyaan besar bagi orang percaya terkait dosa. Pertama, apa konsekuensi perbuatan dosa terhadap hidup kita di dunia ini maupun pasca kematian? Alkitab menegaskan, upah dosa adalah maut (Rm. 6:23). Tapi, apakah ada konsekuensi lain selain maut?

Kedua, mengenai dosa turunan atau dosa asal: apakah kesalahan orangtua atau leluhur selalu ditimpakan pada anak cucunya?

Ketiga, apakah penderitaan seseorang di dunia otomatis akibat dosa-dosanya sendiri?

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu berbahagia ini adalah Yehezkiel 18:1–4; 25–32. Nas ini menjawab sindiran umat Israel yang merasa Tuhan berlaku tidak adil: “Ayah–ayah makan buah mentah dan gigi anak–anaknya menjadi ngilu?” (ay. 2). Mereka merasa dihukum karena dosa leluhur mereka.

Yehezkiel kemudian menjelaskan bahwa hal itu tidak benar. Jika seseorang berusaha berbuat benar, taat, dan menuruti perintah Tuhan, maka ia akan hidup dan tidak dihukum. Sebaliknya, jika anaknya berperilaku buruk, tidak bertobat, maka ia akan menanggung akibat perbuatannya sendiri. Namun jika cucu seseorang menyadari perbuatan leluhurnya tidak baik, berbalik dan berbuat benar, maka ia akan hidup (ay. 4–24, 26–28).

Dengan kata lain, setiap manusia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Memang ada dosa asal (Kel. 20:5; Ul. 5:9; Mzm. 51:7), tapi ini lebih pada “kecenderungan” yang diwariskan. Jika anak menyadari dan bertobat, Tuhan tidak akan menimpakan hukuman kepadanya (ay. 19–21). Yehezkiel menekankan, hukuman terjadi karena dosa sendiri, meski dipengaruhi oleh dosa leluhur.

Demikian pula penderitaan atau kekurangan berkat seseorang bisa terjadi karena beberapa hal: pertama, dosa bawaan dari leluhur yang tidak diputus; kedua, akibat perbuatan sendiri; ketiga, Allah mengizinkan penderitaan sebagai bentuk pendisiplinan agar lebih taat dan dekat kepada-Nya, bukan sebagai hukuman langsung. Contohnya, Ayub diuji bukan karena dosanya, tapi untuk menguji kesetiaannya (Ayub 1:1–12).

Sebaliknya, orang yang tampak “diberkati” di dunia tidak otomatis taat atau tidak berdosa. Allah Mahaadil dan Mahatahu; Ia membalas sesuai keadilan-Nya (Yer. 23:2; Yeh. 7:3–4). Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya (Mrk. 4:22; Rm. 2:16), dan setiap jiwa adalah milik Tuhan (ay. 4).

Dalam era Perjanjian Baru, prinsip “apa yang ditabur, itu yang akan dituai” berlaku (Gal. 6:7). Jangan mudah menghakimi, tapi pahami bahwa setiap dosa memiliki konsekuensi. Dosa yang dilakukan dengan sengaja jelas menuntut penghakiman (Ibr. 10:26–27a; Bil. 15:30) karena itu tanda ketidaktaatan.

Pesan penutup nas ini: “Bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, ... dan perbaharuilah hatimu dan rohmu!” (ay. 30–31). Yesus setia menanti keinsafan dan penyesalan kita.

Selamat beribadah dan selamat melayani.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 25 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14531626
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
960
3588
7615
14491759
101283
229218
14531626

IP Anda: 216.73.217.94
2026-09-22 05:13

Login Form