Kabar dari Bukit
TELADAN DAN MENTOR SORGAWI (Flp. 3:17-4:1)
”Sebab, kewargaan kita terdapat di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat” (Flp. 3:20 TB2)*
Penulis dan pemikir kepemimpinan John C. Maxwell mengatakan dalam bukunya "The 21 Irrefutable Laws of Leadership" bahwa “meneladani orang lain yang sukses adalah cara untuk menjadi sukses sendiri.” Stephen Covey dalam bukunya yang populer "The 7 Habits of Highly Effective People" juga mengatakan bahwa “meneladani orang lain yang efektif adalah cara untuk menjadi efektif sendiri.”
Firman Tuhan bagi kita di hari Minggu yang berbahagia ini adalah Flp. 3:17-4:1. Judul perikopnya “Nasihat-nasihat kepada jemaat”; menyangkut pentingnya mengikuti teladan yang baik dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Ada banyak yang memberi contoh buruk bahkan hidup dengan topeng namun dibaliknya penuh bopeng.
Tujuan hidup kita adalah menjadi serupa dengan Kristus (1Yoh. 2:6; Flp. 2:5-8; Ef. 5:2). Rasul Paulus menjelaskan hal itu tidak mudah. Ada banyak yang “hidup sebagai seteru salib Kristus. Ilah mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi.” Namun, “kesudahan mereka ialah kebinasaan” (ay. 18-19).
Nas minggu ini mengingatkan, kita orang percaya adalah warga sorgawi; kewargaan kita adalah ganda: KTP dunia dan KTP sorga. Arah hidup kita dalam iman yakni menantikan kedatangan Tuhan Yesus (ay. 20). Oleh karena itu, janganlah sampai hidup kita penuh cacat saat kedatangan-Nya kembali atau saat ajal menyambut kita dipanggil terlebih dahulu. Orang percaya harus berdiri teguh, jangan tergoda dan terbawa kehidupan dunia yang tidak berkenan kepada Tuhan (ay. 4:1).
Nasihat minggu ini menekankan pentingnya memiliki teladan atau panutan. Selain Kristus yang kita jadikan panutan utama, nas ini juga memberi nasihat untuk menjadikan Rasul Paulus sebagai teladan (ay. 17a). Maksud Paulus bukan untuk menyaingi Kristus, namun meneladani hidupnya sebagai seorang Kristen yang taat dan setia kepada Yesus Kristus, seperti dituliskannya pada bagian lain: "Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus" (1Kor. 11:1).
Rasul Paulus juga mengatakan perlu meneladani orang lain yang hidupnya sama seperti dia (ay. 17b). Mereka bisa kita dapatkan dari lingkungan kita. Panutan hidup kita pilih dengan selektip, misalnya: orangtua, guru, pendeta jemaat, sahabat dekat, pemimpin atau tokoh inspiratif dari buku-buku. Melalui kehidupan mereka, kita belajar menerapkan cara yang sesuai dengan pribadi dan situasi untuk mengembangkan karakter diri, mengasah keterampilan dan pengetahuan, mendapatkan inspirasi dan motivasi sehingga hidup kita mendekati serupa dengan mereka dan bahkan lebih baik lagi.
Untuk itu perlu langkah-langkah yang dilakukan, yakni mempelajari kehidupan mereka melalui pengamatan, melalui buku atau informasi lainnya. Tentu tidak mungkin semua hidupnya kita teladani; dipilih yang relevan saja, seperti kerja kerasnya, gaya kepemimpinannya, penanganan masalah, cara berbicara, sikap mengasihi, berdoa, dan lainnya. Itu pun tidak hanya di simpan di kepala, perlu dibuat rencana aksi untuk menerapkannya dalam hidup kita, serta dilakukan evaluasi. Kadang, perlu bertanya kepada ahli yang kita pilih sebagai mentor, sebab hidup dan persoalan tidak selalu hitam putih. Mengandalkan pikiran sendiri dapat salah arah.
Tidak ada kata terlambat untuk memilih teladan hidup saat ini dan mencari mentor rohani kita. Dan kita pun dapat sebagai teladan bagi orang lain.
Selamat hari Minggu dan selamat beribadah.
Tuhan Yesus memberkati, amin.
Pdt. (Em.) Ir. Ramles Manampang Silalahi, D.Min.