Monday, July 06, 2026

Kabar dari Bukit, Minggu 28 Juni 2026

Kabar dari Bukit

 

 HIDUP DALAM KEBENARAN DAN KASIH (Rm. 6:12-23)

 

 ”Buah apakah yang kamu petik waktu itu, yang menyebabkan kamu merasa malu sekarang? Kesudahan semua itu ialah kematian” (Rm. 6:21, TB2)

 

Selamat hari Minggu.

 

Dalam dua renungan minggu-minggu lalu telah diterangkan tentang “Menjadi Harta Kesayangan Tuhan” (Kel. 19:2-8a) dan “Menjadi Satu Dengan Kematian Kristus” (Rm. 6:1b-11). Kedua pesan nas tersebut berkaitan dari Allah bagi umat Israel (dan kita) melalui Nabi Musa, agar sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan dan berpegang pada perjanjian dengan-Nya sehingga kita menjadi harta kesayangan-Nya dari antara segala bangsa. "Kamu akan menjadi kerajaan imam dan bangsa yang kudus bagi-Ku" (Kel. 19:5-6).

 

 

 

Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Rm. 6:12-23; ini merupakan kelanjutan nas minggu lalu, yang menjelaskan konsekuensi praktis kemerdekaan kita. "Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran" (ay. 18). "Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi sekarang hidup" (ay. 13).

 

 

 

Untuk itu kita perlu memeriksa anggota tubuh mana yang selama ini menjadi alat sumber dosa? Apakah mulut (berkata kotor atau dusta), tangan dan kaki (suka kekerasan), mata (suka melirik yang tidak perlu), atau lainnya? Maka beri perhatian dan kendalikan. Jadikan "tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah" (Rm. 12:1). Tentu semua dari hati dan pikiran dan itu adalah pilihan dan keputusan.

 

 

 

Kedua, tegas dan teguh dalam memilih antara menjadi hamba dosa yang memimpin kepada kedurhakaan dan kematian, atau kita hamba kebenaran yang membawa kepada pengudusan (ay. 16, 19). Ini pilihan yang didasari kesadaran, pemahaman, latihan dan pengendalian. Ketika kuasa dosa sudah dipatahkan, kita tidak otomatis bebas dari godaan yang kembali menjerat. Untuk itu tetap harus sadar, waspada dan memilih setiap hari untuk tidak menuruti keinginan daging, dunia dan persuasi iblis, seolah dampak dosa itu tidak bahaya. Ingat ketika iblis/ular menggoda Hawa (Kej. 3:1-6).

 

 

Dosa dengan segala bentuk dan daya tariknya, tidak lagi memiliki hak dan kuasa atas diri kita, karena kita telah berada di bawah kasih karunia. Jadikan Tuhan sebagai Pemilik dan Pemimpin, hidup dalam kebenaran mengikuti firman-Nya dengan selalu memohon tuntunan Roh Kudus dalam perjalanan hidup kita.

 

 

Ketiga, jadikan kasih sebagai prinsip dan nilai dasar hidup. Sadari dan renungkan bahwa Allah melalui Tuhan Yesus telah mati tersalib bagi kita oleh karena kasih-Nya. Perintahnya juga jelas agar kita hidup dalam kasih (Yoh. 13:34; 1Pet. 4:8). Ini salah satu cara mengubah kita yang terbiasa dengan (perbuatan) dosa, dapat memampukan fokus dalam hidup, yang secara otomatis mengalihkan energi dan kendali kita untuk menyenangkan Allah, bukan memuaskan diri kita sendiri.

 

 

Terakhir, renungkan ayat pembuka: buah apakah yang kamu petik dari berbuat dosa? "Kesudahan semuanya itu ialah kematian” (ay. 21). Tetapi, pegang dan pahami betul kesimpulan nas minggu ini, "Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita" (ay. 23). Hidup kekal bukanlah upah dari usaha kita, melainkan karunia gratis dari Allah melalui Yesus Kristus yang mengasihi kita.

 

Selamat beribadah dan bersekutu dengan sesama.

 

Tuhan Yesus memberkati, amin.

 

Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.

 

 

Khotbah

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Renungan

Pengunjung Online

We have 15 guests and no members online

Statistik Pengunjung

14084402
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Keseluruhan
58
2731
8553
14049929
20198
128572
14084402

IP Anda: 216.73.217.50
2026-07-07 00:52

Login Form